Universitas Padjadjaran

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK WAWANCARA PEKERJAAN SOSIAL

Oleh: santoso tri raharjo
May 6, 2010

 

Pengertian Wawancara

                Bimbingan Sosial Peseorangan (social casework) merupakan suatu metode pertolongan terhadap individu dengan berdasarkan pada orang per-orang untuk mengetahui perorangan dan masalahnya. Casework mungkin meliputi upaya pertolongan penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya (sebagai contoh, membantu mantan narapidana kembali ke masyarakatnya). Atau mungkin casework terlibat dalam kegiatan pertolongan dengan mengadakan pelayanan-pelayanan  yang dibutuhkan (sebagai contoh, seorang pekerja sosial mungkin bertindak sebagai pendamping bagi seorang anak yang mengalami ketidakmampuan (cacat fisik) belajar perlu menerima pelayanan khusus dalam sebuah seting sekolah).

                Mungkin terdapat dua esensi keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh pekerja sosial dalam bekerja dengan orang-perorangan yaitu wawancara dan konseling (bimbingan). Pada bab berikut ini akan berisikan materi yang berkaitan dengan bagaimana mewawancarai orang, dan pada bagian selanjutnya (nanti) memfokuskan pada pada bagaimana melakukan bimbingan (konseling). Dalam bab ini berisikan : tipe-tipe wawancara dalam praktek pekerjaan sosial, bagaimana memulai dan menutup wawancara, bagaimana mengajukan pertanyaan, mencatat, dan menggunakan audio dan rekaman saat wawancara berlangsung. Pekerja sosial perlu menyediakan sejumlah waktu mereka untuk wawancara, dan banyaknya waktu tersebut tergantung dari lamanya wawancara.

Landasan dari seluruh aktivitas palayanan manusia adalah wawancara. Wawancara didefinisikan dan dibedakan dengan perbincangan tak terfokus. Bagian ini akan memberikan suatu pandangan mengenai “architecture” dari wawancara — elemen-elemennya secara mendalam. Didalamnya termasuk fokus, dukungan, seting, gaya dan kepribadian pewawancara dan terwawancara, harapan-harapan bersama, struktur wawancara, sikap-sikap dan nilai-nilai yang diperlukan, dan pencatatan wawancara. Untuk tujuan pembelajaran, faktor-faktor tadi akan dibahas secara terpisah, tetapi yang perlu anda ingat bahwa hal tersebut tidak benar-benar dapat dipisah dalam prakteknya.

Sebagaimana dikatakan oleh Zastrow bahwa Wawancara adalah alat utama para pekerja sosial. Ini merupakan struktur dari operasionalisasi interaksi antara seorang pekerja sosial dan seorang klien. Setiap pekerja sosial mengembangkan gaya berwawancaranya sendiri. Berwawancara adalah suatu seni da keterampilan, dan pembelajaran tentang bagaimana mewawancarai adalah berbuat sambil belajar (learning by doing). Panduan ini termasuk di dalamnya mempersiapkan suatu wawancara, tahapan wawancara, dan keterampilan yang digunakan oleh pekerja sosial selama wawancara.

Fokus sentral awal dari suatu wawancara pekerjaan sosial adalah pada elemen-elemen yang merupakan ciri dari keseluruhan wawancara pekerjaan sosial. Sebagaimana diketahui wawancara berkaitan dengan beragam objek yang berbeda dalam beragam konteks yang berbeda  dengan beragam bantuan yang berbeda pula. Walaupun terdapat banyak sekali kemungkinan keragaman, semua  wawancara pekerjaan sosial sama-sama memiliki aspek-aspek yang fundamental, dan disini paling sedikit terdapat persamaan sebutan mengenai wawancara pekerjaan sosial yang merupakan pusat perhatian disini.

                Sikap-sikap esensial yang baik bagi mewawancara termasuk didalamnya pengamatan aktif, mendengarkan aktif, dan gerak tubuh. Nilai-nilai utama yang penting bagi pewawancara yang terwujud diantaranya rasa empati, kehangatan, penghargaan, dan kejujuran. Sikap-sikap dan nilai-nilai tersebut akan membantu membangun hubungan dalam suatu situasi pertolongan.

                Setelah membaca seluruh bab ini, anda akan memperoleh gambaran umum tentang suatu wawancara dan akan siap untuk mempelajari secara detail keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dengan baik pada bab berikutnya.


Karakteristik Wawancara

 

Setiap intervensi yang dipakai seorang pekerja pelayanan manusia —apakah membimbing seorang klien atau memobilisasi sebuah kelompok untuk kegiatan sosial— membutuhkan wawancara. Agar dapat dipahami lebih mendalam, semua kerja kita dibangun secara terencana, komunikasi secara hati-hati: berbicara dan mendengarkan, melakukan gerak tubuh nonverbal, atau menulis.

          Anda mungkin berkata, “Ya, tetapi tidak seluruh hubungan membutuhkan komunikasi ? Apa yang membuat komunikasi dalam pelayanan sosial begitu berbeda ?”

