Universitas Padjadjaran

PENDEKATAN SISTEM DALAM PRAKTIK PEKERJAAN SOSIAL

Oleh: santoso tri raharjo
August 5, 2010

I.  Pendahuluan

Sebagai profesi yang muda tetapi terus berkembang, pekerjaan sosial telah mengembangkan model alternatif praktek untuk meningkatkan efektivitas para praktisi. Sejumlah pendapat telah dikemukakan dalam rangka mencari metode dan prosedur baru yang muncul dari ketidakpuasan yang dirasakan oleh para pekerja sosial tentang imej dan keahlian mereka. Pencarian untuk mencari model yang efektif juga meliputi ketidakpuasan yang muncul dari sejumlah praktisi psikososial yang kecewa terhadap kemampuan aplikatif psikologi Freudian.

Sebagaimana pelaksanaannya, analisis sistem pada pokoknya adalah suatu teknik untuk menganalisis tahapan permasalahan secara menyeluruh dan lengkap. Seperti halnya, suatu teknik organisasional dan penyidikan, dan karenanya secara potensial menyediakan suatu metode praktek bagi seluruh pekerja sosial untuk memakainya, sepantasnyalah dilakukan penelitian lanjutan. Sistem analisis ini bukan berarti akan menyelesaikan seluruh atau sebagian besar permasalahan profesi, tetapi akan membantu dalam perencanaan dan pengorganisasian suatu kasus, dan dengan demikian secara potensial akan memberikan pelayanan yang lebih baik terhadap klien. Selanjutnya ditambahkan, sistem ini secara nyata memberikan suatu model tahap demi tahap mengenai penerapan keterampilan, dan dengan demikian seharusnya meningkatkan imej masyarakat secara positif tentang pekerjaan sosial. Dengan model ini pekerja sosial dapat mendemonstrasikan pemakaian suatu pendekatan pemecahan masalah profesional dengan alasannya : (a) menilai kebutuhan-kebutuhan klien, (b) menentukan tujuan (setting goals), (c) mempertimbangkan secara hati-hati beragam strategi intervensi, (d) memilih dan mengimplementasikan strategi yang layak dan praktis, dan mengevaluasi hasil dari strategi yang diterapkan.

Tulisan ini akan mulai dengan mengahantarkan pembaca kepada pemahaman umum yang melatarbelakangi penggunaan analisis sistem, dan kemudian membicarakan bagaimana analisis sistem dapat digunakan oleh para pekerja sosial dalam prakteknya. Sebuah perbincangan mengenai pendekatan Pincuss and Minahan (1973) juga akan diperlihatkan, juga contoh-contoh kasus yang menggambarkan penggunaan analisis sistem.

II. Pemahaman Sistem Secara Umum

Banyak teori sistem diperoleh dari literatur bisnis-manajemen (Clealand and King, 1972; Wright and Tate, 1973). Upaya-upaya baru tentang efisiensi biaya, teknik manajemen baru, dan era komputer turut membantu perkembangan teori sistem dan analisis sistem kedalam bidang kerja itu sendiri. Banyak bentuk-bentuk bisnis, khususnya bidang konsultasi, sekarang mempekerjakan orang-orang yang menyebut diri mereka ahli analisis sistem. Fungsi mereka adalah melihat hubungan diantara divisi-divisi dalam perusahaan atau organisasi dalam rangka memperoleh mekanisme yang paling efisien bagi komunikasi, manajemen, perencanaan, dan pengembangan. Banyak dari analisis ini saat sekarang terdiri dari pembuatan pola dan pemakaian program-program komputer berpengalaman dengan menekankan pada prosesing dan analisis data tentang kesaling-keterkaitan. Belakangan aspek tersebut, analisis tentang hubungan, yang menggunakan analisis sistem berguna pula pada bidang kegiatan lain. Bidang profesi pekerjaan sosial. Konsep dasarnya adalah bahwa keterkaitan diantara bagian-bagian dari sistem atau organisasi adalah esensial untuk memahami suatu bentuk atau efentivitas dari sistem. Konsep ini dapat diterapkan dalam pandangan perusahaan, keluarga, organisasi informal, sekelompok orang, atau juga klien perorangan yang perlu berhubungan dengan sejumlah sistem lainnya. Banyak pengalaman para praktisi pekerjaan sosial menyatakan bahwa tidak ada klien yang dapat beraktivitas dalam kekosongan (kesendirian). Sekarang ini bukan waktunya bagi kita untuk mempertanyakan bagaimana kepribadian atau struktur sosial banyak berperpengaruh terhadap perilaku (Parson, 1958), kenyataannya adalah bahwa banyak sistem yang berada dalam setiap kehidupan seseorang, sistem merupakan elemen penting dalam rangka sejumlah analisis treatment atau rencana intervensi. Meski begitu dimungkinkan untuk mengubah beberapa sistem tersebut, sehingga dengan demikian dalam kasus rencana treatment secara perorangan akan lebih praktis, berguna, dan seminimal mungkin mengurangi gangguan dalam kehidupan seseorang.

