Universitas Padjadjaran

MENUJU SOCIAL WORKPRENEUR*

Oleh: admin kesos
March 26, 2013

Oleh:

Budhi Wibhawa**

 

Prakata

Social entrepreneurship, social entrepreneur, social enterprise telah muncul dan semakin dikenal meluas menjadi sebuah fenomena global, dengan berbagai versi menurut persepsi setiap masyarakat yang mengembangkannya dan merasa berkaitan kepentingan dengannya.

Jurusan KS, telah dikenal dan diakui sebagai lembaga pendidikan pekerjaan sosial yang kompetensi intinya adalah kewirausahaan sosial dalam praktik pekerjaan sosial.

Dua hal yang perlu digarisbawahi tentang hal tersebut :

  1. Jurusan ini bergerak di tataran praktika, bukan keilmuan murni, mulai dari direct services merambat sampai ke ranah kebijakan dan perencanaan sosial untuk terjadinya perubahan social.
  2. Jurusan ini memiliki versinya sendiri yang spesifik tentang kewirausahaan sosial, yaitu kewirausahaan sosial dalam praktik pekerjaan sosial

Berbagai pernyataan, berbagai tulisan, berbagai praktika yang telah berkembang di dalam masyarakat pada umumnya melihat kewirausahaan sosial sebagai daya mental untuk berkreasi dan berinovasi dalam gagasan-gagasan yang bersifat dan bertujuan sosial. Ujudnya pemberdayaan masyarakat  dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang mendasar. Dengan perkataan lain, lebih kepada pengentasan kemiskinan. Tentu saja tidak salah, bahkan dalam banyak kasus menunjukkan efektivitas social enterprise dibandingkan dengan bentuk organisasi sosial lama yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman dengan kompleksitas masalahnya.

Kurikulum pendidikan pekerjaan social yang sedang dikembangkan untuk 2012-2017 diarahkan untuk semakin menegaskan produk pendidikan yang hendak dihasilkan yaitu social workpreneur. Pekerja sosial yang berjiwa wirausaha.

Indonesia Sekilas

a. Dalam arus Globalisasi

Suka atau tidak, mau atau tidak, dunia sudah semakin terbuka, dan Indonesia berada di dalam pusaran fenomena yang disebut globalisasi dengan definisi formal yang manis memberi ilusi tentang kebersamaan bangsa-bangsa di dunia untuk bersinergi mencapai kesejahteraan manusia; namun dibalik itu terjadi pertarungan kepentingan nasional untuk mensejahterakan bangsa masing-masing. Dalam dunia ‘global’, secara keseluruhan masyarakat dunia ini terbagi dua, yaitu produsen dan konsumen. Para produsen yang adalah negara-negara ‘maju’ berusaha memperluas pasar produknya bukan hanya wilayah, melainkan menjaga agar pasar tetap menjadi konsumen. Fenomena ini terjadi dimana-mana, namun untuk Indonesia strategi para produsen tersebut tampak efektif menjadikan bangsa ini bangsa konsumen. Salah satu cara untuk menjaga kondisi tersebut adalah dengan penetrasi nilai-nilai budaya yang membuat bangsa konsumen kehilangan jati diri budayanya sendiri kemudian mengimitasi nilai-nilai budaya yang dirembeskan bersama produk industri.

Solusinya menurut kemudian saran Dr. Ali Shariati (dalam Amien Rais, 1982) : membangun diri sendiri, melepaskan diri dari pusaran (kultur). Artinya kembali ke jati diri, budaya masyarakat sendiri, tidak hanya untuk pijakan, melainkan juga untuk ‘modal usaha’.

b.    Dalam Situasi ‘KDRT’

Dapat disaksikan dengan semakin gamblang, dapat dirasakan oleh siapapun bahwa di masa reformasi yang sudah berlangsung 12 tahun ini, rakyat kebanyakan semakin kurang terurus karena kaum elit terus menerus bergulat dalam perebutan kekuasaan. Sebagian pengamat berpendapat, inilah proses menuju demokrasi yang sebenarnya, namun masalahnya rakyat dikejar hidup sehari-hari, bukan persoalan tahun dan periode.  Pasar menjadi penentu, semuanya diserahkan kepada pasar. Inilah kekerasan dari kaum elit kepada rakyat kebanyakan, yaitu ketidakperdulian sosial.

