Universitas Padjadjaran

Rehabilitasi Penyandang Cacat Bersumberdaya Masyarakat Wujud Peran Aktif Masyarakat

Oleh: admin kesos
December 23, 2011

Pemahaman tentang kesamaan hak para penyandang disabilitas (penyandang cacat) untuk mendapatkan ruang yang sama di dalam masyarakat perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. Saat ini mereka masih luput dari tujuan pembangunan karena keterbatasan mereka untuk andil didalamnya. Salah satu pendekatan yang mungkin bisa dilakukan untuk membantu penanganan permasalahan penyandang cacat adalah melalui Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM).

Para narasumber dalam seminar bertema “Social Protection for Difable” di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35, Bandung (20/12). (Foto: Tedi Yusup)*

Berkaitan dengan hal itu, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad melalui Mata Kuliah Seminar Profesi Pekerjaan Sosial berinisiatif mengadakan Seminar Nasional Profesi Pekerjaan Sosial dengan bertemakanSocial Protection for Difable di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35, Bandung (20/12). Acara tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa jurusan Kesejahteraan Sosial dari seluruh Indonesia dan juga para penyandang cacat sebagai undangan.

Hadir menyampaikan keynote speech Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Tati Iriani, dan Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Siti Masnun. Sedangkan sebagai pembicara seminar yaitu Ketua Umum Tim RBM Kota Bandung, Nani Dada Rosada, juga Dwi Ariani dari organisasi Handicap Internasional, Basyir dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Markus dari Lembaga penyalur tenaga kerja bagi penyandang cacat (Precious One), serta dua orang mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial, FISIP Unpad, Reza Ramadhan Fauzan dan Caesarika Fouranty Gurnay.

Pembantu Dekan Bidang akademik (PD I) FISIP Unpad, Dr. Sony Akhmad Nulhaqim, S.Sos., M.Si, yang hadir mendampingi mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari salah satu mata kuliah yang diberikan di kelas kepada mahasiswa semester tujuh Jurusan Kesejahteraan Sosial. Tema Social Protection for Difable diambil karena bertepatan dengan perayaan Hari Penyandang Cacat Internasional pada tanggal 3 Desember lalu.

Hal ini juga dilatarbelakangi dengan meningkatnya penyandang cacat di Indonesia. Tati menyebutkan, terhitung lebih dari 1,5 juta penyandang cacat pada tahun 2011 tapi hanya 10% dari jumlah itu yang bisa ditangani oleh pemerintah. Pemerintah dibantu oleh organisasi sosial seperti panti sosial, yayasan, balai besar atau melalui pengelolaan berbasis masyarakat untuk menangani permasalahan tersebut.

“Jika hanya pemerintah yang melakukan, sampai kapan pun tidak akan pernah tertangani. Yang menjadi fokus kami sekarang adalah penguatan sekitar 47 organisasi sosial di Jawa Barat untuk membantu pemerintah menangani masalah ini,” ujarnya.

Seperti yang telah dilakukan oleh pusat RBM Kota Bandung, sebuah program pembinaan wilayah dalam hal pencegahan disabilitas, deteksi dan rehabilitasi penyandang disabilitas yang meliputi rehabilitasi pendidikan, kesehatan, sosial dan keterampilan. Program ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan sebagai perlindungan bagi penyandang disabilitas. Program ini menyandarkan kekuatannya pada peran aktif dari masyarakat.

“Semua pihak memiliki peran yang penting dalam membantu dan memotivasi para penyandang disabilitas, dan RBM Kota Bandung yang telah berjalan 25 tahun ini adalah sebagai upaya perlindungan bagi mereka,” kata Nani. *

Laporan oleh: Malikkul Shaleh |  |  | eh*

Category: Berita Kesos, Info dari Dosen | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • JURUSAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ================================ VISI: Menjadi Pengelola Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang Mengembangkan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Berbasis Kewirausahaan Sosial dan Memiliki Keunggulan Kompetitif MISI: 1. Bidang Pendidikan: Mengembangkan dan melaksanakan Kurikulum Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang berbasis kompetensi, antisipatif terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat dan teknologi global. Menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar (PBM) bagi mahasiswa dengan terus mengembangkan metode dan media yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan kurikulum pendidikan yang dikembangkan. Meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan. Mengembangkan jiwa “social enterpreneur” mahasiswa, baik melalui kegiatan kurikuler (praktikum) maupun ekstrakurikuler (kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa dan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan), untuk membentuk mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan mandiri, dengan tetap berpijak pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etika pekerjaan sosial. 2. Bidang Penelitian Melakukan kegiatan penelitian untuk menunjang proses belajar mengajar dan pengabdian kepada masyarakat melalui upaya membangun dan mengembangkan Laboratorium Kesejahteraan Sosial. 3. Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Mengembangkan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Laboratorium Kompetensi Kesejahteraan Sosial sebagai wahana pembelajaran sivitas akademika.