Sebelum menampilkan model sistem Pincuss dan Minahan (1973), beberapa konsep kunci tentang teori sistem secara umum pertama-tama akan dikemukakan kepada pembaca sebagai sebuah pespektif.

Menurut Hearn (1979. p.335), suatu sistem adalah

a set of objects together with relationship between the object and between their attributes. There are conceptuals systems —the mathematical type; there are real systems, the kinds of living ang nonliving systems that can be observed; and there are abtracted systems, classes of bevavior and relationships that can be inferred about real systems.

Kunci umum konsep teori sistem adalah wholeness, relationship, dan homeostasis. Konsep wholeness berarti bahwa objek-objek atau elemen-elemen yang terdapar di dalamnya adalah suatu penghasil sistem yang lebih besar daripada penjumlahan dari bagian-bagian yang terpisah. Teori sistem adalah antireduksi yang menunjukkan bahwa tidak ada suatu sistem yang benar-benar dapat dipahami atau secara sekaligus keseluruhan menjelaskan secara rinci kedalam masing-masing bagian komponen. (Sebagai contoh, sistem syaraf pusat tidak dapat diamati proses berfikirnya jika hanya hanya satu bagian saja yang diamati).

Konsep relationship menunjuk pada pola-pola dan struktur diantara masing-masing bagian dalam suatu sistem adalah sepenting elemen itu sendiri. Sebagai contoh, Master dan Jojoson (1970) menemukan terdapatnya kesalahan yang menyebabkan disfungsionalitas seks pada sifat hubungan suami istri daripada permasalahan psikologis pasangan tersebut dalam sistem perkawinan.

Teori sistem menentang penjelasan sebab dan akibat sederhana. Sebagai contoh, bahwa seorang anak yang dianiaya dalam sebuah keluarga akan ditentukan oleh beragam variabel dan variabel terpolakan, seperti halnya kemampuan orangtua mengontrol kemarahannya, hubungan antara anak dengan orang tuanya, tingkat tekanan psikologis, karakteristik anak, dan kemungkinan cara -cara yang dapat diterima secara sosial untuk melepaskan rasa amarah.

Konsep homeostasis menyatakan bahwa sebagian besar sistem kehidupan adalah mencari suatu keseimbangan untuk memelihara dan mempertahankan sistem. Jackson (1965), sebagai contoh, memeberi catatan bahwa keluarga-keluarga cenderung memantapkan keseimbangan atau stabilitas perilaku dan mempertahankan berbagai perubahan yang mengganggu stabilitas keluarga tersebut. Jika seseorang mengalami penganiayaan dalam suatu keluarga, yang selanjutnya sebagai fungsi pelayanan keluarga jika anak tersebut dialihkan, anak kedua akan memperoleh penganiayaan yang sama. Atau, jika salah seorang anggota keluarga berupaya memperoleh bantuan. konseling, upaya tersebut umumnya akan berusaha menyeimbangkan situasi keluarga, dan anggota keluarga lainnya akan berupaya mengikuti penyesuaian perubahan (mungkin adaptif atau maladaptif) dengan perilaku yang baru diantara sesara anggota keluarga.

Untuk memahami bagaimana penggunaan teori sistem dan analisis sistem, dapat dilakukan dengan suatu model. Salah satunya adalah model yang dikembangkan oleh Pincuss and Minahan (1973), dan merupakan model sistem yang telah terkenal dalam literatur pekerjaan sosial.

