Universitas Padjadjaran

EPISTEMOLOGI PEKERJAAN SOSIAL

Oleh: admin kesos
July 4, 2012

oleh

Ishartono

(Staf Pengajar Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP-UNPAD)

 

 

Pendahuluan

Sebelum telaah epistemilogi ini diuraikan, ada beberapa hal yang perlu dikemukakan terlebih dahulu sebagai alur pikir dari telaahan ini. Pertama, tulisan ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian Pertama menguraikan beberapa hal yang terkait dengan Filsafat, Epistemologi,dan Hakekat Ilmu. Bagian ini digunakan sebagai landasan berpikir dalam menelaah ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari dalam Program Studi S-2 Ilmu Kesejahteraan Sosial, Program Pascasarjana FISIP Universitas Padjadjaran. Bagian Ke dua menguraikan 2 hal, yaitu 1) perkembangan program studi/jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unniversitas Padjadjaran. 2). Telaah Epistemologi yang meliputi aspek-aspek yang ditelaah terkait dengan hakekat ilmu pengetahuan yang dijadikan obyek penelaahan. K edua, Bagian Kedua 1) perkembangan program studi/jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran ini perlu dikemukakan mengingat pengetahuan yang diajarkan dalam program studi/jurusan ini mempunyai sejarah yang tidak semua orang tahu dan perlu mengetahuinya. Dari uraian ini akan dikemukakan “apa yang akan ditelaah secara epistemologi” dalam tulisan ini. Ke tiga, tulisan ini adalah telaahan singkat tentang ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari dalam Program S2 Ilmu Kesejahteraan Sosial Program Pascasarjana FISIP Universitas Padjadjaran. Karena singkat, maka telaahan yang dilakukan juga tidak terlalu mendalam.

Dari uraian tersebut, tulisan ini disusun dalam sistematika sebagai berikut : Bagian Pertama : Berpikir Filsafat, Epistemologi, dan Hakekat Ilmu. Bagian Kedua, Perkembangan Program Studi/ Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran, Sejarah Perkembangan Pekerjaan Sosial, Proses dan Prosedur Pekerjaan Sosial, Obyek Formal Pekerjaan Sosial, Cara atau Teknik  Pengembangan Pengetahuan dalam Pekerjaan Sosial.

 

Bagian Pertama

1.1.Berpikir Filsafat

Tulisan ini dibuat sebagai telaahan terhadap suatu Ilmu Pengetahuan dalam kerangka mata kuliah Filsafat Ilmu. Telaahan ini akan berbeda jika dibuat dalam kerangkan yang lain. Oleh sebab itu perlu dikemukakan lebih dulu landasan berpikir dalam pembuatan telaahan ini.

Menelaah suatu ilmu pengetahuan dalam kerangka Filsafat Ilmu berarti menelaah ilmu pengetahuan tersebut dengan menggunakan pemikiran filsafat atau berpikir filsafat tentang ilmu pengetahuan tersebut. Berpikir filsafat mempunyai karakter tertentu. Yudhistira K. Garna mengemukakan bahwa “karakter berpikir filsafat mempunyai sifat :

 

a. Menyeluruh,

b. Mendasar,

 c. Spekulatif”

(Garna, Yudhistira K, 2010:3).

Mudhofir dalam Muntasyir&Munir (2002: 4-5) mengatakan bahwa ciri-ciri berfikir kefilsafatan sebagai berikut :

  1. Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
  2. Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jespers terletak pada aspek keumumannya.
  3. Konseptual, artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah Kebebasan itu ?
  4. Koheren atau konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
  5. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
  6. Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
  7. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan relijius.
  8. Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang-orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak –terhadap hati nuraninya sendiri.

Memang tidak mudah untuk menerapkan sifat-sifat berpikir seperti tersebut di atas dalam menelaah sesuatu dengan berpikir filsafat. Di samping memerlukan bekal pengetahuan filsafat yang cukup, juga memerlukan waktu yang lama. Meskipun demikian, telaahan ini  diupayakan menggunakan sifat-sifat tersebut secara optimal.

1.2.Epistemologi

Epistemologi adalah salah satu landasan dari tiga landasan atau aspek dalam telaah filsafat, yaitu Ontologi, Epistemologi, dan Axiologi. Banyak ahli mendefinisikan Epistemologi. Beberapa pengertian Epistemologi yang dikutip dalam tulisaan ini adalah sebagai berikut. Jujun S. Suriasumantri mengemukakan bahwa “Epistemologi atau teori pengetahuan membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan”(Jujun S. Suriasumantri,1999:9). Yudhistira K. Garna mengemukakan bahwa “jika filsafat itu berupaya untuk memperoleh pengetahuan mendasar dan mendalam tentang segala sesuatu, maka inti dari filsafat ialah pengetahuan, sedangkan filsafat tentang pengetahuan itu epsitemologi.  ”(Yudhistira K. Garna, 2003:123), sedangkan Elvira Syamsir mengemukakan bahwa :

“Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah)”. (dalam Anin, 2010:1)

            Dari ketiga pendapat tersebut terdapat beberapa persamaan. Pertama, obyek yang dibahas atau ditelaah dari epistemologi adalah pengetahuan.Ke dua, dari obyek tersebut, telaahan epistemologi difokuskan pada proses memperoleh pengetahuan tersebut.

            Terkait dengan telaahan dalam tulisan ini, maka ada dua pertanyaan yang muncul terkait dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari dalam program S2 Ilmu Kesejahteraan Sosial Program Pascasarjana FISIP Universitas Padjadjaran ini. Pertama, pengetahuan apa yang dipelajari ? Ke dua, bagaimana proses pengetahuan itu diperoleh.(untuk selanjutnya, proses memperoleh pengetahuan ini diuarikan dalam aspek : sejarah perkembangannya, proses dan prosedurnya, pusat perhatian, serta cara atau teknik dalam memperoleh pengetahuan)

1.3.Hakekat Ilmu

Uraian tentang Hakekat Ilmu ini perlu dikemukakan dalam tulisan ini didasari oleh beberapa pertimbangan. Pertama, telaahan ini ditulisan dalam konteks Filsafat Ilmu. Oleh karenanya perlu dikemukakan terlebih dahulu perihal Ilmu itu sendiri. Ke dua, telaahan ini berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan yang dipelajari pada Program S2 Ilmu Kesejahteraan Sosial Program Pascasarjana FISIP Universitas Padjadjaran. Perlu diketahui bahwa identitas keilmuan dari “ilmu pengetahuan” yang dipelajari pada program studi ini masih “debatable”, masih lemah. Jadi uraian tentang Hakekat Ilmu ini dimasukkan dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai salah satu landasan, khususnya dalam menentukan “obyek” telaahan eistemologi dalam tulisan ini. Ke tiga, uraian ini sebagai landasan dalam memilih judul tulisan ini yaitu “Epistemologi Pekerjaan Sosial”, bukan “Epistemologi Ilmu Kesejahteraan Sosial.”

