Universitas Padjadjaran

TIPOLOGI WAWANCARA PEKERJAAN SOSIAL

Oleh: santoso tri raharjo
May 6, 2010

 

Adapted from Zastrow, 1994. “The Practice of Social Work)

Berdasarkan tujuannya sebagian besar wawancara pekerjaan sosial dapat diklasifikasikan sebagai upaya-upaya mencari informasi (untuk membuat studi kasus atau sejarah sosial), diagnostik (untuk mencapai penaksiran tertentu), atau terapis (untuk membantu perubahan klien). Seringkali, terjadi tumpang-tindih diantara ketiga tipe tersebut. Sebagai contoh, seorang pekerja sosial perlindungan dalam awal wawancaranya dengan sepasang suami istri yang diduga melakukan tindak kekerasan kepada anak-anak biasanya akan memperoleh latar belakang informasi mengenai anggota-anggota keluarganya, dan mencari hingga memperkirakan kemungkinan apakah penyiksaan terhadap anak telah terjadi. Jika penyiksaan itu terjadi, pekerja sosial mungkin juga akan mulai memebrikan pertolongan keluarga untuk mengakhiri tindakan penyiksaan selanjutnya. Terdapat tiga wawancara, yang saling tumpang-tindih, yang berbeda dalam cara strukturnya dan perlakuanya.

Wawancara Informasional atau Sejarah Sosial

Wawancara informasional dirancang untuk memperoleh latarbelakang atau bahan sejarah kehidupan berkaitan dengan seseorang atau masalah sosial yang dihadapi oleh klien. Maksudnya bukan untuk mempelajari keseluruhannya tetapi untuk mengetahui mengenai latarbelakang klien yang akan memungkinkan pekerja sosial (atau badan sosial) dapat memahami dengan lebih baik kliennya sehingga keputusan dapat segera dibuat tentang jenis pelayanan apa yang seharusnya tersedia. Informasi seharusnya berisiskan fakta objektif dan perasaan serta sikap-sikap subjektif. Orang yang diwawancarai atau dihubungi termasuk di dalamnya klien, atau mungkin juga orangtuanya, teman-temannya, sanak-famili, pekerja-pekerjanya, dan atau lembaga-lembaga yang pernah berhubungan dengan klien, seperti halnya badan-badan pelayan sosial, kepolisian, atau sekolahnya. Informasi yang spesisfik yang diinginkan dengan beragam sejarah sosial semisal dari suatu lembaga ke lembaga sosial tertentu. Suatu badan pelayanan adopsi misalkan, ingin mengetahui lebih mendalam mengenai cara pengsuhan anak dari orang tua yang cukup potensial menjadi orang tua asuh sebagai bahan perbandingan dengan sebuah sheltered workshop, yang mungkin ingin lebih mengetahui secara spesifik kemampuan dari klien potensialnya. Sebagai contoh dari sejarah sosial dapat dilihat dalam Gambar 3-1, sebuah sejarah sosial biasanya berupa lembaran informasi (mis: nama, umur, pekerjaan, dan seterusnya) dan kemudian informasi mengenai ajuan pertanyaan atau masalah, awalnya perkembangan dan pengalaman di masa kecil, latar belakang keluarga, latarbelakang pendidikan (sekolah), masa pacaran dan perkawinan, pengalaman bekerja, hubungan dengan badan/lembaga sosial, dan kesan-kesan umum lainnya. Objek-objek pertanyaan dan format dari sejarah sosial sangat beragam dari lembaga dengan lembaga lainnya.

            Sejumlah contoh mengenai wawancara studi sosial akan disebutkan. Seorang pekerja sosial pada sebuah rumah sakit mental mungkin mencari informasi mengenai latarbelakang sesuatu untuk memahami permasalahan dan keberfungsian sosial dari seorang pasien. Petugas probasi mungkin akan meminta melakukan penyidikan sosial untuk mebrikan arahan kepada pengadilan yang sedang menangani sebuah kasus dari seseorang yang dituduh melakukan tindak kejatahan yang sangat kejam. Seorang pekerja sosia yang bekerja dalam suatu dewan pengembangan masyarakat mungkin akan melakukan wawancara dalam suatu permasalahan lingkungan yang beragam untuk mengidentifikasikan apa yang sebenarnya kebutuhan yang paling utama untuk segera dipenuhi oleh penduduk setempat. Seorang pekerja sosial pada sebuah rumah perawatan muungkin akan membuat sebuah sejarah sosial pada seorang penghuni baru untuk memperoleh informasi permalahan-permasalahan sosial dan individu yang sedang dialami, dan khusunya berkaitan dengan minat-minat penghuni sehingga penghuni tersebut dapat memahami secara lebih baik.

Wawancara Diagnostik

Wawancara penaksiran atau pembuatan keputusan secara umum lebih terfokus dalam upaya maksud tertentu daripada wawancara studi sosial. Wawancara diagnostik pada dasarnya berbeda dengan wawancara informasional bahwa di adalam mengajukan pertanyaan dalam wawancara diagnostik lebih terfokus pada pembuatan keputusan-keputusan khusus mengenai pelayanan manusia. Berikut contoh-contohnya. Seorang Pekerja Sosial Perlindungan Anak menyelidiki seorang anak yang mengadukan suatu perlakuan penyiksaan untuk membuat keputusan apakah penganiyaan tersebut terjadi. Seorang Pekerja Sosial Bantuan Masyarakat mewawancarai seorang wanita yang hamil sebelum menikah untuk menentukan kelaikan mendapatkan bantuan pelayanan. Seorang Konselor Bimbingan Pekerjaan mewawancarai seorang klien cacat mental untuk menentukan kelaikan memperoleh sejumlah pelayanan termasuk bantuan keuangan, latihan kerja, dan mengikutertakannya dalam ruang bengkel kerja. Seorang Pekerja Sosial pada sebuah Penyediaan Fasilitas Rumah Tinggal Bagi Masyarakat Tidak Mampu Mambangun mewawanca orang tua dari seorang anak yang mengalami ‘keterbelakangan mental’ yang sangat terbelakang dan parah untuk mengetahui informasi pembuatan keputusan yang akan digunakan oleh Komite Perijinan Pusat untuk menentukan apakah anak tersebut diijinkan tinggal. Seorang Pemimpin dari suatu Kelompok Kerja/Belajar Anak-Anak mewawancara seorang pemuda yang sedang menjalani masa bimbingan (probation) karena akibat bertengkar hebat dengan kedua orangtuanya untuk menentukan jika seandainya pemuda tersebut akan memperoleh manfaat dari kelompok Kerja/Belajar, atau mungkin perlu ditempatkan di sekolah anak-anak nakal.