III. Sebuah Model Analisis Sistem Bagi Pekerjaan Sosial

Dalam tahun 1973, Allen Pincus dan Minahan menulis Social Work Practice: Model dan Methode, yang merupakan perintis utama dalam penerapan analisis sistem pada praktek pekerjaan sosial. Asumsi dasarnya adalah, bahwa terdapat common core (inti pokok) mengenai keahlian dan konsep yang begitu esensial dalam praktek pekerjaan sosial, yaitu melihat fakta berdasarkan interpretasi teoritis dari teori sistem.

Secara teoritis Pincus dan Minahan menyatakan bahwa terdapat empat sistem dasar dalam praktek pekerjaan sosial : sistem pelaksana perubahan (a change agent system), sistem klien (a client system), sistem sasaran (a target system) dan sistem kegiatan (an action system). Sistem pelaksana perubahan (the change agent system ) adalah sekumpulan profesional yang secara khusus bekerja untuk menciptakan perubahan secara terencana. Juga yang merupakan bagian dari sistem pelaksana perubahan adalah adanya organisasi yang mempekerjakan agen perubahan tersebut. (Pincus and Minahan), 1973, p.54). Istilah organisasi pelaksana adalah penting sebagaimana pandangan Pincus dan Minahan sepadan dengan penghargaannya (dibayar sesuai kemampuannya) secara perorangan sebagai agen perubahan. Seorang agen perubahan dengan demikian, adalah seorang profesional yang secara khsusus dipekerjakan dalam rangka perubahan berencana.

Sistem Klien (The Client System) adalah sejumlah orang yang sepakat atau meminta pelayanan kepada agen perubahan, dan yang bekerja berdasarkan kesepakatan atau kontrak dengan egen perubahan (Pincus dan Minahan, 1973, p. 56). Klien dengan demikian dipergunakan dengan penuh kesadaran daripada yang sering diperlakukan oleh pekerja sosial, menghindari kemungkinan dari “melalukan sesuatu” terhadap orang atau organisasi tanpa sepengahuan atau kesepakatan mereka.

Sistem sasaran (The Target System) adalah sekumpulan orang, badan-badan, dan atau organisasi praktek yang memerlukan perubahan melalui pengukuran tertentu dalam upaya mencapai tujuan melalui agen perubahan (Pincus and Minahan, 1973, p. 59). Misalkan, melalui penganalisaan perubahan sistem sasaran dapat terukur efektivitasnya dan memberikan suatu mekanisme pertanggungjawaban.

Batasan sistem terakhir adalah sistem kegiatan (The Action System). Istilah ini dipakai untuk menggambarkan dengan siapa saja pekerja sosial bekerja dalam upayanya memenuhi tugasnya dan mencapai tujuan perubahan yang diharapkan (Pincus dan Minahan, 1973. p. 61). Salah satunya mungkin akan melibatkan sejumlah sistem kegiatan dengan aspek yang berbeda dari upaya perubahan terencana untuk melengkapi keseluruhan rencana perubahan dari pelaksana (agen) perubahan. Konsep dari metode dan tujuan hasil juga dipergunakan untuk lebih jauh lagi membedakan bagaimana sistem kegiatan dan sistem sasaran dikembangkan dan didayagunakan. Keempat sistem ini digambarkan secara visual, dan lebih jauh lagi dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1: Elaborasi dari sistem klien, sistem pelaksana perubahan, sistem sasaran, dan sistem kegiatan menurut model Pincuss-Minahan.

Sistem sasaran                                  Sistem Kegiatan

Perlu dipahami bahwa sistem tersebut bukan satu-satunya yang eksklusif, tetapi mungkin dan berjalan secara tumpang tindih dalam beberapa kasus tertentu. Ketumpangtindihan ini terilustrasikan pada Gambar -2

Gambar 2: Contoh gabungan dan tumpangtindihnya beragam sistem dalam model Pincuss-Minahan
Klien yang juga sebagai Sistem Sasaran Sasaran yang berada di luar Sistem Klien dan Sistem Kegiatan Sasaran yang merupakan bagian dari Sistem Pelaksana-Agen Kegiatan Sasaran  sebagai bagian dari Sistem Kegiatan
Membantu seorang klien membicarakan masalah perkawinannya Mencarikan sebuah penginapan yang sewanya meringankan klien Meyakinkan Direktur lembaga Anda untuk mendukung kebijakan yang akan diambil Mendidik seorang  ibu pengasuh anak bagaimana menghadapi anak yang nakal (bermasalah)

Contoh Kasus : Analisis Sistem terhadap Permasalahan Sikap

Contoh kasus berikut menggambarkan bagaimana penggunaan model Pincuss-Minahan dalam menganalisa suatu kasus.

