Universitas Padjadjaran

UPAYA PERUBAHAN DAN KEWIRAUSAHAAN DALAM PEKERJAAN SOSIAL

Oleh: santoso tri raharjo
April 29, 2010

Hingga saat ini kata “kewirausahaan” (entrepreneurship) merupakan sebuah kata yang masih terasa asing dalam pendengaran kita, khususnya dalam bidang pendidikan profesi pekerjaan sosial. Saat kata kewirausahaan diucapkan, maka yang tergambar dalam benak kita adalah konotasi negatif akan individualisasi dan pencarian uang (keuntungan materil) —nilai-nilai yang bertentangan dengan orientasi— kemasyarakatan, pengorbanan diri, dan orientasi pertolongan dalam pendidikan profesi pekerjaan sosial. Walau tidak dapat dipungkiri, bahwa kata ‘kewirausahaan’ merupakan kata yang sering dipergunakan dalam istilah perekonomian. Namun nampaknya belum terpikirkan oleh kita sebagai calon-calon pekerja sosial profesional bahwa dalam memberikan bantuan pelayanan sosial atau untuk mempertahankan suatu organisasi sosial (red. pendidikan profesi pekerjaan sosial) maka diperlukan kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang inovatif, kreatif dan berani mempertahankan hidup matinya organisasi pelayanan sosial tersebut.

Invensi, Inovasi, dan Kewirausahaan

Kewirausahaan adalah suatu elemen penting dalam membawakan perubahan secara konstruktif dalam praktek pekerjaan sosial. Namun demikian, hal terpenting untuk dipahami adalah tentang apa arti “perubahan” (change) dan bagaimana seorang wirausaha (wirasosial) membawa perubahan tersebut. Pertama, harus terdapat perbedaan yang jelas antara invensi dan inovasi. Suatu invensi adalah suatu ide atau pemikiran baru, bisa berupa pelayanan baru atau suatu produk baru, atau suatu metode yang lebih baik dalam menghasilkan suatu pelayanan atau barang, atau suatu cara yang lebih efisien dari pengelolaan pasar bagi input pembelian untuk memproduksi atau mendistribusi output pelayanan atau produk. Jika suatu invensi belum diterapkan dalam praktek, bagaimanapun, di sana belum terjadi perubahan. Suatu inovasi, dengan demikian adalah suatu invensi yang dimasukan atau diterapkan ke dalam praktek.

Seorang wirausaha yang inovatif, akan meletakan invensi baru atau pemikiran baru ke dalam praktik. Seorang wirausaha sosial tidak mesti menjadi inventor —- dan biasanya memang mereka bukan seorang inventor. Demikain juga dengan ide / pemikiran itu sendiri tidak mesti baru tetapi hanya baru dalam konteks dimana seorang wirausaha sosial menerapkannya. Seorang wirausaha sosial adalah seorang individu yang dapat membawa bersama seluruh bagian-bagian — pemikiran, sumber-sumber, organisasi, dan seterusnya —- untuk membuat kerja pemikiran tadi yang belum pernah dicoba keberhasilannya dipraktikkan dalam aktifitas pelayanan sosial.

Salah satu contoh ilustrasi invensi, inovasi, dan kewirausahaan. Di akhir tahun 1960-an, terdapat desakan pembangunan pada sistem bantuan perawatan di New York City guna mengakomodasi perkembangan dan kesulitan penduduk dari anak-anak terlantar dan yang memerlukan bantuan. Pemikiran mengenai perlunya sebuah “pusat diagnostik” diharapkan dapat memberikan perawatan menyeluruh baik psiklogis, fisik, dan analisis sosial dari permasalahan anak sebelum mereka ditempatkan di rumah perawatan. Ide seperti ini mungkin meminjam dari lapangan kedokteran, dimana konsep fasilitas diagnostik intensif secara terpusat terwujud dalam bentuk lembaga seperti Mayo Clinic. Konsep pusat diagnostik pertama kali diperkenalkan ke dalam Rumah Perawatan kota New York di tahun 1969 oleh Suster Mary Paul Janchill di Euphrasian Residence of the Sister of the Good Sheperd Residence, Inc. (Young, 1980). Walau begitu Janchill mungkin merupakan inventor dari konsep pusat diagnostik, dia tidak menjadi seorang wirausaha dari invensinya (penemuannya) ini sampai dia berhasil memasukan idenya (sebagai suatu inovasi) tersebut ke dalam pelaksanaan dari Euphrasian Residence. Hingga suatu saat keberhasilannya tersebut, lembaga-lembaga lain membangun pusat-pusat diagnostik yang sama; sebagai contoh, Lembaga Perawatan Anak di New York menciptakannya di Pleasantville (NY) Diagnostik Center. Proyek ini bukan berarti penjiplakan. Tetapi hal tersebut mewakili suatu inovasi nyata dalam konteks lembaga itu sendiri, dan merupakan perintis (pelopor) melalui kewirausahaan yang berjasa sebagai mana yang digambarkan oleh Janchill (Young, 1985).

