Universitas Padjadjaran

PEKERJAAN SOSIAL DALAM BISNIS DAN INDUSTRI

Oleh: santoso tri raharjo
May 6, 2010

 

 Adapted from: Introduction to Social Work

Fifth Edition; Rex A. Skidmore,

Milton G. Thackeray, O. William Farley

Prentice Hall,Englewood Cliffs, New Jersey, 1994

 

Pekerjaan sosial di tempat kerja adalah bagian lainnya dari bidang praktek pekerjaan sosial. Profesi pekerjaan sosial industri belum begitu banyak dikenal oleh sebagian besar bisnis dan industri di Amerika tetapi beberapa perusahaan lainnya telah mulai mendatangkan para pekerja sosial dalam program pelayanan mereka. Beberapa perusahaan dan industri, besar dan kecil, mulai memperkenalkan pekerja sosial ke dalam sistem kepegawaian untuk membantu para pekerja dan keluarga mereka baik permasalahan individu, keluarga dan masyarakat. Terdapat dua tujuan dalam penanganannya : kemanusiaan dan peningkatan efisiensi dan efektifitas produksi. Dipahami bahwa para pekerja yang ditimpa permasalahan individu dan keluarga akan menurunkan optimalisasi kerjanya. Jawabannya hanya satu yaitu diperlukan para pekerja sosial untuk membantu para pekerja dan keluarga mereka agar dapat memahaminya, menghadapinya dan memecahkan permasalahan mereka.

Definisi

Sejumlah definisi dan ulasan mengenai pekerjaan sosial industri atau penempatan pekerja sosial di industri telah diungkapkan. Pada dasarnya, hal ini berkaitan dengan pertolongan para pekerja dan keluarga mereka dengan permasalahannya yang mempunyai kaitan dengan keberfungsian sosial dan hubungan antara manusia. Di tahun 1978 suatu konferensi yang dihadiri oleh lebih dari seratus para praktisi pekerja sosial dari bisnis (perusahaan) dan industri memutuskan suatu batasan sebagai berikut :

Pekerjaan sosial industri dengan demikian mengarah pada penggunaan kemampuan dari pekerjaan sosial dalam mempertemukan kebutuhan-kebutuhan dari para pekerja atau anggota serikat pekerja dan memberikan pelayanan seluas-luasnya sesuai dengan tujuan organisasi. Bagi para pekerja sosial, memberinya kemungkinan mengintervensi ke dalam sebuah sistem lingkungan yang beragam yang mempengaruhi indivudu.

Pelayanan langsung dalam seting pekerjaan sosial industri adalah segala sesuatu yang melingkupi istilah dari direct service. Termasuk di dalamnya konseling, pengorganisasian kelompok penunjang, pelayanan-pelayanan kongkrit, pembelaan konsumen, menghubungkan secara individu pada pelayanan-pelayanan kemasyarakatan, pelatihan dan peningkatan SDM staf bagi perwakilan serikat pekerja dan personil manajemen, dan konsultasi untuk serikat pekerja dan para pembuat keputusan pihak industri.

            Para praktisi kelompok yang sama berkata mengenai tujuannya akan praktek pekerjaan sosial di dalam seting industri: “Tujuan kita adalah memberikan pelayanan yang diperlukan seluas-luasnya untuk meningkatkan keberfungsian dari mereka yang membutuhkan bantuan. Secara luasnya, para praktisi pekerjaan sosial memberikan pelayanan secara langsung kepada para pekerja/ anggota serikat pekerja dan keluarga mereka. Ditambahkan juga, mereka terlibat dalam pengembangan program, aksi penguatan, bertanggungjawab pada kerjasama sosial, dan analisis peraturan perburuhan.