Ridwan Toniawan adalah seorang pekerja sosial yang berada dalam seting suatu sekolah. Dia memperoleh pengalihan (referral) dari seorang guru. Pak Pandi, yang mempunyai murid bernama Jojo Heriawan, seorang anak yang duduk di kelas tiga, yang tidak bersemangat berada di kelasnya (tidak mematuhi perintah gurunya, tidak mendengarkan, dan tidak mengerjakan tugas-tugasnya). Gurunya meminta bantuan. kepada Pak. Ridwan untuk melakukan bimbingan kepada muridnya agar mampu memperbaiki sikap-sikapnya. Sebuah pengalihan wewenang (referral) yang cukup sederhana, dan dengan salah satu masalahnya adalah masalah motivasi dan /atau sikap-sikap. Sejumlah bimbingan konseling akan bermanfaat, tentunya akan memerlukan waktu tertentu, yang seringkali metode ini digunakan oleh pekerja sosial dalam mengintervensi kasus seperti ini. Secara implisit anggapan dasarnya adalah bahwa teridentifikasi terdapat suatu masalah (pelajar), dan mengatasi masalahnya dengan mengubah perilaku pelajar tersebut. Walau begitu, jika tidak menganalisis permasalahan ini secara penuh, mungkin bisa menimbulkan penyimpangan “masalah” dalam situasi tersebut.

Dalam menggunakan analisa sistem sebagai suatu pendekatan terhadap masalah tersebut, Pak. Ridwan pertama-tama akan mengurai permasalahan yang ada, dan kemudian menentukan siapa kliennya dalam situasi tersebut. Terlebih dahulu saat sebelum menjabarkan tentang apa yang menjadi seorang klien, hanya ada seorang guru dan kebetulan sama-sama bekerja dalam suatu organisasi sehingga Pak. Pak Pandi dapat menjadi seorang klien pada saat ini. Jojo dan atau Ibunya mungkin menjadi klien potensial saat mendatang. (lihat Gambar 3).

Gambar 3: Tahap pertama dari pendekatan sistem analisis terhadap kasus Jojo

Gambar 4: Assesmen data dalam kasus Jojo.

Pekerja sosial, mencari pengembangan sasaran sistem. Dia memulai dengan mengumpulkan data berikut:

Perilaku siswa di kelas lebih komplikatif daripada yang pernah dilaporkan. Siswa seringkali diremeh-kan oleh gurunya dan seringkali tidak dipedulikan jika dia meminta pertolongan. Pengamatan selan-juPak.ya terhadap Jojo menunjukkan bahwa dikelas-nya banyak siswa juga memperlihatkan perilaku yang tidak sesuai. Gurunya, Pak Pandi, kelihatan-nya mengalami kesulitan dalam mengendalikan kelasnya. Perbincangan dengan Pak Pandi menun-jukkan bahwa dia memilki pola komentar yang ne-gatif terhadap siswa yang berpendapatan-rendah.

Kehadiran siswa di kelas juga titik perhatian pokok. Selama lebih dari dua tahun Jojo dirata-rata kurang lebih 25% tidak hadir. Sebelumnya, dia juga tidak melengkapi tugas-tugas pekerjaan rumahnya, dia tidak mengikuti petunjuk, mengacau, dan tidak berhubungan baik dengan teman sekelasnya.

Berdasarkan pembicaraan dengan ibunya Jojo, yang telah cerai, Pak. Ridwan menemukan suatu pola ketidakhadiran dari dua anak dalam keluarga tersebut, secara umum menjumpai suatu situasi rumah yang merefleksikan permasalahan ekonomi, disorganisasi keluarga, dan diragukan akan pen-getahuan keterampilan berperan sebagai orang-tua. Dalam diskusi dengan guru-guru lainnya yang pernah mengajar Jojo, dan sekolah lainnya yang mengetahui keluarga tersebut, pekerja sosial memperoleh permasalahan berkaitan dengan kunjungan rumah dari pengawasan-keorangtuaan, termasuk dugaan bahwa ibunya Jojo, Ny. Gudel, yang kecanduan minuman keras dan sering tidak berada di rumah.

