Universitas Padjadjaran

Pengembangan Teori Praktik

Oleh: santoso tri raharjo
April 28, 2010

Lawrence Shulman, 1991; Interactional Social Work Practice, Toward an Empirical Theory. F.E. Peacock Publishers, Inc. Itasca, Illiois

Oleh:

Santoso T. Raharjo

Proses Pengembangan-Teori

Profesi pekerjaan sosial berlum berkembang secara terintegrasi, terfokus-metodenya, secara empiris berlandaskan teori praktik. Argumentasi ini ditempatkan terlebih dahulu dalam rangka memperkaya basis teori kita di tahun-tahun sekarang ini. Misalkan, kita telah menambah pemahaman kita mengenai klien kita dengan gambaran terhadap kerangka yang dibangun dalam kaitan antar disiplin, misalkan psikologi perilaku-kognitif. Teori-teori lainnya mengenai interaksi dinamis klien kita dengan lingkungan sosial mereka (misalkan, model ekonologis, teori sistem sosial) telah menambah pemahaman kita. Persepsi kita mengenai dampak sosial di sekitar klien kita telah diperluas seperti yang model-model yang kita pinjam dari para pakar teori sosial (seperti, model penindasan dan rasisme, model determinisme ekonomis, teori dukungan sosial). Teori-teori tersebutlah yang telah membentuk praktik kita, yang telah menambah dasar pengetahuan profesi kita.

Namun begitu tidak dengan sedirinya teori-teori praktik itu berdiri sendiri. Teori-teori tersebut merupakan teori-teori untuk memahami mana yang tidak perlu dilakukan para pekerja sosial dalam menterjemahkan pengetahuannya ke dalam praktek. Bukan hal yang luar biasa bagi para pekerja sosial dan mahasiswa untuk menjadi frustasi dengan diskusi mengenai klien yang memperoleh penerapannya, jika kita hanya memahami klien, kita akan mengetahui bagaimana mengintervensi. Ini merupakan kekeliruan induktif dalam memahaminya karena metode membutuhkan deduksi penggunaan teori-teori pemahaman sebagai kontributor terhadap proses penegmbangan-teori.

Maas, menulis mengenai proses perkembangan teori-teori praktik pekerjaan sosial, membuat pembedaan secara jelas: “Inti teori pekerjaan sosial, sebagai pembeda dari teori-teori disiplin lain, adalah (yaitu) dan hanya dapat yang pekerja sosial lakukan dan menentukan (serta efeknya) terhadap perilaku …. “ (1963, p53). Dia sampai pada suatu kesimpulan bahwa “ konsep perhatian sosiologi, psikologi, ekonomi, antropologi, biologi, kedokteran (pengobatan), dan disiplin lainnya saling berkaitan dan mendukung terhadap teori-teori tersebut (praktik) hanya sebagai penambah pemahaman yang pekerja sosial lakukan, mengapa mereka bertindak apa yang mereka lakukan, dan apa efek dari tindakannya” (p. 53)

Seperangkat teori-teori lainnya, yang menambah literatur profesi kita dapat digambarkan sebagai teori-teori praktik. Teori-teori tersebut termasuk gambaran (konstrak) mengenai klien yang terrkait erat terhadap preskripsi bagi intervensi pekerja sosial. Cara-cara tersebut berdasarkan pada suatu rentang asumsi mengenai klien dan proses perubahannya. Banyak teori-teori tersebut yang dipinjam dari profesi yang berkaitan (misalkan, pendekatan perilaku kognitif, terapi keluarga secara struktural, terapi Gestalt). Meski teori-teori tersebut telah banyak memberi konsep praktik yang dapat mempermudah pembentukan suatu model praktik pekerjaan sosial, asalnya dari luar (sumbernya dari luar) dapat membawa kesulitan ketika hal tersebut dikembangkan sebagai teori praktik pekerjaan sosial. Sebagai contoh, mereka selalu terbatas pada jenis klien dan permasalahan tertentu. Kemudian pula, beberapa usulan pandangan praktik tidak merefleksikan kepentingan historis pekerjaan sosial dalam bagian sosial praktik kita. Mereka terkadang mengabaikan tradisi perhatian profesi kita terhadap isyu-isyu kebijakan sosial dan keadilan sosial yang berpengaruh terhadap klien kita dan yang melandasi sistem nilai keprofesian kita. Mengadopsi model-model tersebut dapat mengarahkan pekerja sosial yang mengarahkan pandangan mereka sendiri menjadi pertama-tama sebagai ahli terapis dan kedua pekerja sosial, atau bahkan bukan pekerja sosial sama sekali.