Jujun S Suriasumantri mengemukakan beberapa hal terkait dengan hakekat ilmu. Dikemukakan bahwa :

“Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan… Hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut persyaratan keilmuan…Karena ilmu merupakan sebagian pengetahuan, yakni pengetahuan yang memiliki cirri-ciri tertentu, maka ilmu dapat juga disebut metode keilmuan… Gabungan antara pendekatan rasional dan empiris dinamakan metode keilmuan(Jujun S. Suriasumantri, 1999:9-12)

Berdasarkan pendapat Jujun S. Suriasumantri ini, hakekat ilmu lebih ditekankan pada “proses dan cara berpikir dalam memperoleh pengetahuan”, bukan pada “pengetahuan yang diperoleh”.. Proses dan cara berpikir yang menempatkan suatu pengetahuan itu disebut ilmu adalah metode keilmuan.

Dalam bahasa yang berbeda Yudhistira K Garna mengemukakan bahwa “

Ilmu atau ilmu pengetahuan bagi manusia adalah salah satu saja dari pengetahuan manusia, yang dapat ditegaskan dalam jajaran pengetahuan manusia tersebut sebagai pegetahuan ilmiah, yang untuk memperolehnya harus dicapai dengan metode ilmiah”(Yudhistira K. Garna,2003:37)

Dari ungkapan tersebut dapat dikemukakan bahwa ilmu adalah pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah (Jujun S. Suriasumantri menggunakan istilah “metode keilmuan”).

Terkait dengan telaah epistemology dalam tulisan ini, maka persoalan tentang obyek telaah dalam tulisan ini “di samping” Ilmu Pengetahuan yang dipelajari dalam program ini juga dapat “Pengetahuan Ilmiah” yang dipelajari dalam program ini. Oleh karena itu yang ditelaah dalam tulisan ini adalah “pengetahuan ilmiah”.

Ilmu pengetahuan itu terus berkembang. Sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan ini, Wibisono mengemukakan :

”Sejalan dengan perkembangan filsafat, ilmu pengetahuan pun berkembang dengan pesatnya. Dalam perjalanan selanjutnya, terdapat fenomena adanya suatu konfigurasi yang menunjukkan tentang bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” itu telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang-filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.’ (dalam Wang Muba, 2009:6)

Ini berarti bahwa suatu ilmu pengetahuan dapat berasal dari pohon yang sama dengan ilmu pengetahuan yang lain, karena masing-masing merupakan dahan atau ranting yang berbeda dari pohon yang sama. Meskipun masing-masing ilmu tersebut berkembang dengan mengikuti metodologinya sendiri-sendiri, namun jelas ada persamaan di antaranya, karena berasal dari pohon filsafat yang sama.

Persoalannya adalah bahwa telah berkembang pula suatu ilmu pengetahuan yang berasal dari pohon filsafat yang berbeda. Ilmu pengetahuan baru ini bukan tidak mungkin nantinya berkembang sebagai sebuah pohon tersendiri. Dalam Ilmu Tanaman (Botani) dan Ilmu Hewan (Zoologi) memang dikenal istilah “perkawinan” atau “persilangan” antar pohon atau antar binatang. Hanya saja, pohon atau binatang yang “dikawinkan” atau “disilangkan” ini harus berasal dari satu “family”. Jika berasal dari “family” yang berbeda, dua pohon tidak dapat disilangkan. Mungkinkah pohon kelapa dapat dikawinsilangkan dengan pohon mangga.?  Mungkinkah Gajah dapat dikawinsilangkan dengan harimau.?

Di dalam dunia ilmu pengetahuan ternyata tidak demikian. Beberapa ilmu pengetahuan baru, ternyata merupakan “persilangan” dari pohon yang berbeda. Misalnya, kita mengenal Ilmu Kedokteran Jiwa atau Psikiatri yang berasal dari Ilmu Kedokteran dan Psikologi. Kita juga mengenal Etnofarmakologi yang berasal dari Etnologi dan Farmakologi. Jika demikian, bukan tidak mungkin para ahli Filsafat Ilmu harus “membuat” klasifikasi ilmu pengetahuan yang baru.atau paling tidak pohon ilmu itu sudah rimbun, karena terlalu banyak dan dan rantingnya, bakan antara dahan yang satu dengan dahan yang lain atau antara ranting yang satu dengan ranting yang lain sudah saling menyatu. Pohon ilmu ini menjadi sangat rumit. Dalam ungkapan yang lain, dalam perkembangannya saat ini batas antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lain sudah sangat cair, sehingga kita semakin sulit mendeskripsikan batas suatu ilmu.

Ada tiga landasan dalam telaah secara filsafat, yaitu Ontologi, Epistemologi, dan Axiologi. Ketiga landasan tersebut digunakan untuk menemukan jawaban atas masing-masing pertanyaan  ”Dalam telaah secara filsafat, yang ingin menjawab pertanyaan tentang hakekat ilmu, terdapat tiga landasan, yaitu Ontologi (obyek apa yang ditelaah ilmu?), Epistemologi (bagaimana proses yang memungkinkan ditimba pengetahuan yang berupa ilmu?). Axiologi (untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan” (Yudhistira K. Garna, 2010:8). Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya atau dengan mengetahui jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia.  Dengan adanya fenomena perkembangan ilmu pengetahuan yang antara ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lain semakin cair atau dahan dan ranting dari pohon ilmu itu semakin rimbun dan saling menyatu, apakah ketiga landasan tersebut masih mampu menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya? Apakah “konsep pohon ilmu” ini masih dapat digunakan untuk “memetakan” ilmu pengetahuan yang ada ?

Fenomena seperti ini pulalah yang “mungkin” terjadi pada obyek yang ditelaah dalam tulisan ini.

 

Bagian Ke dua.