Bagian selanjutnya dari menganalilis kasus ini adalah me-netapkan secara jelas sasarannya (targets). Kembali ke Gambar 9-1, bagian ini melibatkan analisis melalui penyidikan dan asses-sment terhadap data, dan men-gembangkan segala kemungkinan atau hasil yang diharapkan sesuai dengan sasaran (targets) yang telah ditentukan sebelum-nya.

Gambar 5: Penentuan. sasaran dan tujuan hasil dalam kasus Jojo
Penentuan. tujuan-tujuan hasil Penentuan. Sasaran
(Tujuan-tujuan ini mewakili tujuan-tujuan yang terjadi dalam kasus Jojo, dan berkaitan dengan tiga permasalahan yang telah diidentifikasi dalam tahap asesmen data  dalam Gambar 4.) (Identifikasi sasaran-sasaran ini  terfokus pada upaya-upaya perubahan)
Memperbaiki pengendalian dan sikap guru kelasnya terhadap siswanya. Sasaran: Pak. Pandi, Guru

Sikapnya terhadap siswa berpendapatan rendah

Kelemahan mengendalikan kelas

Memperbaiki perilaku Jojo, kehadirannya, dan hubungan sosial dengan teman-teman sekelasnya. Sasaran: Jojo Gudel

Sikap dan perilakunya yang tidak sesuai di sekolah

Ketidakserasinya hubungan dengan teaman-temannya

Sering bolos sekolah

Memperbaiki stabilitas terhadap situasi rumahnya Jojo. Sasaran: Keluarga Gudel

Kesulitan keuangan

Kekurangterampilnya Ny. Gudel  dan pengawasan terhadap anak-anaknya

Kemungkinan penganiayaan akibat pengaruh alkohol oleh Ny. Gudel.

Berdasarkan fase assessment of data, tujuan-tujuan hasil harus dibangun. Kemudian sasa-ran ditentukan untuk melengkapi tujuan hasil tersebut. Proses ini terdiagram pada Gambar 5

Pada saat ini tujuan dan hasil telah diidentifikasi dan sekarang perlu mengembangkan suatu sistem tindakan. Bagian pertama dari proses ini, sebagaimana terlihat dalam Gambar 1, adalah dengan menentukan metode atau strategi tujuan. Tujuan-tujuan ini diperlukan untuk menghubungkan sasaran dan seharusnya secara terindivualisasi mempertemukan kebutuhan dengan sasaran penduduk. Analisis sistem secara sungguh-sungguh memerlukan strategi intervensi yang diterapkan bukan berdasarkan pada suatu teknik-teknik tervaforit pekerja sosial, tetapi berdasar pada efektivitas pemenuhan kebutuhan bagi kliennya. Sebagai contoh, seorang pekerja sosial mungkin berkeinginan untuk menggunakan keterampilan intervensi kelompok kecil yang ia kuasai (sangat mahir) menggunakannya, tetapi keterampilan tersebut hanya bisa dipakai ketika analisis sistem mengusulkannya sebagai suatu pendekatan yang terbaik untuk mencapai sasaran dan pada akhirnya untuk memenuhi tujuan-tujuan. Gambar 6 memperlihatkan perkembangan dari methodes goals sebagai langkah awal dalam mengembangkan suatu sistem kegiatan.

Sekarang konsistensi hasil-tujuan, sasaran-sasaran, dan metode-metode telah dikembangkan, langkah selanjutnya penerapan analisis sistem adalah merencanakan implementation stage (tahap penerapan) dari sistem kegiatan (lihat Gambar 1). Seringkali pekerja sosial menggunakan penilaiannya (judgement) sepraktis dan selaik mungkin pada waktu-waktu tertentu. Selanjutnya juga, pekerja sosial dapat memprioritaskan kebutuhan berdasarkan yang paling dibutuhkan dan segera disampaikan kepada klien-kliennya. Tentu saja, pekerja sosial harus juga mempersiapkan untuk menilai kembali sasaran metode (methode goals) sebagai intervensi progress, dengan mengamati tingkat kemungkinan harapan hasil yang diinginkan. Mungkin juga terdapat perubahan dalam diri klien dan sistem pelaksana perubahan yang cukup lama. Dalam kasus ini sistem pelaksana perubahan sekarang termasuk tidak hanya pekerja sosial sekolah, pimpinan sekolah (kepala sekolah), menunjukkan guru-guru jika itu berkaitan dengan gaya mengajarnya, guru BP sekolah, dan pekerja sosial dari Dinas Sosial Kabupaten/Kota yang membantu keuangan, pelatihan manajemen anak, dan pelayanan perlindungan. Ditambahkan juga, klien-klien potensial (seperti halnya Jojo dan Ibunya) yang mungkin akan menjadi klien aktual selama fase penerapan dari sistem kegiatan.