Daya Dorong bagi Kewirausahaan

Wirausaha (wirasosial) adalah inovator, walaupun mereka kadang-kadang hanya mengambil inisiatif yang sederhana untuk kepentingan inovasi. Wirausaha seringkali berpacu atau terlibat dalam kegiatan penanganan masalah, dan banyak dari aktivitas mereka mungkin dapat diilustrasikan sebagai suatu proses dari pemecahan masalah. Mereka mempunyai keyakinan bahwa — dalam hal yang berkaitan dengan inovasi — setiap permasalahan tentu ada penyelesaiannya. Sehingga mereka selalu siap dan tertantang untuk menangani setiap masalah sosial sebagai daya dorong untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan sosial.

Para wirausaha biasanya mengemukakan dan menampilkan inovasi yang pada akhirnya mungkin diadopsi sebagai suatu program tanggapan terhadap permasalahan yang ada di masyarakat. Secara alternatifnya, lembaga-lembaga swadaya masyarakat menerjemahkan permasalahannya dan menciptakan peluang-peluang berharga dimana para wirausaha sosial mungkin menanggapi dengan ajuan-ajuan (proposal) inovatif. Seringkali proses tersebut terjadi saling kait-mengkait. Sebagai contoh, para wirausaha mungkin melakukan lobying agar lembaga pemerintah atau lembaga-lembaga penyandang dana dapat memberikan peluang-peluang sebagai tanggapan akan program yang inovatif.

Siapa Wirausaha Sosial itu ?

Jika wirausaha pelayanan sosial merupakan esensi penyelesaian dari perubahan konstruktif, adalah mungkin untuk mengidentifikasi sifat-sifat mereka secara jelas dan kemudian mendorong lainnya dengan sifat-sifat tersebut mengikutsertakan dalam pekerjaan sosial ? Apakah para wirausaha ini mempunyai kesamaan yang membedakan mereka dengan yang bukan wirausaha ?

Latar Belakang Kepribadian

Berdasar suatu laporan dari 21 penelitian kasus (Young, 1985), nampak tidak ada keunikan atau kesamaan mengenai wirausaha sosial dengan istilah dari karakteristik demografik biasa. Dalam pelayanan sosial, paling tidak, terdapat suatu kombinasi dari para wirausaha wanita dan pria (Young, 1985). Kelihatannya kelompok terbanyak berasal dari latar belakang midle-class (kelas menengah) atau blue-collar (kerah-biru). Secara profesional, juga terdapat suatu campuran ketertarikan. Sebagaimana yang diharapkan, sebagian besar adalah pekerja sosial profesional. Walau begitu, profesi lainnya juga memiliki kesamaan dalam kelompok ini.

Gaya Kepemimpinan

Para wurausaha sosial juga mempunyai berbagai macam dasar pertimbangan dalam gaya kepemimpinan. Sister Lorraine Reilly dari the Group-Live-in-Experience di Selatan Bronx atau Bert Beck, yang diantara pengusaha lainnya membangun usaha seng Lower East Side Union di awal tahu 1970-an, adalah sebagai contoh dari pemimpin “out-front” masyarakat yang amat kharismatik yang telah berhasil melalui kekuatan pesona dan dinamisasi kepribadiannya. Lainnya, seperti Joseph Gavrin, yang membangun pemeliharaan Pelayanan Informasi Kesejahteraan Anak di New York di awal tahun 1970-an, mempunyai gaya kepemimpinan “indirect”, telah berhasil melalui caranya yang tenang berada di belakang layar (Young, 1985). Pada prinsipnya setiap wirausaha sosial akan menampilkan gaya kepemimpinan yang khas dan unik.