Ada juga teori-teori praktik yang spesifik pekerjaan sosial. Namun begitu teori-teori tersebut terartikulasi pada tingkat abstrak yaitu yang sulit untuk melihat jembatan, atau teori rentang-menengah (middle-range theory), yang mengkaitkannya dengan realitas para praktisi. Kategori tersebut merupakan upaya awal untuk membangun teori praktik asli yang didisain untuk mempersiapkan para praktisi yang keahlianya lebih ke arah generalist.

Pada akhirnya kita telah melihat langkah yang menjanjikan terhadap perkembangan suatu teori praktik umum yang unik bagi pekerjaan sosial dalam “life Model” praktek pekerjaan sosial, oleh Germain and Gitterman (1980). Upaya awal yang istimewa ini belum membumi secara empiris.

Kembali kepada asal mula dari bab ini, Lawrence mengatakan bahwa kita masih dalam tahap awal pembangunan berdasarkan suatu kenyataan, teori praktik pekerjaan sosial menyeluruh. Teori tersebut seharusnya menangani misi khusus dalam profesi kita. Teori tersebut seharusnya terfokus-metodenya (methodes-fokused), menyatu secara psikologis, dan teori-teori pemahaman sosial yang sesuai dengan praktik kita. Lawrence mengakui bahwa hal ini kompleks dan agak intimidatif. Sulitnya, karena sebagai sebuah profesi, kita telah memilih untuk sepakat berhadapan dengan orang yang menghadapi persoalan yang kompleks. Proyek ini bersifat tentatif, tahap awal dalam rangka mengarah pada pengembangan suatu teori. Ini sedikit merefleksikan kepercayaan Lawrence akan kemampuannya untuk mencapai tujuan tersebut daripada pemikiran mendesak yang dibutuhkan di awal.

Pada akhirnya, proses pengembangan-teori (theory-building) nampaknya berkembang secara alami. Pengamatan praktik membawa pada perkembangan hipotesa. Pengujian teori-teori tersebut juga mendukung atau menantang konstrak teoritis. Karena proposisi mengenai praktik dilakukan (didukung) secara berulang dalam kajian yang berbeda-beda, menjadikannya, dalam istilah Zetterberg (1965), theoritical generalizations (generalisasi teoritis) yang mana kepercayaan kita makin bertambah terhadap point penerimaan gagasan tersebut. Beberapa perbincangan proposisi dalam kajian/ studi ini yang telah dicapai pada tahap tertentu.

Cukup menarik, yaitu hipotesis yang tidak didukung oleh penemuan yang mungkin mengarah pada wawasan/pengertian yang begitu penting. Dalam melakukan penelitian pertamanya, Lawrence benar-benar tidak memahami konsep penelitian tersebut dan mengecewakan ketika gagasan unggulannya tidak sesuai dengan hasil. Dengan pengalaman yang ia pelajari bahwa proses berfikir kembali terhadap teori, didukung oleh penemuan yang tidak diharapkan (tidak sesuai), dapat mengarah pada pemahaman yang makin menjlimet mengenai persoalan yang sedang dikaji. Contohnya, dalam awal studi mengenai keterampilan praktik (Shulman, 1978) analisa data terhadap keterampilan bertentangan, yang menjadi krusial bagi efektifitas praktik pekerjaan sosial, tidak sesuai dengan hasil laporan yang diharapkan. Penemuan ini membawa pada formulasi dinamis yang semakin kompleks dari proses peretantangan, waktu yang diperlukan, kepentingan membangun hubungan kerja daripada konfrontasi, dan kontribusi dari kesiapan klien dalam proses (praktik).