Gambar 6: Penentuan. tujuan strategi/metode dalam kasus Jojo
A. Sasaran: Pak. Pandi, seorang guru kelas tiga

Pekerja sosial akan mendiskusikan masalah mengenai sikap Pak. Pandi terhadap siswa yang berpendapatan rendah melaui prinsip sekolah tersebut, dan memberitahukan bahwa prinsip tsb membantu dengan menyediakan supervisi (penilik) pendidikan dalam wilayah tersebut; bahwa, dengan pengaturan suatu sesi pelatihan pelayanan bagi guru-guru tentang : (a) efek destruktifnya pada siswa berpendapatan rendah yang timbul dari sikap guru yang negatif, dan (b) keuntungan yang diperoleh dengan bersikap tidak menilai (non-judgemental) terhadap siswa oleh para guru. Pekerja sosial juga akan menyatakan bahwa prinsip tersebut akan membantu Pak Pandi untuk bersikap bijak thd penugasan perorangan bagi siswanya sehingga dia dapat memahami secara lebih baik perbedaan-perbedaan siswanya, dan dapat memberikan kegiatan akademik sesuai dengan tingkatannya.

Pekerja sosial akan membicarakan persoalan manajemen ruang kelas dengan Pak Pandi, dan memberikan secara material strategi penguatan perilaku positif dan negatif. Pekerja sosial juga dengan Pak Pandi akan menggali manfaat dari pengembangan beberapa tipe sistem peringkat siswa sehingga Jojo (dan berpotensi dari siswa lainnya) dapat bekerja sesuai sasaran setiap harinya. Akhirnya, pekerja sosial akan mengkonsultasikannya dengan guru secara periodik permasalahan perilaku dalam kelas, pemecahan masalah terhadap situasi tersebut, dan memberikan saran teknik-teknik yang lebih efektif untuk mengendalikan perilaku siswa yang disraptif (mengacau).

B.   Sasaran: Jojo Heriawan

Pekerja sosial akan memberkan bimbingan dukungan kepada Jojo mengenai permalahan pengembangan dengan cara yang lebih konstruktif, mengembang tujuan-tujuannya sebagai pelajar, dan membangun rasa tanggungjawab atas tindakannya. Perlunya bimbingan sokongan adalah bukti dalam rangka membangun kehangatan hub. dengan Jojo, membantu Jojo mengembangkan keterampilan mengatasi masalah secara lebih efektif, dan menampilkan suatu model peranan positif sebagai orang dewasa.

Pekerja sosial akan bicara kepada guru BP (bimbingan dan penyuluhan) sekolah mengenai kemungkinan Jojo bergabung dalam kelompok kecil yang dipimpinnya, atau bergabung di kemudian hari. Ini akan membantu Jojo memperbaiki hubungan sosial dengan siswa lainnya. Selajutnya, pekerja sosial akan berbicara dengan guru BP perlunya mengembangkan sebuah program kelas bimbingan yang diarahkan dalam rangka memperbaiki hubungan antara manusia.

Pekerja sosial akan mengalihkan permasalahan ferkuensi ketidakhadiran kpd unit pelayanan perlindungan Dinas Pelayanan Sosial Kota, sebagai suatu kasus kemangkiran atau pembolosan yang tak tertangani. Pengalihan ini akan membawa perubahan sumber-sumber dari lembaga lain untuk membantu seluruh kesulitan keluarga-keluarga. Pengalihan ini juga memberikan suatu cara bagi Dinas Pela-yanan Sosial Kota untuk menjangkau keluarga yang mengalami kesulitian.

C.  Sasaran: Keluarga Heriawan

Pekerja Sosial akan mengatakan Pelayanan Perlindungan mengenai kesulitan ekonomi keluarga, dan meminta Pela-yanan Perlidungan untuk menyelidiki apakah keluarga ter-sebut laik memperoleh keseluruhan bantuan keuangan, dan apakah bimbingan keuangan diperlukan untuk men-yusun anggaran sumber-sumber keluarga secara lebih baik.