Mahfud MD (2011) menyatakan : “Situasi politik dan pemerintahan jalan di tempat. Pemerintah sudah tidak sempat lagi melaksanakan program-program pembangunan karena disibukkan dengan urusan politik. … Masyarakat kita bisa terus membangun dan menumbuhkan perekonomian, tanpa ada yang memimpin.

Jeffrey Winters (2010) : “Indonesia bangsa yang hebat. Tanpa kepemimpinan politik yang baik, pemerintahan yang kuat, pertumbuhan ekonomi bisa 6,9%.”

(Mahfud MD, PR, Sabtu 26 Februari 2011,Pemerintahan terjebak politik saling kunci, program-program pembangunan sulit dilaksanakan”.

Itu bidang ekonomi yang selalu menjadi isyu aktual bagi setiap politikus untuk etalase kampanyenya.  Semuanya baru wacana. Tetapi dua fenomena internal Indonesia yang disampaikan terdahulu barangkali kena dengan pepatah :”mun teu ngakal moal ngakeul” dalam pengertian sesungguhnya maupun plesetan.

Masalah sosial tidak hanya terjadi pada –dan dialami oleh- masyarakat miskin dan telantar dalam ukuran ekonomi saja, karena pada dasarnya masalah ekonomi bukanlah urusan pekerja sosial, melainkan urusan para ekonom dan politikus untuk menciptakan sistem ekonomi yang memakmurkan rakyat. Urusan pekerja sosial adalah masalah sosial yang dapat terjadi karena kondisi ekonomi, dapat juga menjadi penyebab terjadinya masalah ekonomi.

Dengan perkataan lain, masalah sosial dapat terjadi pada –dan dialami oleh- setiap orang dari semua golongan di dalam masyarakat; seperti dinyatakan oleh Johnson (1986) :

”…since many social problems result from change and because it is human to have such problems, the idea that any of us may be potential users of social services is made more acceptable. Any of us then might have occasion to need a social worker, not just the “poor”, the people from the “wrong side of the tracks”, or of some particular age, ethnic, or other group. This concept of social work may tend to bring about more humility and realism in our thinking, for troubles can, indeed, “happen to any of us”

Semua orang sibuk berbicara tentang masalah kemiskinan, ketika muncul konsep kewirausahaan sosial dan usaha sosial; maka penerapannya diarahkan ramai-ramai untuk menjawab tantangan masalah tersebut. Tanpa disadari tanpa terawasi, masalah sosial secara diam-diam maupun terang-terangan  merebak seperti gurita yang mengalami mutasi gen ke semua lapisan masyarakat, dengan jenis dan intensitas perkembangan yang semakin cepat.

Inilah ladang kosong yang tidak diperhatikan hampir semua orang karena negara ini terlalu disibukkan oleh persoalan ekonomi dan pergulatan politik kekuasaan yang tidak kunjung jelas. Inilah ladang (tugas, tanggung jawab, dan kewenangan keahlian) para pekerja sosial;  dan jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad merupakan lembaga pendidikan pekerjaan sosial yang menghasilkan para pekerja sosial.

Jika bagi orang umum kewirausahaan sosial dalam ujudnya social enterprise adalah bentuk ekspresi keperdulian sosial, maka bagi para pekerja sosial itu berarti keperdulian sosial dan keahlian untuk mewujudkannya dalam penggalian ide-ide solusi untuk setiap masalah sosial serta ujud tindakannya dalam praktik pekerjaan sosial.

  1. Social enterprise, seperti telah terbukti dalam praktika yang ada, telah menunjukkan efektivitas dalam pemberdayaan masyarakat untuk membangun dirinya sendiri dalam mengatasi masalahnya sendiri.
  2. Social enterprise harus dapat diterapkan kepada penanganan setiap masalah sosial yang sangat bervariasi
  3. Social enterprise harus dapat menjadi tempat para pekerja sosial meniti karier profesionalnya, seperti sekolah bagi para guru, klinik dan rumah sakit bagi para dokter, kantor pengacara bagi para ahli hukum, dan seterusnya.

Inilah tantangan terhadap jurusan kesejahteraan sosial fisip unpad untuk memiliki sebuah buku besar tentang implementasi konsep social entrepreneurship dan social enterprise dalam penanganan setiap masalah sosial –patologis maupun nonpatologis.