2.1. Perkembangan Program Studi/Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran

Nama program studi/jurusan biasanya identik dengan ilmu pengetahuan yang utama yang diajarkan pada program studi/jurusan tersebut atau setiap program studi/jurusan biasanya mempunyai satu ilmu pengetahuan yang ditempatkan sebagai ilmu pengetahuan utama yang diajarkan pada program studi/jurusan tersebut. Program Studi/Jurusan Antropologi menempatkan Antropologi sebagai ilmu pengetahuan utama yang diajarkan pada program studi/jurusan ini. Program Studi/Jurusan Sosiologi menempatkan Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan utama yang diajarkan pada program studi/jurusan ini. Program Studi/Jurusan Antropologi Sosiologi menempatkan Antropologi dan Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan utama dalam penyelenggaraan pendidikan pada program studi ini. Pertanyaannya, ilmu pengetahuan apakah yang ditempatkan sebagaiilmu pengetahuan utama dalam penyelenggaraan pendidikan pada Program Studi/Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran ?

Dalam penyelenggaraan pendidikannya, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial pada Program Pascasarjana FISIP Universitas Padadjaran tentu menyelenggarakan pendidikan  tentang pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan kepada para mahasiswanya. Pertanyaannya adalah “pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan apa yang ditempatkan sebagai ilmu pengetahuan pokok”?

Program studi/jurusan yang ada di perguruan tinggi di Indonesia pada awalnya bernama Jurusan Kesejahteraan Sosial, termasuk yang ada di FISIP Universitas Padjadjaran. Pada tahun 1992 Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Republik Indonesia menetapkan bahwa semua jurusan harus menggunakan kata “ilmu”, sehingga Jurusan Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran juga harus mengubah nama jurusan menjadi Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Pertanyaannya : apakah jurusan ini menempatkan Ilmu Kesejahteraan Sosial sebagai ilmu pengetahuan utama dalam penyelenggaraan pendidikannya ?.

Pada tahun 1999 Jurusan Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran menyelenggarakan Semiloka Pengembangan Kurikulum Pendidikan  pada Jurusan Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran. Hasil semiloka adalah bahwa

“ Pendidikan yang diselenggarakan pada Jurusan Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran adalah Pendidikan Pekerjaan Sosial, oleh karena itu kurikulum yang dikembangkan adalah kurikulum pendidikan Pekerjaan Sosial.

Pilihan ini didasari pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

  1. Profesi yang relevan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan profesi dalam penanganan permasalahan sosial di Indonesia adalah profesi Pekerjaan Sosial.
  2. Pendidikan yang diselenggarakan di dunia internasional adalah Pendidikan Pekerjaan Sosial dan mencakup pendidikan jenjang Undergreduate, Greduate, dan Post Greduate.
  3. Organisasi penyelenggara pendidikan yang ada di Indonesia adalah Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI). Di tingkat internasional, misalnya Asia Pasific Association of Social Work Education (APASWE), di Amerika ada Council of social Work Education(CSWE).
  4. Nama program studi/jurusan tetap Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, namun kurikulum pendidikan yang diselenggarakan dan dikembangkan adalah kurikulum pendidikan Pekerjaan Sosial ”

(Laporan Hasil Semiloka Pengembangan Kurikulum Pendidikan pada Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran, 1999:26)

Sejak semiloka tersebut Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran menyelenggarakan pendidikan Pekerjaan Sosial. Adapun nama jurusan ini tidak berubah, hal ini didasari pertimbangan bahwa perubahan nama jurusan memerlukan prosedur yang panjang dan memerlukan kesepakatan dari seluruh jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial yang ada di Indonesia. Demikian juga ketika dibukan Program Pascasarjana untuk jurusan ini (untuk jenjang S2 dan S3) nama program studinya tetap Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran dan kurikulum pendidikan yang diselenggarakan adalah kurikulum pendidikan Pekerjaan Sosial.

 

2.2. Pekerjaan Sosial : Ilmu atau Profesi ?

Dengan demikian telaah epistemologi dalam tulisan ini adalah telaah epistemologi Pekerjaan Sosial. Jika dikembalikan ke dalam konteks tulisan ini, yaitu Filsafat Ilmu, maka, maka obyek telaahan epistemologi ini adalah Ilmu Pekerjaan Sosial. Jika filsafat ilmu diartikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Yudhistira K. Garna, Filsafat Ilmu adalah telaahan ilmu secara filsafat, yang ingin menjawab pertanyaan tentang hakekat ilmu…Filsafat Ilmu adalah bagian dari epistemology atau filsafat ilmu pengetahuan yang secara spesifik adalah untuk mengkaji hakekat ilmu”. (Yudhistira Garna, 2003:11), maka yang akan ditelaah adalah sebuah ilmu.

Telah dikemukakan pada uraian tentang Berpikir Filsafat, bahwa salah satu sifat berpikir filsafat adalah “mendasar” atau radikal. Karena epistemology adalah telaah filsafat tentang ilmu. Maka satu pertanyaan yang mendasar tentang obyek yang akan ditelaah secara epistemology adalah “apakah Pekerjaan Sosial ini sebuah ilmu ?”.

Skidmore mengemukakan bahwa :

“Social work may be defined as an art, a science, a profession which help people to solve personal, group (especially family) and community problems and to attain satisfying person, group and community relationship through use of certain methods including casework, groupwork, community organization, and  enabling prosesss of research and administration” (Skidmore, Rex A. and Milton G. Thackeray, 1964:8) (Pekerjaan sosial dapat didefinisikan sebagai suatu seni, suatu ilmu, suatu proses yang membantu permasalahan perseorangan, kelompok (khususnya keluarga) dan masyarakat serta membantu perseorangan,kelompok, dan masyarakat memperoleh kepuasan hubungan melalui penggunaan metode pokok, termasuk casework, groupwork, dan community organization)

Dari pernyataaan tersebut Skidmore memang mengatakan bahwa Pekerjaan Sosial  adalah juga sebuah ilmu, di samping merupakan suatu seni dan sebuah profesi. Meskipun Skidmore memandang Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu, namun sebagai ilmu yang baru dibangun, masih pada taraf permulaan, seperti yang dikatakannya “It is a beginning science, because of its problem solving methods and its attempt to be obyective in ascertaining facts and in developing principles and operasional concepts. (Skidmore A. Rex and M. G. Thackeray, 1964 : 10)