Pekerja sosial, setelah menilai secara serius mengenai kesulitan manajemen keluarga, akan merujuk hal ini ke-pada Dinas Pelayanan Sosia Kota. Secara realistis, ke-sulitan ini akan melibatkan pekerja pelayanan perlin-dungan (peling sebagai manajer kasus) yang telah me-nerima rujukan masalah pembolosan dan bantuan ke-uangan. Pekerja Pelayanan Perlindungan mungkin akan meminta pekarja sosial lainnya untuk memberikan pela-yanan tertentu kepada keluarga tersebut, seperti melibat-kan ibu-ibu dalam kegiatan Pelatihan Efektivitas Orangtua. Dalam keluarga ini adalah penting bhw pengaturan waktu yang melibatkan beberapa pekerja sosial tidak menjadi faktor yang menyibukkan keluarga. Pekerja sosial sekolah, bekerja sama dengan Ny. Heriawan dan pekerja sosial dari Dinas Pelayanan Sosial kota akan mengembangkan rencana penanganan untuk membantu Ny. Heriawan mem-perbaiki pengetahuannya mengenai perkembangan dan praktik perilaku/ pemelirahaan anak. Rencana ini meliputi bimbingan perseorangan, mengikuti kegiatan kelompok orangtua, atau mendemostrasikan praktek keperilakuan melalui pemodelan.

Pekerja sosial akan menyelidiki dugaan penganiayaan akibat kecanduan minuman keras, dan kemudian memu-tuskan apakah mengalihkan Ny. Heriawan untuk meng-asesmen peaniayaan akibat kecanduan minuman keras dan obat-obatan lainnya yang disediakan oleh Dinas Palayanan Sosial Kota. Sejak Ny. Heriawan juga agak kelihatan tertekan dan kehabisan energi, sebuah rujukan dokter jiwa perlu dipikirkan di masa datang. Selanjutnya, karena masalah kecanduan alkohol juga bukan satu-satunya masalah, disarankan bahwa Dinas Palayanan Sosial Kota perlu membantu Ny. Heriawan menemukan pekerjaan atau memperoleh latihan kerja. Juga nampaknya Ny. heriawan perlu mendapatkan dukungan (baik konseling perorangan atau kelompok) untuk membantu keinginanya sebagai orang tua tunggal.

Perlu dicatat bahwa pembentukan sistem kegiatan yang melibatkan badan-badan sosial lain dan profesional-profesional lainnya yang menjadi suatu kunci tujuan pekerjaan sosial adalah mempertahankan proses tersebut tetap berlangsung. Seringkali pengalihan yang dilakukan pekerja sosial sebagai pendamping (an advocater) kliennya dan tujuan hasil kegiatan dari analisis sistem. Seringkali terjadi perlu memulai/mengulang kembali sasaran tujuan ke yang lain dan menemukan cara untuk memotivasi kembali agen-agen pelaksana perubahan yang lain saat bertemu “roadblocks” (hambatan). Dalam faktanya, memonitor kemajuan seharusnya ada sebagai suatu penerapan pendekatan analisis sistem yang akan terdiri dari suatu kelompok bekerja bersama dan dengan demikian diperlukan koordinasi dan pengaturan.

Juga penting sekali untuk mengevaluasi dan memantapkan upaya-upaya perubahan setelah menentukan jangka waktu tertentu. Evaluasi ini sebaiknya berupaya mencari ukuran mengenai hasil yang dapat dicapai dari sistem sasaran yang akan makin memperlengkapkan.

Tidak semua kasus sekompleks yang satu ini, atau melibatkan sejumlah sasaran dan sistem kegiatan seperti ini. Kasus seperti bisa saja ada, dan asesmen dan strateginya dikembangkan sesuai dengan gambaran tadi. bagamanapun banyak, dan mungkin sangat banyak kasus-kasus pekerjaan sosial yang komplikati. Sebagaimana disebutkan, analisa sistem dapat membantu pekerja sosial memamhami kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Analisis sistem dapat diterapkan secara virtual oleh seluruh pekerja sosial. Sayangnya, kemampuan penerapannya saat ini sedang dipertanyakan. Khususnya berkaitan dengan kemampuan penerapannya untuk pekerjaan sosial klinis. Kebutuhannya ini bukanlah kasus, untuk suatu pemahaman tentang aspek-aspek keunikan dari analisis sistem dan keteramplan klinis dapat mendemostrasikan gabungan pemakaian teknik yang sangat efektif.