Sebuah Wawancara adalah Komunikasi Bertujuan

Sebuah obrolan sosial tidak perlu memiliki sejumlah tujuan yang disadari. Saat kita sedang ngobrol secara kebetulan dengan teman, biasanya kita tidak memiliki agenda yang tetap/pasti tentang apa yang sedang kita perbincangkan. Perbincangan seringkali berjalan begitu saja dari satu topik pindah ke topik yang lain: bicara masalah cuaca, masalah pekerjaan, kuliah, perasaan-perasaan kita, nge-gosip-in teman kita, dan seterusnya.

          Sebuah wawancara, pada lain pihak, mempunyai suatu maksud dan tujuan tertentu. Seringkali yang terjadi adalah, seseorang datang kepada pekerja sosial memohon bantuan untuk mengatasi atau mengurangi masalah-masalahnya, dan segala upaya dilakukan pekerja sosial untuk mengupayakan tujuan tersebut. Atau pekerja sosial mencari tahu seseorang atau lembaga yang dapat dijadikan sebagai sumber atau dukungan masyarakat untuk membantu memberikan palayanan yang dibutuhkan oleh kelompok atau klien. Berikut terdapat beberapa contoh dari kegunaan wawancara yang sering dilakukan oleh pekerja sosial:

  • Seorang manajer dari suatu Kantor Pelayanan Masyarakat menerima delapan orang pasien yang akan dibebaskan dari rumah sakit jiwa butuh untuk menyewa sebuah gedung dan ingin mengetahui secara khusus apakah tetangga sekitar akan menentang kahadirannya. Manajer tersebut kemudian melakukan sejumlah wawancara kepada para penunggu toko dan beberapa orang yang menginap di gedung tersebut untuk mendengarkan sikap-sikap mereka.
  • Pekerja sosial dalam sebuah pengelolaan rumah perawatan mengunjungi seorang lansia yang mengalami kesulitan memperoleh bantuan sembako, dan mengetahui pelayanan lainnya dan segala sesuatu yang ingin diketahuinya.
  • Seorang tenaga pendampingan dalam sebuah Badan Pelayanan Keluarga bertemu dengan seorang orangtua tunggal untuk menjelaskan bagaimana sebaiknya melakukan perawatan anak-anaknya dan melihat apakah ia memenuhi persyaratan keuangan yang cukup untuk hal tersebut.
  • Seorang pekerja sosial dalam sebuah nursing home (rumah pengasuhan) berbicara dengan seorang wanita yang tidak seperti biasanya mengalami tekanan-tekanan untuk mencari jalan keluar kesulitan yang dialami wanita itu.
  • Seorang koordinator kegiatan-kegiatan after school memanggil orangtua siswa untuk memberitahukan kepada mereka tentang Persatuan Orangtua Siswa (POS) akan makanan malam tambahan dan menanyakan hidangan makan malam apa yang sebaiknya dibawa, atau topik-topik apa saja yang akan dibicarakan.
  • A community school worker melakukan suatu survai “needs assessment” untuk melihat jenis-jenis kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

 

          Sementara itu wawancara penelitian adalah sebuah wawancara pertolongan dalam waktu yang panjang, sejak hasil penyidikan mungkin membantu orang, jenis ini bukan merupakan sebuah wawancara pelayanan langsung (direct service), meskipun begitu banyak keterampilan yang kita bicarakan dapat diterapkan untuk wawancara penelitian.

          Saat kita menulis pada permulaan mengenai pekerja pelayanan manusia, kita tidak akan menuju ke fokus pada konseling jangka panjang atau wawancara psikologis, yang umumnya berkaitan dengan sejumlah pengalaman atau latihan praktek. Namun demikian, terdapat badan-badan pelayanan sosial yang mengharapkan para pekerja sosial pemula untuk melakukan upaya terapetik yang kompleks secara hati-hati. Jika anda menemukan diri sendiri berada pada suatu situasi tertentu, Anda mungkin akan memperoleh latihan-latihan lanjutan dan pengawasan. Daftar bacaan tambahan pada akhir bab ini di dalamnya termasuk sejumlah sumber yang dapat membantu anda.


Sebuah wawancara mempunyai fokus dan struktur

Perbedaan lainnya antara perbincangan dengan sebuah wawancara adalah bahwa masing-masing orang mengharapkan dalam sebuah perbincangan memperoleh kesempatan perhatian yang sama, sementara sebuah wawancara memfokuskan pada upaya-upaya memenuhi kebutuhan klien. Jika seorang teman berbicara tanpa henti mengenai masalahnya dan kita mungkin mendengarkannya tanpa perhatian yang penuh, kita mungkin akan merasa tidah diacuhkan dan mungkin akan marah. Dalam sebuah wawancara, bagaimanapun, sebagian besar keterampilan pewawancara terdiri dari pengetahuan mengenai bagaimana sebaiknya diam dalam rangka mendorong terwawancara menceritakan apa yang ada dalam pikirannya/perasaannya. Pewawancara pada prinsipnya bertanggungjawan untuk mempertahankan sebuah wawancara yang terfokus.