Artinya, Pekerjaan Sosial ini dapat ditelaah secara epistemology, karena Pekerjaan Sosial merupakan sebuah ilmu, meskipun baru taraf “baru dibangun” Dalam perkembangannya Pekerjaan Sosial lebih eksist sebagai sebuah profesi. Meskipun demikian, upaya untuk membangun Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu terus dilakukan, terutama oleh kalangan akademisi. Oldřich Chytil, melalui kajiannya terhadap perkembangan pendidikan Pekerjaan Sosial di Republik Czech mempertanyakan “Is Social Work a Science or Is It Just a Profession?.(2006:1) . Pertanyaan tersebut mengindikasikan bahwa “ilmu Pekerjaan Sosial yang dibangun” ini sangat lambat perkembangannya. Lebih dari 30 tahun sejak buku Introduction to social work karya Skidmore et al yang merupakan salah satu text book penting bagi setiap mahasiswa yang mempelajari Pekerjaan Sosial, ternyata eksistensi Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu pengetahuan masih dipertanyakan.  Hingga saat ini bahkan tidak ada satupun dalam text book ditemukan definisi Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu. Dalam kajiannya lebih lanjut Oldřich Chytil mengemukakan :

The establishing of university education in social work had tremendous  significance not only for the development of social work as an academic discipline but primarily for the development of social work as a science. The precondition which makes it possible to develop a scientific discipline is that research results are available. The disciplines which prepared students for scientific work, for instance ‘social work science’, statistics, sociological research, and the like, were included into the curricula at both of the universities (Oldřich Chytil 2006:2)

(Pendirian/penguatan pendidikan Pekerjaan Sosial di universitas sangat penting, tidak hanya bagi pengembangan Pekerjaan Sosial sebagai sebuah disiplin akademik, tetapi terutama untuk pengembangan Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu. Untuk itu, prakondisi  yang mungkin dibuat untuk mengembangkan Pekerjaan Sosial sebagai ilmu adalah hasil-hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan. Disiplin ilmu yang disiapkan mahasiswa contohnya : Ilmu Pekerjaan Sosial, Sytatistik, penelitian Sosiologi, yang dimasukkan ke dalam kurikulum.( Oldřich Chytil 2006:2)

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa para akademisi terus berusaha mengembangkan Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu pengetahuan, melalui pendidikan di universitas. Dalam kesimpulan Oldřich Chytil mengemukakan

In the course of development of social work as a profession and as an academic discipline in the Czech Republic, it is possible to identify efforts to find theoretical grounding for social work. Social work, both in its practice as well as in social work education, tried to copy the logic of scientific work. It looked for theoretical sources to the methods used and verified practical results through research…. The re-installed social work education at universities at the departments of the social sciences (departments of sociology, pedagogy and education sciences) not only enabled the establishing of independent departments of social work at universities, but above all, it had a positive influence on the development of social work as an independent scientific discipline that respects the logic of scientific study in the social sciences. And the existence of doctoral programs of studies in social work is a guarantee of further development of social work as a scientific discipline. (Oldřich Chytil 2006:11)

(Dalam mata kuliah pengembangan Pekerjaan Sosial sebagai sebuah profesi atau sebuah disiplin ilmu di Republik Czech, sangat mungkin diidentifikasi upaya-upaya untuk menemukan alasan-alasan teoritik bagi Pekerjaan Sosial. Pekerjaan Sosial, baik di dalam praktik maupun pendidikan Pekerjaan Sosial, mencoba mengulang logika ilmu pengetahuan. Ini untuk mencari sumber ilmu pengetahuan bagi metode-metode yang digunakan dan mengukur hasil praktik melalui penelitian…..Dimasukkannya pendidikan Pekerjaan Sosial di universitas, pada departement Ilmu-Ilmu Sosial, tidak hanya digunakan untuk mendirikan departemen Pekerjaan Sosial yang mandiri di dalam universitas, tetapi semua itu telah memberikan pengaruh positif dalam pengembangan Pekerjaan Sosial sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang independen, yang  menghormati logika studi-studi ilmiah dalam ilmu pengetahuan sosial. Dan keberadaan program doktoral pada bidang Pekerjaan Sosial memberikan jaminan lebih jauh bagi pengembangan Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu. (Oldřich Chytil 2006:11)

Dari kesimpulan tersebut tampak bahwa eksistensi Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu pengetahuan sebetulnya masih lemah. Di samping sebagai sebuah profesi, Pekerjaan Sosial di Cheko baru sebatas disiplin akademik, namun melalui pendidikan tinggi terus diupayakan untuk mengembangkan Pekerjaan Sosial menjadi sebuah disiplin ilmu.

Jika pada tahun 1964 Pekerjaan Sosial dipandang sebagai ilmu yang baru mulai dan tahun 2006 Oldřich Chytil masih mempertanyakan, apakah pekerjaan Sosial sebagai ilmu pengetahuan atau hanya profesi, maka hal ini menggambarkan bahwa Ilmu Pekerjaan Sosial ini  memang kurang berkembang. Yang berkembang adalah Pekerjaan Sosial sebagai sebuah profesi. Dari sudut pandang filsafat ilmu, maka Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu masih lemah landasan ontologinya. Apakah dengan demikian, landasan epistemology juga tidak dapat digunakan untuk menelaah Pekerjaan Sosial ?

Jika filsafat ilmu diartikan sebagaimana yang dikemukakan Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) (dalam Akhmad Sudrajat, 2008 : 1) atau Menurut Beerling (1985; 1-2) filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara utnuk memperolehnya (  dalam Rone,2009 : 1). Dari kedua pendapat tersebut obyek telaahan filsafat ilmu  terfokus pada “proses bagaimana ilmu itu diperoleh dan cirri-ciri pengetahuan ilmiah. Berdasarkan pemikiran ini, mka obyek telaah filsafat ilmu tidak hanya ilmu pengetahuan, akan tetapi juga pengetahuan ilmiah.

Dari kajian Oldřich Chytil tersebut dapat dikemukakan pula bahwa, dalam upaya mengembangkan Pekerjaan Sosial sebagai ilmu, setidak-tidaknya banyak dihasilkan pengetahuan-pengetahun ilmiah. Pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan ini termasuk pengetahuan ilmiah karena cara penemuannya menggunakan metode ilmiah. Dengan demikian, Pekerjaan Sosial ini tetap dapat ditelaah secara epistemologi.

 

2.2. Telaah Epistemologi Pekerjaan Sosial

2.2.1. Sejarah Perkembangan Pekerjaan Sosial

            Sejarah perkembangan Pekerjaan Sosial ini dapat dibagi dalam 2 phase, yaitu phase pramodern dan phase modern. Pembagian phase ini di samping didasari oleh dimensi waktu, juga didasari oleh perkembangan permasalahan sosial, politik, keterlibatan masyarakat, serta profesionalisme dalam pengelolaan pekerjaan sosial, pendidikan pekerjaan sosial, maupun perkembangan kewilayahan.