Wawancara Terapis (therapeutic)

Tujuan dari wawancara terapis adalah untuk membantu klien melakukan perubahan, atau mengubah lingkungan sosial untuk membantu fungsi-fungsi klien agar lebih baik, atau keduanya. Contoh tipe pertama berikut ini. Seorang yang mungkin secara malu-malu ingin dibimbing bagaimana caranya agar perilakunya bisa lebih ‘assertive’. Seorang klien yang mengalami depresi, atau merasa kesepian, atau seseorang yang ingin bunuh diri mungkin memerlukan bimbingan untuk mengatasi masalah-masalahnya secara lebih baik. Seorang klien yang sedang menjalani masa pembebasan bersyarat mungkin perlu dibimbing tentang bagaimana melakukan atau memperoleh pekerjaan. Sepasang suami-istri yang mengalami masalah perkawinan mungkin perlu dibimbing tentang bagaimana berkomunikasi dan mengatasi masalah mereka secara lebih baik. Sepasang suami-istri yang baru menikah yang suaminya mengalami penderitaan karena mengalami ejakulasi dini mungkin perlu dibimbing (be counseled) untuk mengatasi suatu ketidakfungsian. (Belliveau and Richter, 1970). Sepasang suami istri yang mengalami masalah disiplin anak-anak mereka mungkin perlu memperoleh sesi-sesi instruksional melalui Pelatihan Teknik-teknik menjadi Orangtua yang Efektif (Gordon, 1970).

            Wawancara penyembuhan (therapeutic) lainnya mungkin digunakan untuk melakukan perubahan-perubahan dalam lingkungan sosial dalam rangka memfasilitasi keberfungsian sosial klien. Seorang suami dari seorang klien yang mengalami masalah kecanduan minum-minuman keras mungkin perlu dibimbing agar bagaimana sebaiknya membantu suaminya menghentikan masalahnya tersebut dan mengembangkan arti kehidupan sebenarnya yang terpisah dari alkokolik. Alfred Kadushin (1972,p.19) memberikan contoh lain :

Wawancara mungkin mempunyai tujuan penyembuhan tetapi orang yang akan mengalami perubahan itu sendiri mungkin tidak berada di tempat. Termasuk di dalamnya wawacara dengan oarng yang sangat berarti dalam kehidupan kliennya, dimana pekerja sosial bertindak sebagai seorang perantara atau pembela/pendamping kepentingan kliennya. Pekerja sosial melakukan keperantaraan atau pembelaan/pendampingan akan mewawancara orang-orang dalam posisi-posisi strategis dalam rangka menpengaruhi mereka untuk kepentingan kliennya. Tujuan wawancara adalah untuk mencapai keseimbangan kekuatan dalam lingkungan sosial demi kebaikan klien. Pekerja sosial sekolah mungkin akan mewawancara seorang guru dalam rangka mempengaruhinya untuk memperlihatkan pemahaman penerimaannnya terhadap seorang klien. Pekerja sosial pada pusat pelayanan lingkungan mungkin akan mewawancara seorang petugas aparat yang berwenang atau pada dinas /lembaga sosial setempat dalam rangka memperoleh tempat tinggal yang layak bagi kliennya. Atau seorang pekerja sosial mungkin menemani seorang klien yang sulit berbicara (inarticulate) untuk mengikuti sebuah wawancara pekerjaan dalam upaya mempengaruhi keputusan untuk kebaikan klien. Dalam setiap contoh dari daftar wawancara tadi mempunyai tujuan yang pasti, dan dalam kasus ini, tujuan pengobatannnya adalah untuk kepentingan dari klien.   Wawancara terapis adalah yang paling banyak dipergunakan dalam praktek pekerjaan sosial.

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • DEPT. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ===============================

    Keberadaan departemen ditujukan untuk:

    1). Menjamin kompetensi dan profesionalisme Dosen dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan akademiknya;

    2). Mengembangkan, mengevaluasi dan monitoring kemajuan karier akademik Dosen untuk mendukung pengembangan pendidikan;

    3).Mengoordinasikan kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan dosen sesuai bidang kompetensinya dalam rangka merealisasikan target kinerja lembaga;

    4). Mengoordinasikan pelaksanaan kerja sama pemanfaatan kepakaran Dosen oleh pihak lain seperti Pemerintah, pemerintahan daerah, swasta atau masyarakat;

    5). Merintis dan mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional;

    6). Memfasilitasi publikasi karya-karya ilmiah Dosen;

    7). Menyelenggarakan diseminasi hasil riset, pengabdian pada masyarakat, dan inovasi melalui kegiatan ilmiah di tingkat nasional dan internasional;

    Pemimpin Departemen:

    Ketua : Dr. dra. R. Nunung Nurwati, M.Si

    Sekretaris : Dr. Nurliana C. Apsari, S.Sos., MSW