Motif

Wirausaha sosial mempunyai beragam motivasi yang begitu luas. Motivasinya bukan seperti yang menjadi pandangan stereotip dari para wirausaha bisnis, yang bergerak semata-mata berdasarkan uang. Dalam pelayanan sosial, motif-motif lain seperti halnya keyakinan kuat akan penyebab khusus atau pemikiran-pemikiran, wibawa profesional, kekuatan, dan otonomi/kewenangan profesional yang semuanya itu sering kali lebih penting dari pada penghargaan uang.

Berani Mengambil Resiko

Walau demikian, sebagian besar para wirausaha terbagi dalam beberapa sifat kepribadian dan kemampuan. Salah satu sifat tersebut adalah kesadaran untuk mananggung/ mengemban/menghadapi resiko. Wirausahawan sosial tidak akan puas dengan status quo yang ada, setelah memperjuangkan pembelaan mengenai inovasi yang menurutnya benar bisa membawa hasil yang tidak menentu dan menimbulkan keraguan dikalangan kolega dan anggota dewan. Jika upaya yang telah dilakukan tidak berhasil, maka resiko cemoohan dan rusaknya harga diri telah siap diterima sebagai resiko profesinya. Kemudian, mereka seringkali membahayakan keselamatan diri sendiri dengan permasalahan sosial yang mereka perjuangkan penangananya, atau mencurahkan diri mereka sendiri dalam upaya-upaya yang beresiko, dari pada memperoleh jabatan yang lebih terjamin. Sebagai contoh, para perintis Melville House di Long Island, New York, mengabaikan keselamatan jabatannya/pekerjaannya untuk mempertahankan kediaman lembaga mereka bagi anak-anak remaja (Young, 1985). Sebenarnya semua upaya pelayanan sosial beresiko, meskipun resiko secara langsung bukan masalah finansial. Kerapkali, berani mengemban resiko merupakan hal yang menarik karena alternatif dari “doing nothing” mungkin akan lebih beresiko di masa yang akan datang. Kemudian lagi, kewirausahaan selalu berpikir akan jawaban untuk memecahkan masalah, dan jawabannya mungkin membutuhkan suatu jawaban yang berani atau tegas.

Keterampilan politik

Suatu studi kasus membuktikan bahwa kewirausahaan sosial juga mempunyai keterampilan-keterampilan dasar dalam berhubungan dengan orang (Young, 1985). Banyak aktifitas dari kewirausahan terdiri dari pembuatan kesepakatan (making deals). Dalam arena perpolitikan, aktifitas ini mungkin berkaitan dengan upaya memperoleh dana bantuan atau kontrak, mendapatkan dukungan dana dari para donatur utama, mengupayakan kemungkinan diterimanya perundang-undangan, atau berkaitan dengan kepuasan akan pangaturan hak-hak. Dalam kaitan organisasi, wirausahawan mungkin memerlukan pegawai-pegawai untuk memberikan kuasa akan proyek-proyek dan mengakolasikan staf serta sumber-sumber, mencapai kesepakatan dengan para manajer program lainnya, dan seterusnya. Dalam dunia bisnis, wirausaha mungkin membicarakan buruh dan penyediaan kontrak, perjanjian pelayanan-pelayanan, atau fasilitas pembelian dan sewa menyewa. Pada satu saat wirausaha membutuhkan keterampilan hubungan antar individu (interpersonal skills), para wirausaha sosial mungkin lebih bergantung pada keterampilan-keterampilan seperti itu dari pada rekanannya dalam bisnis. Walau begitu baik wirausaha bisnis dan sosial harus ahli (lobyist) dalam berhubungan dengan orang, secara khusus wirausaha sosial harus benar-benar mengetahui politik keorganisasian dan pemerintahan serta prosesnya.