Phase Pramodern

Pada awal kelahiran Pekerjaan Sosial, Abad Pertengahan di jaman Kekaisaran Romawi hingga tahun 1500an ketika Raja Henry III memisahkan diri dari gereja Katholik Roma dan lahirlah agama Kristen Protestan, pekerjaan sosial ditandai dengan kegiatan pemberian bantuan yang karitatif yang dilakukan oleh gereja maupun masyarakat kaya. Bantuan itu diberikan kepada orang miskin dalam bentuk panti (poorhouses), rumah jompo, rumah sakit dan panti asuhan anak yatim piatu .

“During the Middle Ages, the Christian church had vast influence on European society and charity was considered to be a responsibility and a sign of one’s piety. This charity was in the form of direct relief (for example, giving money, food, or other material goods to alleviate a particular need), as opposed to trying to change the root causes of poverty “(Wikipedia, free encyclopedia)

“Selama abad ini gereja sangat berpengaruh. “amal itu dianggap sebagai tanggung jawab dan tanda’s kesalehan ini diwujudkan dalam bentuk bantuan langsung (misalnya, memberikan uang, makanan, atau barang bahan lain untuk mengurangi kebutuhan tertentu), sebagai upaya melawan kemiskinan” (dalam Wikipedia)

Pada phase pramodern ini pekerjaan sosial masih merupakan pekerjaan atau aktivitas yang didasari oleh ajaran agama (Kristen) yang sikap karitatis (Charity). Hal ini dikarenakan masih kuatnya pengaruh gereja, terutama di Eropa pada Abad pertengahan. Pekerjaan sosial masih terfokus pada pemberian bantuan kepada orang miskin, jompo, anak terlantar. Perkembangan yang terjadi dalam Pekerjaan Sosial ini adalah perubahan dari pemberian bantuan yang awal dilaksanakan oleh masyarakat secara perseorangan dan dikelola oleh gereja melalui paroki, berkembang pada munculnya organisasi-organisasi kemasyarakatan namun kegiatannya masih karitatif.

 

 

 

Phase Modern

 

Pada phase ini terjadi perubahan struktur sosial. Feodalisme jatuh. Orang miskin mulai disikapi sebagai ancaman bagi tatanan sosial, sehingga Negara perlu melakukan intervensi yang ditandai dengan keluarnya undang-undang kemiskinan, The Henrician Poor Law (1536) and the Parish Poor Rate (1572)The Elizabethan Poor Law (1601).  Pada masa ini terjadi perkembangan Pekerjaan Sosial. Kelompok sasaran dari kegiatan Pekerjaan Sosial ini mulai diperluas, tidak lagi hanya untuk orang miskin, dan dikelompokkan.

“1600s: Poor Law principles introduced to New World by Plymouth colonists. Poor and unfortunate  divided into two groups: “deserving” sick, disabled, widows, orphans and thrifty old; and “undeserving” offenders, unmarried mothers, vagrants, unemployed and the old without savings” (S. Rengasamy, 2008:2)

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Negara/kerajaan mulai menata aktivitas Pekerjaan Sosial, yaitu dengan memperluas jangkauan penerima bantuan dan mulai melakukan pengelompokan. “deserving” sick, disabled, widows, orphans and thrifty old; and “undeserving” offenders, unmarried mothers, vagrants, unemployed and the old without savings” (S. Rengasamy, 2008:3). Perkembangan masalah sosial yang semakin kompleks juga mendorong muncul aktivis-aktivis sosial yang terlibat dalam kegiatan Pekerjaan Sosial. Perkembangan lainnya adalah mulai dibangunnya rumah-rumah /panti untuk gelandangan (workhouse) dan mulai dikelola oleh semacam yayasan (private entrepreneur) yang kemudian disusul dengan bermunculannya organisasi sosial/kemasyarakatan (Charity Organization Societies) pada abad 19.

Pada phase ini juga muncul fenomena lain. Terjadi Revolusi Industri yang ternyata juga berdampak pada meluasnya permasalahan sosial. Pekerjaan sosial juga mulai meluas ke berbagai Negara, baik di Eropa dan juga di Amerika. Perkembangan ilmu pengetahuan juga mulai mewarna aktivitas Pekerjaan Sosial. Muncul suatu filosofi baru dalam Pekerjaan Sosial yaitu “Amal Ilmiah” (Scientific Charity). “A new philosophy of “scientific charity” emerged, which stated charity should be “secular, rational and empirical as opposed to sectarian, sentimental, and dogmatic”(Wikipedia:3)

Di Amerika Serikat pekerjaan sosial tidak hanya menangani masalah orang miskin. Permasalahan yang terjadi pada masyarakat perkotaan, seperti prostitusi, penyakit, dan terutama permasalahan kaum imigran juga menjadi garapan para pekerja sosial. Penanganan permasalahan kaum immigrant yang paling berat adalah permasalahan pemukiman, sehingga memicu muncul “gerakan pemukiman” (resettlement movement). Gerakan ini lebih focus pada kaum miskin melalui 3 R. “The settlement movement focused on the causes of poverty through the “three Rs” – Research, Reform, and Residence” (Wikipedia : 4).

Penggunaan berbagai pendekatan dalam Pekerjaan Sosial mendorong munculnya pertanyaan “apakah pekerjaan sosial ini sebuah profesi?”. Di saat yang sama, di akhir tahun 1800an lahirlah untuk pertama kalinya sebuah pendidikan Pekerjaan Sosial di New York.

“1898: The first school for social workers is established. The New York School of

Philanthropy (later to become the Columbia University School of Social Work) grows out of a series of summer workshops and training programs for volunteers and friendly visitors and offers a one-year educational program” (S. Rengasmy, 2008:4)

Pendidikan Pekerjaan Sosial pun bermunculan di berbagai Negara bagian. Berbagai pendekatan ilmiah terus dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu.

“1914: Canada’s first school of social services at the University of Toronto; emphasis of first curriculum on social economics, social psychology and social ethics theories; practice emphasis on social settlements and community work, penology, medical social services, recreation, immigration, labor, and child welfare” (S. Rengasamy, 2008:3).

 

Semakin banyaknya lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan Pekerjaan Sosial ini kemudian diikuti dengan lahirnya asosiasi pendidikan pekerjaan sosial maupun asosiasi pekerja sosia, baik di tingkat nasional maupun internasional..

“1919: The 17 schools of social work that exist in the United States and Canada form the Association of Training Schools for Professional Social Work to develop uniform standards of training and professional education. This group is later renamed the American Association of School of Social Work (AASSW), eventually becoming the Council on Social Work Education (CSWE)”.