IV. Penutup

Teori sistem adalah salah satu cara untuk mengkonseptualisasikan permasalahan dan membuat rencana kegiatan / treatmen. Dengan cara ini pekerja sosial dapat berupaya  untuk memahami kepentingan relatif dari beragam kepentingan dalam kehidupan klien. Analisis sistem juga berguna bagi seluruh pekerja sosial sebagai suatu metode profesional analisis; tidak hanya terbatas bagi yang terlibat dalam perencanaan sosial dan peroganisasian masyarakat. Sebagai suatu cara untuk pengembangan permasalahan yangada, pekerja sosial dapat mengkonseptualisasi masalah-masalah dengan peristilahan klien, agen perubahan, kegiatan, dan sistem sasaran, dalam rangka menentukan tujuan melalui upaya perubahan terancana. Tentu saja, seorang pekerja sosial harus memandang analisis sistem melalui teori sistem sebagai proses, mengupayakan perubahan setelah analisis dan penyelidikan yang hati-hati, juga harus terus melihat kepentingan relatif dari sistem melalui proses perubahan. Juga yang terpenting adalah menetapkan tujuan hasil dan tujuan metode untuk memenuhi tujuan tersebut. Disini perlunya prioritasi tujuan. Beberapa pengukuran evaluasi juga perlu ditetapkan, sehingga pekerja sosial tahu kapan tujuan telah tercapai, dan apakah perlu menset lagi.

Pemanfaatan analisis sistem akan lebih lengkap lagi jika berikutnya para pekerja sosial dibekali berbagai keterampilan dan teknik dalam setiap proses pelaksanaan sistem tersebut.

Sumber:

Budhi Wibhawa, 2010.Dasar-Dasar Pekerjaan Sosial. Widya Padjadjaran: Bandung

Johnson, Louise C., 1995. Social Work Practice, A Generalist Approach. 5th , Allyn & Bacon, Massachusetts.
Johnson, H. Wayne, 1986. The Sosial Services An Introduction. 2nd Edition, F.E. Peacock Publisher, Inc. Itasca, Illinois.

Kirst-Ashman & Hull, Jr., 1993. Understanding Generalist Practice. Nelson-Hall Publishers, Chicago

Zastrow. 1994. The Social Work Practice. Prentice Hall: New York


Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

3 Komentar

  • rendy

    Saya dukung Pak Toso jadi Mensos, Kumargi Daya intelektualna mumpuni pisan, janten simkuring minangka rahayat jawa barat ngarojong pisan Pak Toso janten pupuhu di Pusat.
    Saya tau persis kiprah pak Toso selama ini terutama concernya beliau terhadap community development yang pro poor…. Wilujeng, diantos ketajaman nalar nu salajengna.. Hatur Nuhun

  • beu…naha jadi dukung mendukung. wios, hatur nuhun..

Leave a Reply

  • JURUSAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ================================ VISI: Menjadi Pengelola Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang Mengembangkan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Berbasis Kewirausahaan Sosial dan Memiliki Keunggulan Kompetitif MISI: 1. Bidang Pendidikan: Mengembangkan dan melaksanakan Kurikulum Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang berbasis kompetensi, antisipatif terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat dan teknologi global. Menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar (PBM) bagi mahasiswa dengan terus mengembangkan metode dan media yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan kurikulum pendidikan yang dikembangkan. Meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan. Mengembangkan jiwa “social enterpreneur” mahasiswa, baik melalui kegiatan kurikuler (praktikum) maupun ekstrakurikuler (kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa dan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan), untuk membentuk mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan mandiri, dengan tetap berpijak pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etika pekerjaan sosial. 2. Bidang Penelitian Melakukan kegiatan penelitian untuk menunjang proses belajar mengajar dan pengabdian kepada masyarakat melalui upaya membangun dan mengembangkan Laboratorium Kesejahteraan Sosial. 3. Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Mengembangkan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Laboratorium Kompetensi Kesejahteraan Sosial sebagai wahana pembelajaran sivitas akademika.