          Sebuah perbincangan dan sebuah wawancara juga berbeda dalam strukturnya. Sebuah perbincangan dapat menjadi lebih menyenangkan saat melantur (bertela-tele) kemana-mana, tetapi bertele-betele (melantur) dan wawancara tidak terstruktur mungkin sebaiknya tidak dipergunakan dan bisa menimbulkan perasaan frustasi yang mendalam. Sebuah wawancara seharusnya terencana dan terfokus pada keterkaitan issu/permasalahan, meskipun tentunya didalam wawancara selalu terdapat kehangatan dan sedikit perbincangan ringan yanga membuat kedua belah pihak merasa nyaman.

Sebuah wawancara memerlukan keterampilan tertentu

Pada akhirnya, perbincangan dan wawancara berbeda dalam tingkat keterampilan yang dibutuhkan untuk kedua kegiatan tersebut. Adalah benar bahwa manusia mempunyai beragam keterampilan yang sangat hebat dalam hubungan interpesonalnya, dan dengan demikian terdapat sejumlah orang yang melakukannya secara lebih kreatif daripada yang lain. Sejauh kita dapat memahami dari diri kita sendiri, banyak dari kita tidak pernah berpikir bahwa kita harus melatih diri sendiri untuk melakukan perbincangan sosial. Dalam rangka menjadi pewawancara yang terampil, bagaimanapun, kita perlu mempelajari secara lebih mendalam bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia lainnya. Kita perlu memperhitungkan atau memperkirakan isyarat perilaku-perilaku: untuk mendengarkan dengan hati-hati tidak hanya kata-katanya tetapi juga bayangan dan nuansa dari bunyi (nada), titik nada dan volume suara; dan mengkomunikasikan pemahaman kita tentang apa yang kita lihat dan dengar dengan cara yang mudah dipahami (jelas) dan sadar bahwa kita sungguh-sungguh memperhatikan orang tersebut.

Definisi Wawancara

Keistimewaan yang membedakan sebuah wawancara pelayanan manusia dengan perbincangan sosial akan membantu kita memahami definisi secara lebih mendalam. Ringkasnya, sebuah wawancara pelayanan manusia adalah sebuah interaksi antara orang yang memiliki suatu rencana yang disadari, maksud tertentu, struktur, dan tujuan serta memerlukan keterampilan komunikasi tertentu.

Sebagai salah satu keragaman dari komunikasi interpersonal secara verbal dan non-verbal, wawancara merupakan suatu bentuk yang khusus dengan keunikan karakteristiknya yang berbeda. Sebuah wawancara dapat dibedakan berdasarkan tiga karakteristiknya : (1) menurut maksud dan tujuan/sasarannya; (2) struktur formal dengan peranan, waktu, dan lokasi yang memaksa (mendesak/darurat); dan (3)orientasi proses dan perkembangan.

Elemen-Elemen Penting Apa Saja dari Wawancara?

Maksud/tujuan, fokus, struktur dan keahlian makin membentuk suatu wawancara. Faktor-faktor lain yang mendukung berjalannya wawancara termasuk :

  • lokasi wawancara (the setting)
  • sifat-sifat istimewa kepribadian, harapan-harapan, latarbelakang budaya,  dan gaya pewawancara.
  • harapan-harapan, kepribadian, dan latar belakang budaya dari terwawancara.
  • dukungan badan pelayanan.
  • sikap-sikap dan nilai-nilai pertolongan kemanusiaan

 

Kesemuanya tersebut adalah saling terkait-berhubungan dan saling berpengaruh satu sama lainnya. Kita dapat memisahnya untuk kepentingan diskusi, tetapi perlu diiingat saat membacanya bahwa dalam prakteknya tidak ada salah satu faktor pun yang benar-benar dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • JURUSAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ================================ VISI: Menjadi Pengelola Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang Mengembangkan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Berbasis Kewirausahaan Sosial dan Memiliki Keunggulan Kompetitif MISI: 1. Bidang Pendidikan: Mengembangkan dan melaksanakan Kurikulum Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang berbasis kompetensi, antisipatif terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat dan teknologi global. Menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar (PBM) bagi mahasiswa dengan terus mengembangkan metode dan media yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan kurikulum pendidikan yang dikembangkan. Meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan. Mengembangkan jiwa “social enterpreneur” mahasiswa, baik melalui kegiatan kurikuler (praktikum) maupun ekstrakurikuler (kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa dan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan), untuk membentuk mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan mandiri, dengan tetap berpijak pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etika pekerjaan sosial. 2. Bidang Penelitian Melakukan kegiatan penelitian untuk menunjang proses belajar mengajar dan pengabdian kepada masyarakat melalui upaya membangun dan mengembangkan Laboratorium Kesejahteraan Sosial. 3. Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Mengembangkan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Laboratorium Kompetensi Kesejahteraan Sosial sebagai wahana pembelajaran sivitas akademika.