Metode ilmiah yang pada umum interdisipliner maupun multidisipliner terus dikembangkan dan diterapkan dalam aktivitas pertolongan Pekerjaan Sosial, karena pendekatan holistic yang dikembangkan menjadi salah satu cirri pekerjaa sosial.

Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan pekerjaan sosial, semakin banyak pula akademisi yang melakukan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian-penelitian ini menghasilkan berbagai teori maupun teknik,  baik dalam rangka mengembangkan atau menemukan metode-metode baru dalam rangka meningkatkan efektivitas penanganan masalah bagi para praktisi maupun mengembangkan konsep-konsep maupun teori baru. Seminar-seminar ilmiah maupun penulisan text book yang menambah pengetahuan ilmiah. Lembaga-lembaga pendidikan juga terus mengembangkan kurikulumnya dalam rangka menghasilkan pekerja sosial yang lebih professional..Dari pengembangan kurikulum inilah muncul definisi Pekerjaan Sosial. The Council on Social Work Education di Amerika Serikat berhasilkan membuat rumusan tentang Pekerjaan Sosial.

“social work seeks to enhance to the social functioning of individu, singly and in groups, by activities focused upon their social relationship with constitute the interaction between man and his environment. These activities can be grouped into three functions :restoration of empaired capacity, provision of individual and social resources, and prevention of social dysfunction” (Skidmore et al, 1964:6)

(pekerjaan sosial berupaya meningkatkan keberfungsian sosial individu, single ataupun di dalam kelompok, melalui aktivitas yang difokuskan hubungan sosial antara manusia dengan lingkungannya. Aktivitas itu dapat dikelompokkan ke dalam3 fungsi, yaitu pemulihan kapasitas yang rusak, penyediaan sumber-sumber bagai individu dan menyediakan sumber-sumber individu dan sosial, dan pencegahan ketidakberfungsian sosial.)

Dari definisi tersebut Pekerjaan Sosial mempunyai :

Obyek             : Manusia, khususnya yang bermasalah

Tujuan             : keberfungsian sosial individu secara perseorangan atau di dalam kelompok

Aktivitas         : a. focus : hubungan sosial manusia dengan lingkungannya

b. fungsi : 1). Pemulihan kapasitas yang rusak

2). Penyediaan sumber-sumber individu dan sosial

3). Pencegahan ketidakberfungsian sosial

Definisi tersebut belum memperlihatkan kontribusi ilmu pengetahuan dalam aktivitas Pekerjaan Sosial.

Pada tahun 2000 Dalam Konferensi Dunia di Montreal Kanada, Juli tahun 2000, International Federation of Social Workers (IFSW) mendefinisikan pekerjaan sosial (social work) sebagai berikut (Suharto, 2005). Skidmore et al, 1964:6)

The social work profession promotes problem solving in human relationships, social change, empowerment and liberation of people, and the enhancement of society. Utilizing theories of human behavior and social systems, social work intervenes at the points where people interact with their environments. Principles of human rights and social justice are fundamental to social work. (Suharto, 2005:25)

( Profesi Pekerjaan Sosial meningkatkan pemecahan masalah dalam hubungan antar manusia, perubahan sosial, pemberdayaan dan pembebasan orang, dan perbaikan masyarakat. Penggunaan teori tentang Perilaku manusia dan system sosial, intervensi pekerjaan sosial  pada titik dimana orang-orang berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip hak asasi manusia dan keadilan sosial merupakan sesuatu yang fundamental bagi pekerjaan sosial)

Dibandingkan dengan definisi Pekerjaan Sosial yang dikemukakan Skidmore tersebut, definisi Pekerjaan Sosial ini sudah menampakkan kontribusi ilmu pengetahuan dalam aktivitas profesi ini. Teori-teori tentang Perilaku Manusia dan Sistem Sosial yang termasuk dalam ilmu-ilmu “Human Bevavior and Social Environment” merupakan kelompok ilmu pengetahuan yang menjadi “roh” dari pengembangan Pekerjaan Sosial.

Perkembangan Pekerjaan Sosial saat ini, khususnya dalam konteks keilmuan dapat dilihat dari pernyataan bahwa “Social work, an interdisciplinary field, includes theories from economics, education, sociology, medicine, philosophy, politics, psychology, and as well as anti-oppressive and anti-racist discourse” (Wikipedia 3, 2010 : 1). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Oldřich Chytil “sociologists and pedagogues who strove (bekerja keras) to establish an independent profession of a social worker and develop social work into an integral scientific discipline.” (Oldřich Chytil 2006:1) Dari pernyataan ini jelas bahwa Pekerjaan Sosial adalah sebuah bidang kajian ilmiah interdisipliner, yang dibangun dari teori-teori yang berasal dari ilmu ekonomi, pendidikan, sosiologi, kedokteran, filsafat, politik, psikologi”. Karena dibangun dari ilmu-ilmu pengetahuan, maka pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan atau dikembangkan dalam Pekerjaan Sosial ini merupakan pengetahuan-pengetahuan ilmiah.

.           Kesimpulan

Pekerjaan Sosial lahir pada masa kekaisaran Roma di Eropa dari kegiatan-kegiatan dalam membantu orang-orang miskin. Pengelolaan pemberian bantuan ini dilakukan gereja melalui paroki-paroki. Pekerjaan Sosial memang lahir dari “charity movement” yang didasari oleh ajaran agama (Kristen) karena kuatnya pengearuh gereja dalam kehidupan masyarakat saat itu.  Orang-orang terlibat sebagai Pekerja Sosial voluntir sebagai tindakan amal (charity). Terjadi beberapa perubahan sosial di Eropa. Feodalisme hancur. Orang miskin disikapi sebagai ancaman bagi tatanan sosial yang ada, sehingga Negara turun tangan dengan mengeluarkan undang-undang kemiskinan. Terjadi Revolusi Industri yang ternyata membawa ekses munculnya berbagai masalah sosial. Pengangguran, prostitusi, gelandangan dan pengemis, orang-orang jompo, anak yatim, menjadi masalah sosial yang muncul diberbagai tempat. Makin banyaknya permasalahan sosial ini ternyata juga mendorong bertambahnya jumlah aktivis sosial sebagai voluntir dalam Pekerjaan Sosial. Keterlibatan para pekerja sosial voluntir dalam kegiaan charity ini kemudian berkembang dari perseorang menjadi kegiatan yang terorganisasikan. Kegiatan organisasi ini masih bersifat Charity.