Sebagai umpan balik kajian data dalam model teoritis, model itu sendiri berubah dan terus berkembang, mengarah pada suatu formulasi yang baru, yang mendasari kegiatan pengujian selanjutnya dalam dunia praktik yang nyata. Perkembangan teori praktik dipandang selalu berjalan, proses berputar dimana teori, penelitian, dan praktik selalu berinteraksi pada setiap saat. Pendekatan ini pada perkembangannya sangat terkait erat dengan pendekatan “grounded theory” teori yang dikembangkan leh Glaser and Strauss (1967). Daripada mengembangkan teori yang abstrak, dan baru kemudian melakukan penelitian untuk menguji bangunan teoritis, pendekatan teori grounded menggunakan pengamatan empiris untuk membangun teori. Dengan cara demikian terdapat hubungan begitu erat yang terpelihara antara teori dengan praktik dunia-nyata.

Paradigma dan Perkembangan Teori Praktik

Batasan Paradigma

Istilah paradigm digunakan dalam perbincangan seperti dipakai oleh Thomas Khun (1961) dalam bukunya mengenai proses perubahan dalam perkembangan teori ilmiah. Suatu diskusi singkat karya Kuhn akan merangkai secara bertahap untuk penerapan gagasannya terhadap perkembangan teori praktik pekerjaan sosial. Dia mendefinisikan paradigm sebagai pendekatan model, teori, dan penelitian yang membimbing suatu disiplin dalam memperoleh pengetahuan.

Dengan suatu ilustrasi, dia menggambarkan paradigma yang mendominasi (mempengaruhi) ilmu astronomi pada awal studinya. Paradigma tersebut dikembangkan oleh Ptolemy (Ptolemeus), yang menyatakan bahwa bumi adalah pusat dari segalanya. Banyak pengamatan dan catatan-catatan penemuan ara astronom dibangun berdasarkan hal tersebut, dan diterima, sebagai dasar asumsi. Sebagaimana Kuhn ungkapkan, sejumlah karya penting selama lebih 600 tahun didominasi oleh pandangan tersebut. Namun begitu, kelainan itu nampaknya dicerca para astronom pada suatu saat. Hal ini terjadi ketika peristiwa-peristiwa astronomis tidak mudah untuk dijelaskan dalam paradigma tersebut. Karena paradigma tersebut tidak mampu menjawab persoalan, para anggota masyarakat ilmiah berasumsi secara sederhana bahwa penemuan-penemuan peristiwa baru akan membantu menjelaskan penyimpangan tersebut. Jadi, pengetahuan ilmiah, diyakini, akan terus bertambah, dimana setiap penemuan baru akan menambah pemahaman umum.

Kuhn berpendapat bahwa kemajuan penting tersebut tidak terjadi melalui perubahan bertahap dalam pengetahuan tetapi melalui revolusi . Dia berpendapat bahwa proses revolusi tersebut sebagai pergeseran paradigma, dimana keseluruhan kerangka dasar disiplin berubah. Kuhn memberikan contoh mengenai penemuan teleskop oleh Galileo yang telah mengarahkan Copernicus untuk berpegang pada landasan astronomi dengan mengatakan suatu paradigma baru yang menempatkan Matahari sebagai pusat keseluruhan kehidupan (universe). Penggambaran berdasarkan eksperimen persepsi Gestalt, Khun berpendapat bahwa tidak mungkin melihat dunia melalui dua paradigma yang berbeda sama sekali pada saat yang sama.

Komunikasi antar manusia dimulai dari perbedaan paradigma yang sangat mendasar dapat menyulitkan karena mereka hanya dapat melihat pada fenomena yang sama dan memahaminya secara keseluruhan secara berbeda.

