Universitas Padjadjaran

Kewirausahaan Dari Kacamata Sosiologi

Oleh: admin kesos
September 27, 2011

by Hery Wibowo, S.Psi., MM

Terminologi sosiologi untuk pertama kalinya, disebarluaskan dan disosialisasikan oleh ilmuan Prancis bernama August Comte yang hidup antara tahun 1798-1857 (Doda, 2005:1). Dijelaskan selanjutnya bahwa kata ini terdiri dari dua kata pembentuknya yaitu socius dan logos. Socius bermakna kebersamaan, masyarakat atau asosiasi. Sementara itu logos, berasal dari bahasa Greek, yang artinya adalah ilmu. Kemudian Doda (2005:1) menyimpulkan bahwa Sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat.

Sosiologi, pada perkembangannya telah merupakan suatu bidang ilmu tersendiri. Menurut Soeryono Soekanto, sosiologi jelas merupakan ilmu sosial sosial yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan, yang cirri-ciri utamanya adalah sebagai berikut (Johnson 1967: dalam Soekanto, 2007:13)

  1. Sosiologi bersifat empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi kenyataan dan akal sehat serta hasilmya tidak bersifat spekulatif
  2. Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi
  3. Sosiologi bersifat kumulatif yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori lama
  4. Sosiologi bersifat nonetis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk-baiknya fakta tertentu, tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis

Seiring berjalannya tahun, bidang kajian sosiologi juga semakin berkembang dengan pesat. Sosiologi yang pada awalnya lebih banyak berkutat pada kajian kemasyarakatan dan permasalahannya, saat ini telah merambah berbagai bidang kehidupan seperti diungkapkan oleh Reis (1968 dalam Peck & Bryant, 2007: 2) dalam berikut ini

Government, corporations and school systems to such territorial organization as communities or the schools, factories, and churches.. that are components of communities… are also concerned with social aggregates, or populations, in their institutional organization

Artinya, sosiologi sebagai sebuah bidang ilmu yang memiliki cakupan kajian yang cukup luas, juga mengkaji ranah kewirausahaan. Namun demikian, jika ditelaah lebih lanjut, kajian ini memiliki perbedaan dengan kajian psikologi industri dan ekonomi dalam tiga aspek (Luef & Lounsbury, 2007:2) yaitu:

(a)    Targetnya diluar individu wirausaha, cenderung mengarah pada peran yang dijalankan oleh jaringan interpersonal, struktur organisasi, populasi dan proses tingkat lapangan, sebagaimana lingkungan institusional yang lebih luas.

(b)   Terdapat usaha menyeimbangkan penekanan umum pada aspek material dari venture formation (contoh kondisi pemasaran dan keuangan) dengan penekanan pada dimensi simbolik dan budaya dari aktivitas kewirausahaan.

(c)    Terdapat kecenderungan untuk memahami kewirausahaan dalam sebuah konteks yang berbeda, termasuk hal-hal seperti ilmu pengetahuan, perawatan kesehatan dan seni rupa, yang cenderung pada perhitungan pasar yang sederhana.

Terkait gagasan dimuka, maka tampak bahwa sosiologi memiliki kacamata tersendiri dalam mengkaji fenomena kewirausahaan pada umumnya, dan kewirausahaan sosial pada khususnya.

Sosiologi Kewirausahaan

Sosiologi kewirausahaan adalah kajian terhadap praktik kewirausahaan yang dilihat melalaui kacamata ilmu sosiologi. Albany (2005:1) menyatakan bahwa

This is the study in the sociology of entrepreneurship, which takes as its subject matter the relationship between group characteristic and the development of business activity

Artinya bahwa terdapat satu bagian dari badan besar ilmu sosiologi  -dimana secara umum ilmu ini  mengkaji masyarakat dan manusia-manusia dalam masyarakat- yang memang khusus mengkaji tentang kewirausahaan.