Pekerjaan Sosial mulai meluas ke berbagai Negara. Perkembangan ilmu pengetahuan membawa pengaruh terhadap proses pemberian bantuan. Psikologi memberikan kontribusi dihasilkannya metode pertolongan perseorangan (Social Case Work). Sosiologi memberikan kontribusi atas dihasilkannya metode pertolongan berbasis kelompok (Social Group Work) dan pertolongan berbasis masyarakat (community development). Pendekatan-pendekatan ilmiah mulai digunakan yang pada akhirnya mampu mengembangkan metode dan teknik, yang ditemukan melalui penelitian-penelitian ilmiah. Pemberian pertolongan oleh Pekerja Sosial pun mulai menggunakan metode atau teknik baru hasil temuan penelitian ilmiah.

Perkembangan Pekerjaan Sosial juga ditandai dengan meluasnya Pekerjaan Sosial ke berbagai Negara, termasuk Amerika Serikat. Kebutuhan akan profesionalisme dalam pemberian bantuan terus meningkat. Berbagai pelatihan tenaga Pekerja Sosial dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah mulai banyak dilakukan. Berdirinya pendidikan Pekerjaan Sosial di tingkat universitas semakin mendorong dilakukannya pendekatan-pendekatan ilmiah guna meningkatkan profesionalisme Pekerja Sosial, melalui berbagai kegiatan penelitian ilmiah, seminar-seminar ilmiah. Buku-buku ilmiah mulai banyak ditulis oleh para akademisi maupun praktisi Pekerjaan Sosial. Pada akhirnya Pekerjaan Sosial berkembang menjadi sebuah profesi. Para Pekerja Sosial bekerja secara professional, karena didasari oleh seperangkat ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang juga sudah mulai digunakan dan dikembangkan.

Dikaitkan dengan hakekat ilmu pengetahuan, saat ini Pekerjaan Sosial merupakan sebuah bidang kajian ilmiah  interdisipliner, yang dibangun dari teori-teori yang berasal dari ilmu ekonomi, pendidikan, sosiologi, kedokteran, filsafat, politik, psikologi.

2.2.2. Proses dan Prosedur Perkembangan Pekerjaan Sosial

Kontribusi ilmu pengetahuan yang semakin besar dalam pengembangan Pekerjaan Sosial dilakukan melalui pendekatan-pendekatan ilmiah (scientific approach), baik melalui penyelenggaraan pendidikan formal (hingga ke jenjang doctoral), penelitian-penelitian ilmiah, maupun kajian-kajian lain dalam bentuk seminar ilmiah maupun penulisan karya-karya ilmiah.

Perkembangan Pekerjaan Sosial di setiap Negara memang berbeda-beda. Hal ini terkait dengan perbedaan sejarah dari masing-masing Negara, sehingga “starting point, perkembangan’ berkembangnya Pekerjaan Sosial di masing-masing Negara juga berbeda. Di samping perbedaan sejarah antara Negara, focus perhatian Pekerjaan Sosial dalam satu Negara juga dapat berbeda dari waktu ke waktu. Dalam hal ini Puji mengemukakan bahwa “The holistic focus of social work is universal, but the priorities of social work practice will vary from country to country and from time to time depending on cultural, historical, and socio-economic conditions” (Puji,2000)

Meskipun perkembangan Pekerjaan Sosial antara Negara yang satu dengan Negara yang lain, namun ada satu hal yang sama dalam proses perkembangannya. Ada tahapan yang hampir sama, yang dilalui oleh setiap Negara.Beberapa persamaan itu antara lain :

  1. Pekerjaan Sosial muncul sebagai respon atas permasalahan yang terjadi pada masyarakat saat itu. Di negara-negara di Eropa, Pekerjaan Sosial muncul sebagai respon atas permasalahan kemiskinan dan kecacatan. Di Amerika Serikat, Pekerjaan Sosial muncul sebagai respon atas permasalahan sosial yang muncul sebagai dampak Urbanisasi dan Immigrasi sebagai akibat Industrialisasi, misalnya masalah pemukiman, pengangguran, gangguan mental, dsb.
  2. Pekerjaan Sosial lahir dari tradisi karitatif di dalam masyarakat. Pekerjaan Sosial dianggap sebagai kegiatan amal (charity) yang tetunya ini merupakan pengaruh dari ajaran agama (gereja). Dengan demikian, Pekerja Sosial hanya perlu bekal “niat baik” saja, belum memerlukan bekal ketrampilan dan pengetahuan.
  3. Pekerjaan Sosial diawal kelahirannya belum terorganisasikan secara rapih, masih ditangani oleh keluarga-keluarga. Dalam perkembangannya muncul kebutuhan untuk mengorganisasikan diri, sehingga kemudian lahirlah organisasi-organisasi kemasyarakatan yang melaksanakan Pekerjaan Sosial secara terorganisasi, namun tetap masih bersifat Charity.
  4. Dalam perkembangannya muncul kebutuhan dari para Pekerja Sosial untuk meningkatkan kualitas pemecahan masalah yang ditanganinya, karena upaya pemecahan masalah yang sebelum dinilai kurang efektif atau belum optimal. Dari sini muncul kesadaran atau kebutuhan akan profesionalisme Pekerjaan Sosial yang mereka jalani.
  5. Peningkatan profesionalisme kinerja Pekerja Sosial ini dicapai melalui penggunaan ilmu pengetahuan atau metode-metode ilmiah dari ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan yang terkait. Konsep-konsep, teori-teori dari berbagai ilmu pengetahuan mulai digunakan atau diterapkan dalam pelaksanaan Pekerjaan Sosial, seperti Psikologi, Sosiologi, Kedokteran, dsb disesuaikan dengan kebutuhan permasalahan pokok yang ditangani di setiap Negara.
  6. Kebutuhan untuk terus meningkatkan profesionalisme Pekerja Sosial semakin kuat. Bermunculanlah kegiatan-kegiatan pelatihan yang pada akhirnya berkembang menjadi pendidikan formal. Dari sini muncullah lembaga-lembaga pendidikan Pekerjaan Sosial (School of Social Work) yang saat ini telah berkembang hingga jenjang postgraduate, tingkat doctoral. Penelitian-penelitian ilmiah, pertemuan-pertemuan/seminar ilmiah juga terus dilakukan, baik oleh lembaga pendidikan Pekerjaan Sosial maupun oleh Para Pekerja Sosial melalui Asiasi Pekerja Sosial. Hasilnya, berbagai konsep, method, teknik, bahkan kajian-kajian ilmiah sudah dihasilkan. Pekerjaan Sosial dilaksanakan secara professional, berbasis the body of knowledges, etika, dan kode etik.
  7. Sebagai sebuah profesi, Pekerjaan Sosial memang sudah berkembang jauh dan eksistensinya di dunia internasional sudah kuat. Persoalannya, apakah Pekerjaan Sosial sebagai sebuah ilmu juga sudah berkembang sejauh perkembangan Pekerjaan Sosial sebagai profesi atau masih tetap seperti yang dikemukakan Skidmore pada tahun 1964 bahwa “Social work may be defined as an art, a science, a profession…..It’s a beginning science” ?