Kuhn juga berpendapat bahwa paradigma bisa baik bisa juga jelek. Sebagian besar paradigma membantu kemajuan suatu ilmu, dan gagasan-gagasan dikembangkan dalam suatu paradigma yang dapat berguna dalam sesuatu yang baru. Secara sederhana hal tersebut diatur dan digunakan kembali dalam gestalt yang berbeda. Suatu paradigma baru hanya diterima karena hal tersebut bermanfaat bagi suatu disiplin dalam membantu memberikan jawaban terhadap persoalan kekinian. Paradigma Copernican telah dimodifikasi dengan gagasan Newton dan akhirnya oleh Enstein. Dalam disiplin Astronomi sekarang ini telah terjadi pergeseran baru ke arah kemajuan.

Paradigma Pekerjaan Sosial

Pada awal perkembangannya pekerjaan sosial mengadopsi suatu paradigma yang yang saat itu mendominasi keprofesian ini. Paradigma tersebut dipinjam dari profesi medis, yang dianggap berhasil sebagai contoh dalam membangun pengetahuan ilmiah. Paradigma medis mempertimbangkan intervensi pada tiga tahap proses: kajian (penelitian), diikuti dengan diagnosa, dan kemudian treatment (pengobatan). Hasil evaluasi treatment telah ditambahkan sebagai tahap keempat yang didisain untuk memperoleh umpan balik informasi dalam suatu kajian proses. Mary Richmond (1918), yang pertama kali memandang akan pentingnya para pekerja sosial bergerak dari status “friendly visitors” menjadi profesional yang terbentuk secara ilmiah, ditopang dengan adopsi (pemanfaatan) model.

Paradigma tersebut membantu pekerjaan sosial berkembang sebagai sebuah profesi, dan elemen-elemen paradigma mungkin akan selalu menjadi pusat kegiatan profesi ini. Pendapat yang lebih maju disini adalah bahwa telah terjadi perubahan penting dalam pemahaman kita mengenai proses dan cara dinamis pertolongan dimana pekerja sosial dan klien saling berinteraksi. Terdapat wawasan baru bahwa suatu pergesaran paradigma mungkin berguna. Paradigma baru tersebut memasukan hal terbaik dari apa yang telah dikembangkan berdasarkan paradigma medis yang sementara ini menyediakan model cara pandang yang berbeda.

Lawrence menyatakan sesuatu yang penting bahwa ia tidak menggunakan istilah medical model yang seringkali dipakai untuk menggambarkan suatu orientasi sakit dan patologi terhadap asesmen klien. Para profesional pekerja sosial akan mengabaikan penggunaan medical model, yang berarti bahwa mereka memusatkan perhatiannya pada kekuatan klien daripada kelemahannya, dan bahwa mereka memahami klien dalam konteks sosial. Nampak biasa saja istilah ini namun mendasar sekali penggunaannya. Namun begitu berbagai pekerja sosial pada setiap pendekatannya masih menggunakan paradigma tiga-tahap meskipun mereka lebih menekankan pada diagnosis dan perubahan sistem dan mungkin juga diganti dengan terminologi lain yang berbeda.

Isyu-isyu Berkaitan dengan Paradigma Pekerjaan Sosial Saat ini

Beberapa isyu terkait dengan paradigma pekerjaan sosial antara lain menurut Lawrence:

F Pertama; paradigma mengisyaratkan bahwa pertolongan profesional terkadang keluar dari proses yang dia ingin pengaruhi; artinya kegiatan pekerja sosial banyak dipengaruhi oleh interaksi dari satu kejadian ke kejadian dengan klien seiring rencana treatment. Dan Menurut Lawrence, upaya pengembangan teori dan cara bergeser dari fokus dari proses kepada fokus terhadap klien sebagai bagian dari proses.

Paradigma diagnostik tiga-tahap meletakan tekanannya lebih besar pada pemahaman klien daripada pemahaman terhadap proses interaksi antara pekerja sosial dan klien.