Background (Latar Belakang)

Akar perkembangan pekerjaan sosial bagi industri dan bisnis yaitu dengan melihat sejarah masa lalu. Jorgensen berpendapat bahwa “pekerjaan sosial di industri nampaknya telah melupakan asal mula industrinya itu sendiri. Rupanya merupakan pengenalan nama profesinya itu sendiri ke industri. Orang Amerika pertama kali mempergunakan istilah ‘pekerjaan sosial’ di tahun 1892 dan 1893 merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jerman ‘arbaeiten sozial.’ Hal tersebut menunjuk pada penyediaan perumahan, kantin, perawatan kesehatan, dan fasilitas-fasilitas lainnya yang disediakan bagi para pekerja oleh Pabrik Amunisi Krupp (salah satu diantaranya) dengan tujuan untuk mendukung dan memantapkan semangat kerja industri. Karena itu, pekerjaan sosial merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan industri. Industri dilayani seperti halnya pencapaian tujuan kemasyarakat ketika pekerjaan sosial melayaninya secara keseluruhan sebagai satu kesatuan”.

            Jorgensen mengindikasikan bahwa “pekerjaan sosial telah hadir sebagai suatu lapangan pekerjaan yang mempunyai ijin resmi di Perancis dan Jerman sejak Perang Dunia I selama perang terjadi. Peru, India, dan Belanda, beberapa negara lainnya, juga mempunyai sejumlah besar pekerja sosial industri ….. Sebaliknya pekerjaan sosial industri berkembang di Amerika dan Inggris antara tahun 1890 dan 1920 dan, sesudahnya, kemudian mandeg (terhenti) hingga satu decade.

            Selama Perang Dunia II, pemerintah federal AS mensponsori program pekerjaan sosial bagi Serikat Maritim Nasional AS (NMU) dan Pelayanan Bagi Persatuan Pelaut AS (USS). Selama musim panas di tahun 1943, lebih dari 5000 orang anggota serikat (NMU) telah terbunuh di laut oleh pesawat tempur dan kapal selam. Keluarga mereka seringkali membutuhkan bantuan dalam pembuatan surat klaim kematian, luka-luka (cacat), atau kehilangan, mendapatkan jatah ransum, pemindahan pelaut yang terdampar di pelabuhan negara lain, dan membantu keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Seorang direktur dan tujuh orang pekerja sosialnya yang bergelar Sarjana Pekerjaan Sosial telah dipekerjakan, diterima oleh serikat karena mereka adalah anggota dari Serikat Pelayanan Para Pekerja AS (SSEU). Proyek tersebut berhasil dengan sangat baik namun dihentikan di tahun 1947 mobilisasi perang telah berakhir.

            Sekolah Pekerjaan Sosial pada saat ini telah mengembangkan suatu bagian Bidang Praktek dalam Industri dan Bisnis. Suatu usaha inovatif telah dimulai di tahun 1964 ketika suatu penggambungan besar-besaran dari Institut Kesehatan Mental Nasianal AS (NIMH) dan Administrasi Pelayanan Rehabilitasi AS (RSA) meluncurkan suatu proyek yang dioperasikan oleh Columbia University School of Social Work dan Sidney Hillman Health Center, suatu penggabungan pengoperasian fasilitas. Dr. Hyman Weiner berinisiatif mengembangkan proyek ini dan membangun Pusat Kesejahteraan Sosial Industri (Industrial Social Welfare Center) di Columbia University. Pusat kegiatan ini mengupayakan kursus-kursus dan penempatan mahasiswa, melakukan proyek penelitian dan mendemontrasikannya, dan menyebarkan informasi di lapangan kegiatan.

            Contoh terkenal lainnya dari industrial social work adalah di Boston College School of Social Work, dimana Professors Fidelia A. Masi dan Bradley Googins di tahun 1975 membangun kursus-kursus dan penempatan di lapangan. Industri yang telah terlibat dalam program penempatan termasuk Northeastern Bell Telephone, Hanscom Air Force Base, Boston College, J. F. Kennedy Federal Center, dan Taukton Consortium (yang terdiri dari sepuluh industri kecil).

            Sejak tahun 1965, Program Pasca Sarjana Sekolah Pekerjaan Sosial di Universitas Utah (The Graduate School of Social Work at the University of Utah) telah menempatkan mahasiswanya dalam seting industri sebagai praktek lapangan dan telah dipekerjakan oleh beberapa perusahaan seperti Kennecott Copper Company, U.S Steel, Mountain Bell Telephone, dan First Security Bank. Sesuai dengan perkembangan baru-baru ini telah diberikan kepada mahasiswa kegiatan pelatihan dengan Federal Aviation Administration, mengupayakan pelayanan bagi pekerja dan keluarganya yang berhubungan dengan Bandara Udara Salt Lake serta fasilitas penerbangan lainnya.