Sosiologi, sebagai sebuah ilmu yang mengkaji masyarakat dan manusia-manusia yang berada di dalamnya, juga tidak luput untuk membahas fenonema kewirausahaan.  Salah satu pelopornya adalah Max Weber yang (walaupun dengan terminologi yang berbeda) telah berusaha mengupas sebuah semangat/etos kerja yang tinggi untuk memajukan usaha berbasis spirit keagamanaan lewat protestan etiknya. Hal ini dibenarkan oleh Ruef & Lounsbury (2007:3) berikut ini:

Weber’s (1930[1904-1905]) Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism is perhaps the most well-known examplae, with its provocative thesis that worldly asceticism among certain Protestant sects (particularu, Calvinist) yielded an ethic of calculability, efficiency and self-control that was essential to the rise of entrepreneurial capitalism in the 16th and 17th century

Selanjutnya, terinspirasi oleh Weber, David Mc Clelland melanjutkan kajian ini.  Bersama dengan Inkeles dan Smith (1961 dalam Fakih, 2008: 51) Mc Clelland melakukan penelitian terhadap tesis Weber mengenai etika Protestan dan pertumbuhan kapitalisme. Menurutnya, jika etika Protestan menjadi pendorong pertumbuhan di Barat, analog yang sama juga bisa untuk melihat pertumbuhan ekonomi. Apa rahasia pikiran Weber tentang etika Protestan menurutnya adalah the need for achievement (N’ach). Pernyataan dimuka diperkuat sendiri oleh David Mc Clelland (1961) seperti dikutip oleh Peet (1999:80):

Part of the push for economic development, he thought, came from a psychological charateristic, which he called “n Achivement,” or the need for achivement, which suited particular individuals for entrepreneurial roles. Societes with high levels of need for achievement produced energetic entrepreneur who, in turn, led rapid economic development.

Mc Clelland, seringkali digolongkan pada kelompok pemikir teori pembangunan dalam kategori teori modernisasi, yaitu yang berpadangan bahwa nasib suatu negara/bangsa lebih banyak terletak pada faktor non material atau alam psikologi dari penduduknya. Arief Budiman (2000:39) menyatakan bahwa faktor-faktor non material atau ide ini dianggap sebagai faktor yang mandiri, yang bisa dipengaruhi secara langsung melalui hubungan dengan dunia ide yang lain. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu cara yang sangat penting untuk mengubah psikologi seseorang atau nilai-nilai budaya sebuah masyarakat.

Pendapat lain terkait kewirausahaan juga diungkap oleh salah satu tokoh besar sosiologi yaitu Durkheim, seperti dikutip Ruef & Lounsbury (2007:3) berikut ini:

And Durkheim (1984[1983]) evolutionary account of the division of labor could be rendered as a contribution to the sociology of entrepreneurship, given its explanation of the decline of occupational generalism and the proliferation of autonomous, specialist producers (under conditions of organic solidarity)

Durkheim dalam hal ini berpendapat bahwa salah satu yang mendorong lahirnya wirausaha adalah mulai menurunnya kecenderungan pekerjaan yang tergeneralisasi, dan mulai meningkatnya otonomi, terutama dalam hal produksi barang.

Ruef & Lounsbury (2007:1) menyatakan bahwa

The sociology of entrepreneurship analyze the social contect, and effect of entrepreneurial activity. Within this perspective, “entrepreneurship” can be construed  either narrowly as purposive action leading to the creation of new formal organization, or more braodly as any effort to introduce durable innovation in routines, technologies,organizational forms, or social institution

Ada beberapa simpulan yang dapat diambil dari pernyataan dimuka, yang pertama yaitu bahwa bidang ilmu sosiologi, secara khusus juga mengkaji masalah kewirusahaan. Yang kedua adalah bahwa sosiologi kewirausahaan menganalisis konteks sosial dan efek dari aktivitas wirausaha.