Masyarakat ini sudah dipenuhi dengan masalah-masalah social baik yang menimpa masyarakat maju maupun yang umumnya terjadi di masyarakat yang tidak maju-maju. Tugas dan kewenangan para pekerja sosial-lah untuk memenuhi masyarakat ini dengan social enterprise guna menangani setiap masalah sosial tersebut.

  1. Social assessment tentang kondisi sosial masyarakat ini.
  2. Identifikasi dan kategorisasi masalah sosial yang terjadi.
  3. Kajian profesi pekerjaan sosial
  4. Kajian social enterpreneurship dan social enterprise
  5. Penerapan social enterpreneurship dan social enterprise dalam penanganan setiap masalah sosial.

Demikian itu yang menurut saya harus dilakukan oleh jurusan ini untuk

  1. Meneguhkan dirinya sebagai pionir paradigma kewirausahaan sosial dalam kurikulum pendidikan pekerjaan sosial
  2. Menegaskan kompetensi lulusannya
  3. Meneguhkan praktik pekerjaan sosial di dalam masyarakat agar memperoleh pengakuan nyata dari masyarakat karena efektivitasnya dalam penanganan masalah-masalah sosial yang memang menjadi kewenangannya.

Setelah memulai ide ke arah ini sejak dekade 1990 dan telah mulai memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan sejak 2000, maka ini saatnya untuk menegaskan arah kurikulum pendidikan untuk menghasilkan socialworkpreneur.

Masih membutuhkan perjalanan (dan perjuangan) panjang untuk mewujudkannya (Wibowo, 2010). Benar, namun dapat saya (Wibhawa, 2010) tambahkan kata ‘menyenangkan’ di dalam perjalanan (dan perjuangan) penjang tersebut, karena setelah 35 tahun jurusan ini beroperasi,  sekarang sudah terdapat ketegasan arah pendidikan yang diselenggarakannya. Akan menyenangkan jika kita memperjuangkan sesuatu yang jelas, bukan sekedar bertahan hidup. Demikianlah makna sebuah visi.

 

**Ketua Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP-UNPAD

*disusun untuk disajikan dalam Seminar Pengembangan Kurikulum Pendidikan Pekerjaan Sosial oleh Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Kampus Jatinangor, Selasa 13 Maret 2012

 

Pustaka:

Amien Rais, M., 1987. Tugas Cendekiawan Muslim, CV Rajawali, Jakarta; terjemahan dari Ali Shariati, 1982, Man and Islam, University of Mashhad Press, Iran.

Johnson, Wayne, H., 1996, The Social Services, an Introduction, 2.nd. ed., F.E., Peacock Publishers, Inc., Itasca, Illinois

SWA sembada, no. 03/XXVI/4-17 Februari 2010; melahirkan Jutaan enterpreneur Baru melalui Social Enterpreneurship, caranya ?.

Harian Umum Pikiran Rakyat, Sabtu 26 Februari 2011, Pemerintahan terjebak politik saling kunci, program-program pembangunan sulit dilaksanakan).

 

Tags: , , ,

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • DEPT. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ===============================

    Keberadaan departemen ditujukan untuk:

    1). Menjamin kompetensi dan profesionalisme Dosen dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan akademiknya;

    2). Mengembangkan, mengevaluasi dan monitoring kemajuan karier akademik Dosen untuk mendukung pengembangan pendidikan;

    3).Mengoordinasikan kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan dosen sesuai bidang kompetensinya dalam rangka merealisasikan target kinerja lembaga;

    4). Mengoordinasikan pelaksanaan kerja sama pemanfaatan kepakaran Dosen oleh pihak lain seperti Pemerintah, pemerintahan daerah, swasta atau masyarakat;

    5). Merintis dan mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional;

    6). Memfasilitasi publikasi karya-karya ilmiah Dosen;

    7). Menyelenggarakan diseminasi hasil riset, pengabdian pada masyarakat, dan inovasi melalui kegiatan ilmiah di tingkat nasional dan internasional;

    Pemimpin Departemen:

    Ketua : Dr. dra. R. Nunung Nurwati, M.Si

    Sekretaris : Dr. Nurliana C. Apsari, S.Sos., MSW