Dedikasi

Dua karakteristik yang nampak pada seluruh wirausaha adalah besarnya tingkatan energi mereka yang luar biasa dan suatu dedikasi pemikiran tunggal terhadap satu tujuan. Mereka memiliki energi yang besar dan mereka memfokuskannya secara sungguh-sungguh kepada proyek yang sedang mereka tangani (Young, 1985). Ditambahkan pula, wirausaha sosial sering dikaitkan dengan cerita yang menakutkan tentang bagaimana memperoleh / meluluskan program atau lembaga baru tanpa alasan yang mendasar. Hambatan-hambatan keuangan, peraturan, politik, dan birokrasi seringkali tanpa akhir, membuat frustasi, dan kadang-kadang tak dapat diatasi, khususnya dalam usaha palayanan sosial di dalam atau tergantung pada sektor masyarakat. Hanya wirausaha sosial yang berdedikasi saja yang dapat terus bertahan.

Mendorong Kewirausahaan sosial

Peran krusial telah diberikan bahwa permainan kewirausahaan dalam menciptakan inovasi pekerjaan sosial, logis untuk mempertanyakan jika proses dari kewirausahaan adalah pada hakekatnya merupakan kesembronoan dalam kemunculannya dan keberhasilan atau apakah segala sesuatu dapat dilakukan untuk membuatu proses ini menjadi lebih terukur dalam membawakan perubahan yang konstruktif. Meski begitu McClelland dari Harvard University telah melakukan penelitian yang dapat diperhitungkan dengan mengidentifikasi karakteristik dari wirausaha potensial dan melatih mereka dengan bekerja di sektor khusus di negara yang kurang berkembang (McClelland & Steele, 1973), seleksi awal dan pelatihan kewirausahaan sosial merupakan kemungkinan saat ini yang bisa dimengerti oleh suatu negara.

Para individu ini akan memilih kesempatan mereka dengan aktivitas usaha pada waktu yang strategis dalam karir hidup mereka, dalam sejarah organisasi, atau dalam pengembangan bidangnya masing-masing. Mereka menjadi teridentifikasi sebagai wirausaha hanya berdasarkan fakta yang dialaminya. Ini bukan berarti, bagaimana pun juga, bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk memelihara kewirausahaan sosial. Terdapat dua bidang yang mungkin dapat dikedepankan adalah (1) pendidikan profesional pelayanan sosial, dan (2) strukturisasi dari lingkungan organisasi pelayanan sosial.

Pendidikan

Adalah betul-betul meragukan jika kewirausahaan itu sendiri dapat dipelajari —- begitu saja, jika pelatihan universitas sendiri dapat membuat seseorang menjadi seorang wirausaha, sekalipun bahwa seseorang mempunyai sifat-sifat kepribadian yang diperlukan untuk menjadi seorang wirausaha. Bagaimana pun, jika kewirausahaan secara esensial adalah suatu proses dari aktifitas pemecahan masalah, maka beberapa keterampilan tertentu dan pengetahuan yang luas berguna dalam proses tersebut dapat diterapkan kedalam kurikula perguruan tinggi. Seperti maka kuliah lainnya termasuk pemikiran analitis dan strategis, pemahaman akan proses politik dan organisasi, dan prinsip-prinsip negosiasi, pemasaran, dan keahlian mencari dukungan dana (grantsmanship). Suatu pendidikan liberal dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan juga akan membantu memberikan suatu pandangan yang luas bagi mereka yang akan menjadi wirausaha pelayanan sosial dengan memahami permasalahan-permasalahan sosial dan kebijakkannya yang membutuhkan inovasi. Untuk memperluas pengetahuan yang dibutuhkan bagi kewirausahaan tidak dapat hanya dibukukan saja tetapi mungkin dipelajari dengan contoh-contah, diskusi, dan analisa studi kasus dari keberhasilan dan kegagalan usaha pelayanan sosial, dan mengembangkan rencana bimbingan dengan mengikutsertakan para wirausaha yang berhasil membawa mahasiswa turut serta dalam lapangan kerja praktikum, mungkin juga akan berguna.