Perkembangan lanjutan dari Sosiologi kewirausahaan dinyatakan oleh Albany (2005:1-2). Ia menyatakan bahwa sosiologi kewirausahaan sudah bergeser dari analisa mengenai wacana asimilisasi dan prasangka kelompok etnik tertentu, namun sudah lebih mengarah pada bagaimana kelompok tersebut mengembangkan kemampuannya untuk mempertahankan usaha yang dijalankannya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa inilah sosiologi yang berusahan mendorong manusia menolong dirinya sendiri (sociology of self-help), yang membantu kelompok mencapai stabilitas ekonomi sebagai dampak dari kewirausahaan. Konsep ini tentu sangat selaras dengan konsep kewirausahaan sosial  secara umum, yaitu bagaimana individu dapat berdiri mandiri diatas kakinya sendiri, dengan (pada waktu yang bersamaan) juga bermanfaat bagi orang lain.

Pendekatan dalam Sosiologi Kewirausahaan

Sosiologi, sebagai sebuah bidang ilmu yang berdiri sendiri, memiliki perbedaan cara pandang dalam mengkaji kewirausahaan. Hal ini dikuatkan oleh Thorton (1999:33) yang menyatakan bahwa penelitian kewirausahaan telah dilaksanakan dengan dasar tiga ilmu yang berbeda yaitu psikologi (McClelland, 1961), ekonomi (Schumpeter, 1934) dan sosiologi (Weber, 1904). Setiap disiplin menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda, menggunakan meta teori yang berbeda dan memfokuskan  pada tingkatan analisis yang berbeda pula (Martinelli, 1994, dalam Thorton, 1999:34).

Berbasis uraian dimuka, satu hal yang menjadi ciri atau asumsi dasar penelitian sosiologis adalah sebuah pemahaman bahwa individu dan organisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh konteks sosial dimana ia berada. Seperti diungkap oleh Thorton (1999:3) berikut;

The idea that individuals and organizations affect and are affected by the their social context ia a seminal argument in both classic and contemporary sociology and has been applied in the study of sociology at a different level of analysis

Maka hal inilah menurut penulis yang menjadi titik tekan penelitian kewirausahaan oleh bidang ilmu sosiologi, yaitu bagaimana kinerja individu atau organisasi sangat tergantung, atau bersifat saling mempengaruhi dengan lingkungan/konteks sosialnya. Penelitian ini dalam hal ini, mencoba membongkar bagaimana keterhubungan dan dampak dari aktivitas kewirausahaan sosial terhadap masyarakatnya. Pandangan bahwa individu mempengaruhi konteks sosial dalam aspek kewirausahaan, dikenalluaskan oleh Weber (1904) dan Mclelland (1961). Sedangkan, sebaliknya, bagaimana konteks lingkungan (infrastruktur) mampu membentuk jiwa-jiwa wirausaha pada masyarkatknya disebarluaskan oleh Burt (1992).

Tags: ,

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • DEPT. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ===============================

    Keberadaan departemen ditujukan untuk:

    1). Menjamin kompetensi dan profesionalisme Dosen dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan akademiknya;

    2). Mengembangkan, mengevaluasi dan monitoring kemajuan karier akademik Dosen untuk mendukung pengembangan pendidikan;

    3).Mengoordinasikan kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan dosen sesuai bidang kompetensinya dalam rangka merealisasikan target kinerja lembaga;

    4). Mengoordinasikan pelaksanaan kerja sama pemanfaatan kepakaran Dosen oleh pihak lain seperti Pemerintah, pemerintahan daerah, swasta atau masyarakat;

    5). Merintis dan mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional;

    6). Memfasilitasi publikasi karya-karya ilmiah Dosen;

    7). Menyelenggarakan diseminasi hasil riset, pengabdian pada masyarakat, dan inovasi melalui kegiatan ilmiah di tingkat nasional dan internasional;

    Pemimpin Departemen:

    Ketua : Dr. dra. R. Nunung Nurwati, M.Si

    Sekretaris : Dr. Nurliana C. Apsari, S.Sos., MSW