F Kedua, terkait dengan pemakaian paradigma medis yang mendominasi dalam usaha pengembangann-teori kita yang mengisyaratkan adanya dikotomi antara pekerja sosial profesional dan dirinya sendiri (sisi kemanusiaan). Objektifitas profesional dinilai sebagai kualitas yang memperkenankan penolong untuk memisahkan dirinya sendiri dari perasaan-perasaan subjektif, sikap-sikap, dan keyakinan yang mungkin memberi pengaruh negatif terhadap praktik.

Sayangnya pandangan tersebut menciptakan dualisme dalam pemikiran sebagian besar profesional antara orangnya sendiri dan keprofesionalannya itu sendiri. Dari pada mencoba untuk mengembangkan sintesa dari keduanya, dimana setiap profesional (pekerja sosial) menggunakan dirinya sendiri dalam penerapan fungsi profesional.

Jiwa profesional (kualitas kemanusiaan) tersebut dapat ditambahkan sebagai paradigma dalam interaksi manusiawi antara pekerja sosial dan klien sebagai pusat model.

Isyu-isyu tersebut, secara lebih jauh lagi dapat dipandang sebagai suatu pergeseran paradigma yang memimbing keberadaan praktik, pengajaran dan penelitian pekerjaan sosial profesional.

Sebuah Paradigma Praktik Interaksional

Paradigma interaksional telah dijelaskan oleh William Schwartz dalam bimbingan sosial kelompok yang diterbitkan dalam The Social Work Encyclopdia (1977). Dia menjelaskan modelnya sebagai suatu pendekatan interactionist. Meski begitu sebenarnya Schwartz adalah seorang ahli pekerja sosial kelompok, ia tertarik untuk mengembangkan suatu teori praktik pekerjaan sosial dengan berbagai setting dan modalitas yang berbeda (individu, keluarga, kelompok, masyarakat).

Ketertarikannya tersebut mencatatkan dia dalam apa yang dikenal dengan aliran functional pekerjaan sosial, yang telah diterima secara luas dalam praktik hingga saat ini. Tiga hal penting di dalamnya termasuk dampak waktu saat praktik (permulaan, pertengahan, dan akhir), pentingnya empati dalam proses pertolongan, dan kewenangan yang jelas dari fungsi badan (sosial).

Schwartz akhirnya terkenal sebagai ahli interaksionis sosial, filosof sosial, dan sebagai perintis pekerjaan sosial dalam pengembangan sintesanya, yang dikenal dengan model interaksionis (catatan: Lawrence telah merubah istilah interactionist menjadi interactional; penekanannya terhadap proses daripada pada orang. Dilain waktu terkadang disebut model “mediating” atau “reciprocal”). Pusat paradigmanya adalah suatu pandangan terhadap hubungan pertolongan dimana realisasi-diri, sumber keluaran-energi (energy-producing) klien dengan tugas-tugas tertentu untuk berbuat, dan seorang profesional dengan fungsi khusus untuk bertindak, bersepakat satu sala lain sebagai pelaku yang saling tergantung dalan suatu sistem organis (1971). Fokus perhatiannya pada cara-cara dimana setiap orang dalam sistem “reverberates” (bergema) semua tindakan mereka tergantung pada alasan mereka berada disana, dengan perubahan tugasnya dari satu moment ke moment berikutnya (moment by moment).

Berawal dengan paradigma praktik ini, suatu energi terarah kepada pemahaman klien dalam suatu interaksi moment-by-moment dengan pekerja sosial. Keutamaan ditempatkan pada kemampuan pekerja sosial untuk memahami fungsinya dalam proses pertolongan dan cara-cara penerapan fungsi-fungsi tersebut yang membantu klien agar memainkan (peranannya) bagiannya secara aktif. Jargon yang dipergunakan antara laian, enhance (peningkatan), facilitate (kemudahan) dan enable (pemungkinan).