Perubahan Lingkungan Organisasi

Terdapat dua tingkatan pada lingkungan dari suatu organisasi pelayanan sosial yang dapat mendorong dan mengurangi aktifitas kewirausahaan: (1) atmosfir manajerial dalam lembaga dan (2) kondisi ekonomi dan peraturan dari lembaga. Dalam suatu organisasi, top manajemenlah yang mengatur irama apakah mungkin mendorong kewirausahaan atau membuatnya mandeg. Para wirausaha akan berani mengambil resiko, tetapi tingkat resiko yang dihadapi tergantung pada bagaimana tingkat toleransi dari manajemen. Pimpinan mendorong terciptanya lingkungan kewirausahaan lembaganya dengan berbagai cara : dengan meningkatkan pencarian dana dan menanggapi secara kreatif peluang-peluang bantuan yang ada, memberikan dukungan sepenuhnya kepada program baru yang menjanjikan, dan dengan mendelegasikan tanggung jawab dengan demikian wirausawan potensial akan dapat terbangun dengan pendekatan mereka sendirinya untuk memecahkan permasalahan dan akan dapat memantapkan suatu rasa memiliki bagi inisiatif mereka.

Pada akhirnya, suatu rezim manjerial yang mengupayakan aktifitas kewirausahaan seharusnya mengevaluasi kepribadian dan programnya berdasarkan pada hasil-hasil — apakah pendekatan penanganan masalahnya, atau apakah lebih menyesuaikan diri dengan menerima model praktik. Kesamaan sikap-sikap manajerial yang ditentukan oleh hasil juga cenderung untuk melihat hasil terbaik, paling kreatif, dan orang-orang berdedikasi dari sejumlah latar belakang dari pada bentuk staf dengan suatu lapangan praktik tunggal.

Tentunya juga faktor-faktor dari luar mungkin mempengaruhi inisiatif kewirausahaan. Jika pembentukkan karakter dari kewirausahaan sebagai suatu aktifitas pemecahan masalah adalah dapat diterima, kemudian diikuti dengan kewirausahaan yang mungkin ditopang oleh cara pendanaan dan pengaturan pelayanan sosial yang mendorong pemecahan masalah tersebut. Misalnya, lebih baik kategori pendanaan bentuk-bentuk pelayanan khusus, seperti halnya perawatan rawat inap, Meal-on-Wheels, dan seterusnya, lembaga-lembaga mungkin dapat didanai dengan menggunakan bantuan tertentu untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan keterangan-keterangan (fakta-fakta) kelompok klien, seperti remaja wanita yang hamil di luar pernikahan atau pemakai obat-obat terlarang, atau dengan bantuan perorangan bagi klien individual, seperti kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan sendiri untuk kaum manula. Dengan cara ini, pendanaan dapat mendukung setiap solusi atau paket-paket pelayanan yang membantu lembaga dapat bekerja lebih efektif dalam menangani setiap permasalahan, sungguhpun/sekalipun solusi-solusi tersebut melibatkan pendekatan konseling, pelayanan kesehatan, pendidikan, latihan kerja, bantuan pendapatan, atau berbagai bentuk bantuan lainnya di luar batas-batas resep konvensional.

Jika pendekatan ini telah diterima, evaluasi dan pengaturan dari pelayanan seharusnya memusatkan pada hasil, daripada menyesuaikan diri dengan kode-kode praktik. Dengan demikian, suatu pembayaran premi (jasa) dapat diletakkan berdasarkan gambaran permasalahan klien dan perkembangan indikator keberhasilan yang dapat terukur. Karena pengukuran permasalahan dan potensi penyalahgunaan, seperti metode-metode pendanaan dan peraturan mesti dibatasi dalam aplikasi potensi mereka. Bahkan, jika mungkin kewirausahaan dapat ditingkatkan, hal ini nampaknya dapat diarahkan melalui eksperimen.

Resiko Dalam Mendongkrak Kewirausahaan

Hanya saja kewirausahaan itu sendiri menuntut adanya keberanian menghadapi resiko, juga merupakan sumbangan rekomendasi bagi peningkatan kewirausahaan sosial. Terdapat suatu paradoks teretntu dalam menyarankan perubahan yang akan mengurangi hambatan-hambatan yang para wirausaha hadapi sekarang. Walaupun lingkungan keorganisasian yang lebih toleran akan mempermudah kerja para wirausaha, seperti perbaikan-perbaikan yang mungkin juga membuka sejumlah tantangan. Adalah mungkin bahwa kehidupan yang lebih mudah dapat hilang, apa lagi menggairahkan, perilaku kewirausahaan. Kewirausahaan mungkin lebih didorong oleh kemalangan dari pada oleh penerimaan. Jika demikian, maka kebijakan aturan kita seharusnya dilakukan revisi.

