Universitas Padjadjaran

Lima Kabupaten di Jabar Jadi Field Project Kota Layak Anak

Oleh: admin kesos
December 22, 2010

Laporan oleh: Eka Bahtera

[Unpad.ac.id, 22/12] Provinsi Jawa Barat (Jabar) terpilih sebagai salah satu field project dari 9 provinsi di Indonesia untuk melaksanakan Kota Layak Anak (KLA) yang ditunjuk oleh Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak RI. Lima kabupaten kemudian ditunjuk untuk dijadikan field project, lima kabupaten tersebut yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi, Purwakarta, Sumedang, dan Depok.

Hal tersebut disampaikan oleh Istri Gubernur Jabar, Netty Heryawan, seusai mengisi acara Seminar Nasional Profesi Pekerjaan Sosial 2010 bertajuk “Melindungi Anak Melindungi Masa Depan” yang digelar oleh Mahasiswa angkatan 2007 Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad, di Bale Rumawat Padjadjaran, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa (21/12).

Netty mengatakan bahwa lima kabupaten yang ditunjuk tersebut akan mendapatkan bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) termasuk juga dari Provinsi Jabar. Dipilihnya lima kabupaten tersebut Netty menjelaskan bahwa ada syarat-syarat keberhasilan dari kabupaten tersebut yang dinilai dari prospektif kepala daerahnya, kemudian Lembaga Sosial Masyarakatnya, juga DPRD untuk menyelenggarakan KLA.

Dalam pelaksanaan KLA nanti, lima kabupaten tersebut akan mengikuti petunjuk teknis KLA dari kementrian, yaitu meliputi aspek pendidikan, perlindungan, pariwisata, dan ruang terbuka untuk tumbuh kembang anak. “Januari 2011 ini sudah akan dimulai tahapannya. Kita sudah melakukan sosialisasi, dari Deputi Tumbuh Kembang anak juga sudah berkunjung ke Jawa Barat, jadi kita sudah siapkan konsepnya,” lanjut Netty

Kota Layak Anak (KLA) ini sesuai dengan pembahasan Netty dalam seminar Profesi Pekerjaan Sosial ini yang membahas tentang perlindungan anak. Dalam pemaparannya, Netty menjelaskan bahwa upaya kita untuk melindungi anak, sama dengan upaya untuk menyelamatkan masa depan Indonesia. “Anak ini akan mempunyai peran startegis sebagai penjamin keberlangsungan bangsa kita di masa depan,” ungkapnya.

Masalah perlindungan anak juga dijelaskan Netty bahwa hal tersebut bukan saja menjadi tanggung jawab provinsi maupun pemerintah pusat saja, tapi sudah menjadi masalah global dan menjadi tanggungjawab bersama secara global. “Masalah perlindungan anak ini akan menjadi pertanggungjawaban kita pada 2015 mendatang, terkait dengan isu utama dunia dalam Millenium Development Goals (MDGs),” paparnya.

Saat ini hampir 33% total penduduk Indonesia adalah anak-anak, mereka akan menjadi aset-aset masa depan negara, maka beberapa perlindungan harus dilakukan terkait dengan rentannya anak terhadap kekerasan. “Harus ada perlindungan khusus untuk melindungi anak dari eksploitasi, kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan seksual,”tegas Netty.

Untuk mengatasi hal tersebut, Netty menjelaskan bahwa seluruh komponen masyarakat yang terlibat langsung dengan tumbuh kembang anak harus bersama-sama menjamin keselamatan anak, pendidikan, kesehatan, pariwisata, dan kebutuhan lainnya yang menjadi hak anak. “Intinya berikan perlindungan dan kepentingan terbaik untuk anak tanpa diskriminasi,” jelasnya.

Dalam seminar nasional yang didukung penuh oleh Save the Children ini juga di isi olehCase Manager Save the Children, Sigit Dirahardjo serta selaku moderator adalah Dosen Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad, Maulana Irfan, S.Sos.

FGD
Selain melaksanakan seminar, dalam acara ini juga digelar Forum Group Discussion (FGD) untuk membuat road map terhadap perlindungan anak. Dalam FGD tersebut, sembilan universitas di Indonesia memberikan andil berupa pemikiran untuk membuat peta perlindungan terhadap anak di Indonesia.

Sembilan universitas tersebut adalah Universitas Jember, Universitas Gajah Mada, Universitas Tanjung Pura, UIN Araniri Aceh, Stisispol Chandradimuka, ATKS Bandung, Universitas Pasundan, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Indonesia, serta Unpad sebagai tuan rumah.

Pembahasan FGD tersebut seperti dijelaskan Ketua Panitia, Fathan Asaduddin Sembiring meliputi tiga aspek konsentrasi. “FGD nanti akan menghasilkan road map untuk perlindungan anak yang meliputi tiga konsentrasi yaitu pendidikan, peranan lembaga kemahasiswaan dan mahasiswa, serta terkait dengan kebijakan,” ungkapnya. (eh)*

Category: Berita Kesos | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • DEPT. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ===============================

    Keberadaan departemen ditujukan untuk:

    1). Menjamin kompetensi dan profesionalisme Dosen dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan akademiknya;

    2). Mengembangkan, mengevaluasi dan monitoring kemajuan karier akademik Dosen untuk mendukung pengembangan pendidikan;

    3).Mengoordinasikan kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan dosen sesuai bidang kompetensinya dalam rangka merealisasikan target kinerja lembaga;

    4). Mengoordinasikan pelaksanaan kerja sama pemanfaatan kepakaran Dosen oleh pihak lain seperti Pemerintah, pemerintahan daerah, swasta atau masyarakat;

    5). Merintis dan mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional;

    6). Memfasilitasi publikasi karya-karya ilmiah Dosen;

    7). Menyelenggarakan diseminasi hasil riset, pengabdian pada masyarakat, dan inovasi melalui kegiatan ilmiah di tingkat nasional dan internasional;

    Pemimpin Departemen:

    Ketua : Dr. dra. R. Nunung Nurwati, M.Si

    Sekretaris : Dr. Nurliana C. Apsari, S.Sos., MSW