Prinsip lainnya berkaitan dengan paradigma interaksional adalah pemusatan metode. Metode adalah cara dalam mana pertolongan profesional menempatkan fungsinya dalam kegiatan. Keunggulan/ keutamaannya ditempatkan pada kemampuan pekerja sosial menjelaskan secara jelas terinci bagaimana peranan profesional (pekerja sosial) dilakukan. Keterampilan komunikasi, hubungan, dan pemecahan-masalah merupakan alat pekerja sosial digunakan untuk menerapkan fungsi mereka. Keterampilan yang maju tanpa dibarengi kesiapan mereka mempergunakan fungsi ‘rasa’ (perasaan) maka hasilnya tidak akan efektif. Pekerja sosial yang terlatih dalam menggunakan empati harus mengetahui pada hal mana perasaan untuk empati digunakan mencapai tujuan tertentu.

Pada akhirnya, memahami interaksi pekerja sosial – klien sebagai suatu sistem dinamis yang ada dalam sistem dinamis yang lebih besar (badan sosial, komunitas, masyarakat) mengarahkan kita pada suatu pendekatan holistik terhadap perkembangan dan penelitian teori.

Elemen-elemen Utama Sebuah Teori Praktik

Orang Dalam Interaksi

Bermula dengan asumsi bahwa variabel kepribadian pekerja sosial dam klien mepengaruhi interaksi, maka keterampilan pekerja sosial terkait dengan klien:

F Clarifying role, keterampilan menjelaskan; yaitu keterampilan penjelasan pekerja sosial, dalam bahasa yang sederhana, tidak menggunakan istilah ‘rumit’

F Articulating the clients feelings, keterampilan empati: yaitu kemampuan untuk merespon secara cepat terhadap kondisi perasaan yang dialami oleh klien.

Operasionalisasi Teori Praktik

Dalam rangka menguji suatu teori praktik, maka perlu dioperasionalisasikan dalam serangkaian hipotesa atau proposisi yang teruji secara kenyataan. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini dipinjam dari model Zetterberg’s (1965) bagi pengembangan teori sosiologi.

Elemen Determinan dan Akibat sebuah Proposisi

Zetterberg (1965) mengemukakan bahwa kita membangun proposisi yang dapat diuji (teruji) dengan mengenali elemen-elemen “determinant” (penentu) dan “resultant” (akibat/ hasil) bagi setiap proposisi, dikaitkan dengan istilah yang menggambarkan hubungannya. Lawrence akan mengilustrasikan proses ini dengan suatu contoh yang didapat dari studi awal Lawrence mengenai keterampilan praktik pekerjaan sosial (Shulman, 1978).

Dalam studi keterampilan praktik, Lawrence meemukan suatu hubungan yang positif antara skala yang didisain untuk mengukur pekerja sosial menggunakan keterampilan komunikasi dan hubungan/ relasi dan persepsi klien hubungan kerja yang posistif bersama pekerja sosial. Menggunakan pendekatan Zetterberg, effective use of communications and relationship skill akan menjadi elemen ‘menentukan’ dan the positive relationship akan menjadi elemen ‘akibat/ hasil’. Kembali pada penemuan dalam satu proposisi yang dapat diuji perlu ditambahkan istilah yang memberikan hubungan antara elemen determinan dan akibat/ hasil. Misalkan, Effective worker use of communications and relationship skills will result in the development of a positive working relationship with clients (Penggunaan keterampilan komunikasi dan relasi yang efektif oleh pekerja sosial akan menghasilkan berkembangnya hubungan kerja yang positif dengan klien). Kalimat will result in menggambarkan hubungan yang khusus antara dua elemen proposisi.