Mungkin suatu resiko yang lebih serius adalah bahwa sisi buruk perilaku kewirausahaan yang akhirnya tidak tercek membuatnya jadi tidak produktif. Para wirausaha cenderung untuk menyelesaikan masalahnya secara sendiri tulus iklas dan penuh semangat mengejar kejelasan dan kedalaman secara objektif. Mereka dapat menjadi begitu keranjingan akan proyeknya bahwa mereka kadang-kadang mengabaikan kenyataan di hadapan mereka. Kadang-kadang mereka menghadapi arah yang penuh dengan pemborosan atau konflik dengan pekerjaan lainnya yang produktif. Kadang-kadang mereka mendukung upaya mereka yang telah lama mereka lewati kegunaannya. Para wirausaha lainnya, lebih keranjingan dengan prosesnya dari pada prospek jangka panjang selama memanej usaha mereka, meninggalkan proyek mereka terlalau awal, sebelum mereka dapat memantapkannya di bawah manajemen lainnya.

Pada akhirnya, terdapat resiko potensial dalam penciptaan lingkungan yang mendorong kewirausahaan. Misalnya, suatu aturan dan lingkungan manajerial yang toleran akan kreatifitas, perbedaan latar belakang kepribadian, yang mungkin tidak cukup untuk memberikan perlindungan melawan shysters and quacks. Penerimaan suatu program pendidikan dengan sejumlah pendekatannya bagi pekerjaan sosial mungkin akan makin menipiskan keefektifan dari praktik klinik atau meruntuhkan moral profesional.

Jelas, kewirausahaan merupakan suatu bagian integral dalam pencapaian perubahan konstruktif dalam pekerjaan sosial. Wirausaha sosial adalah katalis untuk menjembatani suatu pemikiran masa depan, suatu solusi potensial bagi permasalahan-permasalahan penting, ke dalam sebuah inovasi yang akhirnya dapat menjangkau lapangan praktik secara luas. Kecenderungan akan banyaknya dan meningkatkan permasalahan sosial saat ini, sementara relatif lambatnya solusi yang efekti terhadap permasalahan ini telah terbangun, dan perkembangan saat ini dengan sejumlah pengakuan, kewirausahaan (entrepreneurship) kelihatannya menjadi barang yang amat langka yang seharusnya dikembangkan dan dipelihara.

——————-STR———————-

Adapted from

Champion of Change:

Entrepreneurs in Social Work

Dennis R. Young

SERIOUS PLAY

Creativity and Innovation in Social Work

Harold H. Weissman, Editor/Senior Author

1990, NASW (National Association of Social Workers), inc., Silver Spring, MD 20910

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • JURUSAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ================================ VISI: Menjadi Pengelola Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang Mengembangkan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Berbasis Kewirausahaan Sosial dan Memiliki Keunggulan Kompetitif MISI: 1. Bidang Pendidikan: Mengembangkan dan melaksanakan Kurikulum Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang berbasis kompetensi, antisipatif terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat dan teknologi global. Menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar (PBM) bagi mahasiswa dengan terus mengembangkan metode dan media yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan kurikulum pendidikan yang dikembangkan. Meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan. Mengembangkan jiwa “social enterpreneur” mahasiswa, baik melalui kegiatan kurikuler (praktikum) maupun ekstrakurikuler (kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa dan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan), untuk membentuk mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan mandiri, dengan tetap berpijak pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etika pekerjaan sosial. 2. Bidang Penelitian Melakukan kegiatan penelitian untuk menunjang proses belajar mengajar dan pengabdian kepada masyarakat melalui upaya membangun dan mengembangkan Laboratorium Kesejahteraan Sosial. 3. Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Mengembangkan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Laboratorium Kompetensi Kesejahteraan Sosial sebagai wahana pembelajaran sivitas akademika.