2.2.4. Pusat Perhatian Pekerjaan Sosial

            Uraian tentang pusat perhatian Pekerjaan Sosial ini akan diambil dari definisi Pekerjaan Sosial yang saat ini dipegang oleh komunitas Pekerja Sosial, maupun akademisi Pekerjaan Sosial. Ada berbagai definisi Pekerjaan Sosial, baik berdasarkan sudut pandang  para ahli maupun berdasarkan waktu. Dalam tulisan ini definisi Pekerjaan Sosial yang akan digunakan adalah definisi Pekerjaan Sosial yang sampai saat ini diakui di dunia internasional Konferensi Dunia di Montreal Kanada, Juli tahun 2000, International Federation of Social Workers (IFSW) menghasilkan kesepakatan dalam mendefinisikan Pekerjaan Sosial. Definisi pekerjaan sosial (social work) ini adalah sebagai berikut (dalam Suharto, 2005 & Puji http://www.facebook.com/topic.php?uid=107090686430& topic=10050)

The social work profession promotes problem solving in human relationships, social change, empowerment and liberation of people, and the enhancement of society. Utilizing theories of human behavior and social systems, social work intervenes at the points where people interact with their environments. Principles of human rights and social justice are fundamental to social work.

Pusat perhatian dapat dikatakan obyek. Di dalam ilmu pengetahuan dikenal adanya Obyek Material dan Obyek Formal. Yang disebut obyek material adalah

“ sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian ilmu. Sedangkan menurut Surajiyo dkk. obyek material dimaknai dengan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan. Obyek material juga berarti hal yang diselidiki, dipandang atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Obyek material mencakup apa saja, baik yang konkret maupun yang abstrak, yang materil maupun yang non-materil. Bisa pula berupa hal-hal, masalah-masalah, ide-ide, konsep-konsep dan sebagainya” ( dalam   http://cahyaulumuddin.multiply.com/journal/item/

Adapun Obyek Formal adalah

Obyek formal adalah pendekatan-pendekatan secara cermat dan bertahap menurut segi-segi yang dimiliki obyek materi dan menurut kemampuan seseorang. Obyek formal diartikan juga sebagai sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut pandang darimana obyek material itu disorot.” http://cahyaulumuddin.multiply.com/journal/item/

Dari pengertian obyek material dan obyek formal tersebut, serta berdasarkan definisi Pekerjaan Sosial di atas, maka :

Pusat perhatian Pekerjaan Sosial yang menjadi Obyek Materialnya adalah Manusia, baik secara individu maupun di dalam lingkungan sosialnya, sedangkan Obyek Formalnya adalah Permasalahan manusia yang terkait dengan hubungan atau interaksi manusia dengan lingkungannya, pemberdayaan dan kebebasan orang, serta perbaikan masyarakat.

Daftar Pustaka

Garna, Yudhistira K., 2003, Filsafat Ilmu, Primaco Akademika, Bandung

———————-, 2010, Filsafat Ilmu (1), Berfilsafat dan Ontologi, Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, bandung

 

Rengasamy S, 2008, History of Social Work, Madurai Institut of Social Science, India

 

Skidmore, Rex A., and Milton G. Thackeray, 1964, Introduction to Social Work, Appleton-Century-Croft, New York

 

Suharto, Edi, 2005, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, PT Refika Aditama, Bandung

Suriasumantri, Jujun S., 1999, Ilmu Dalam Perspektif, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

 

Cahyaulumuddin, Obyek Material dan Obyek Formal Ilmu Pengetahuan, http://cahyaulumuddin.multiply.com/journal/item/19…12des2010

Chytil ,Oldřich, 2006, Czech Republic: Is Social Work a Science or Is It Just a Profession??. Social Work & Society, Vol. 4. (urn:nbn:de:0009-11-7528) diunduh 1 Desember 2010

Pujiono, Puji, 2000, Definition of Social Work ,International Federation of Social Workers , http://www. facebook.com/ topic.php?uid=107090686430&topic=10050

Rone, 2009, Filsafat Ilmu Pengetahuan, http://blog.unila.ac.id/rone/mata-kuliah/filsafat-ilmu-pengetahuan/(diunduh 9des2010)

Sudrajat, Akhmad,  2008, Filsafat Ilmu, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/ filsafat-ilmu/  diunduh 6 Desember 2010

Wang Muba, 2009, (http://wangmuba.com/2009/04/20. diunduh 3 Desember 2010)

Wikipedia 1, Hystory of Social Work, the free encyclopedia http://en.wikipedia.org/wiki/ History_of_social_work

—————-, 2010, Social Work, http://en.wikipedia.org/wiki/Social_work  (diunduh 9-12-2010)

Category: Artikel, Berita Kesos | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • DEPT. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ===============================

    Keberadaan departemen ditujukan untuk:

    1). Menjamin kompetensi dan profesionalisme Dosen dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan akademiknya;

    2). Mengembangkan, mengevaluasi dan monitoring kemajuan karier akademik Dosen untuk mendukung pengembangan pendidikan;

    3).Mengoordinasikan kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan dosen sesuai bidang kompetensinya dalam rangka merealisasikan target kinerja lembaga;

    4). Mengoordinasikan pelaksanaan kerja sama pemanfaatan kepakaran Dosen oleh pihak lain seperti Pemerintah, pemerintahan daerah, swasta atau masyarakat;

    5). Merintis dan mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional;

    6). Memfasilitasi publikasi karya-karya ilmiah Dosen;

    7). Menyelenggarakan diseminasi hasil riset, pengabdian pada masyarakat, dan inovasi melalui kegiatan ilmiah di tingkat nasional dan internasional;

    Pemimpin Departemen:

    Ketua : Dr. dra. R. Nunung Nurwati, M.Si

    Sekretaris : Dr. Nurliana C. Apsari, S.Sos., MSW