Hubungan Proposisi

Pada tahap berikutnya dalam pengembangan teori adalah menghubungkan proposisi sehingga menjelaskan alurnya (arah) melalui masing-masing hasil yang dipengaruhi. Efeknya, hasil dari suatu proposisi menjadi determinan selanjutnya. Berlanjut dengan contoh skala keterampilan praktik pekerjaan sosial, hasil dari proposisi, a positive relationship with clients menjadi determinan dalam proposisi berikutnya: the more positive the working relationship between worker and client the more the client will perceive the worker as helpful. Mungkin untuk satu elemen determinan berhubungan dengan lebih dari satu hasil/ akibat. Misalkan, suatu hubungan kerja yang positif juga dapat berkaitan dengan hasil keluarga yang positif.

Kesimpulan dari contoh bangunan-teori, sejauh ini adalah sebagai berikut;

  1. Pekerja sosial yang menggunakan keterampilan komukasi dan relasi secara efektif (a) akan menghasilkan perkembangan hubungan kerja yang positif dngan klien.
  2. Makin positif hubungan kerja antara pekerja sosial dan klien, (a) makin klien menerima pekerja sosial penuh manfaat dan (b) makin seorang pekerja sosial bermanfaat akan bermafaat dalam mempengaruhi hasil-hasil keluarga yang positif.

Dampak Variabel Ketiga

Upaya membangun-teori dengan demikian terpusat pada pengembangan dua variabel proposisi, salah satu sebagai determinan dan lainnya sebagai hasil/ akibat. Namun begitu, hidup itu tidak selalu sederhana. Seringkali hubungan antara dua variabel dapat secara signifikan dipengaruhi oleh (variabel) ketiga, atau sejumlah variabel lainnya. Misalkan tingak stress berkaitan dengan permasalahan klien yang mungkin memaikan peranan penting dalam mempengaruhi jalur antara pemakaian keterampilan parktik pekerja sosial dan persepsi kemanfaatan atau hasil-hasil kasus positif klien.

Pada akhirnya, variabel ketiga yang disebut dengan variabel intervening, yaitu yang mengantarai dampak variabel determinan terhadap hasil/akibat. Dapat saja seseorang berpendapat bahwa penggunaan keterampilan praktik pekerjaan sosial adalah penting yaitu memperkuat hubungan antara pekerja sosial dan klien, dan hubungan kerja tersebut merupakan media yang krusial melalui manfaat keterampilannya. Namun terdapat suatu proposisi yang makin menjelimet berpendapat bahwa penggunaan keterampilan tersebut akan membangun hubungan kerja yang positif, yang hanya merupakan pra kondisi bagi pertolongan yang efektif.

Kesimpulan

Proses membangun-teori dimulai dari praktik, menggunakan pengamatan formal dan informal untuk mengembangkan konstrak dan disain model guna membimbing para praktisi, dengan jelas. Penggunaan penelitian untuk menguji proposisi model juga untuk memunculkan proposisi baru bagi analisis selanjutnya.

————–

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

3 Komentar

Leave a Reply

  • JURUSAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ================================ VISI: Menjadi Pengelola Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang Mengembangkan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Berbasis Kewirausahaan Sosial dan Memiliki Keunggulan Kompetitif MISI: 1. Bidang Pendidikan: Mengembangkan dan melaksanakan Kurikulum Pendidikan Tinggi Pekerjaan Sosial yang berbasis kompetensi, antisipatif terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat dan teknologi global. Menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar (PBM) bagi mahasiswa dengan terus mengembangkan metode dan media yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan kurikulum pendidikan yang dikembangkan. Meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan. Mengembangkan jiwa “social enterpreneur” mahasiswa, baik melalui kegiatan kurikuler (praktikum) maupun ekstrakurikuler (kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa dan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan), untuk membentuk mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan mandiri, dengan tetap berpijak pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etika pekerjaan sosial. 2. Bidang Penelitian Melakukan kegiatan penelitian untuk menunjang proses belajar mengajar dan pengabdian kepada masyarakat melalui upaya membangun dan mengembangkan Laboratorium Kesejahteraan Sosial. 3. Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Mengembangkan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Laboratorium Kompetensi Kesejahteraan Sosial sebagai wahana pembelajaran sivitas akademika.