            Alchoholism merupakan salah satu permasalahan utama yang menjadi fokus perhatian di dalam industri dan bisnis dan pekerjaan sosial telah diminta pada berbagai kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan sumber dayanya guna membantu dan mencegah permasalahan ini. Heyman melaporkan beberapa perusahaan nasional AS terkenal telah menjadi pionir dalam program dukungan-pekerja bagi bantuan permasalahan alchoholism pada para pekerja. Perusahan-perusahaan tersebut antara lain duPont, Allis-Chalmers, Eastman Kodak, dan Consolidated Edison of New York. Secara keseluruhan manajemen dan perburuhan nasional telah menyadari bahwa pekerja yang mempunyai masalah kecanduan alkohol perlu dibantu melalui suatu tindakan secara konstruktif. Heyman mengindikasikan “terdapat mungkin seratus perusahaan dengan memiliki beberapa macam program yang sama bagi para pekerja yang mempunyai masalah alkoholik. Para pekerja sosial sudah mulai turut berpartisipasi yang di dalam beberapa program tersebut peran mereka adalah salah satu penentunya, khususnya di dalam pengembangan dan penggunaan secara luas sumber-sumber kemasyarakatan yang dapat diterapkan sebagai perbantuan dalam pemecahan masalah tersebut.

            Jorgensen menyarankan paling tidak melalui tiga cara utama yang dilakukan pekerjaan sosial nampak di dalam industri : penempatan di lapangan mahasiswa pasca sarjana, pembuatan kesepakatan lembaga pelayanan keluarga dengan pihak industri dan bisnis, dan pembuatan praktek-praktek khusus dengan pihak industri. Pertama, dimulai pada tahun 1964 dengan Industrial Sosial Welfare Center at Columbia University, yang memberikan penempatan praktek di sejumlah industri dan bisnis. Cara kedua berkembang melalui lembaga pelayanan keluarga dengan pembuatan kesepakatan individual dengan industri dan bisnis. Contoh tersebut adalah Xerox Corporation di Rochester dan Maywood Corporation di Amarillo, organisasi tersebut membuat kesepakatan khusus untuk memperoleh tersedianya pelayanan bagi pekerja mereka. Eimco dan Sperry Rand di Salt Lake City membuat kontrak dengan Family Counseling Service, a United Way Agency, untuk memberikan pelayanan-pelayanan bagi pekerja mereka.

            Pada tahun 1980 Xerox Corporatian dan Family Service Association of America (FSAA) mengumumkan mereka telah menggabungkan kekuatan untuk mendesain dan menerapkan suatu program nasional secara luas, yang pertama-tama antara lain, membantu para pekerja dan keluarga Xerox dari permasalahan yang bersifat individual maupun keluarga. Suatu ciri yang unik dari penyusunan rencana kerjanya adalah melibatkan afiliasi FSAA di Amerika Serikat secara keseluruhan sebagai pemusatan pola bagi asesmen dari permasalahan para pekerja dan atau anggota keluarga Xerox Corporation. Dibawah perjanjian, “tawaran pelayanan asesmen/diagnostik bagi para pekerja dan / atau anggota keluarga adalah yang diajukan oleh Xerox atau keperluan bantuan dari mereka sendiri ”.

            Sebagai cara ketiga yang telah dijalankan diilustrasikan oleh Otto F. Jones, sebelumnya di Kennecott Copper, yang membentuk Human Affairs, Inc., suatu privat konseling perusahaan. Organisasi ini telah membuat kontrak dengan pabrik U.S Steel di Chicago Selatan dan di Provo, Utah, dengan Valley Bank di Phoenix, dan beberapa firma lainnya, untuk memberikan konseling kepada pekerja-pekerja mereka.

            Secara filosofis, terdapat beberapa alasan untuk memperkenalkan praktek pekerjaan sosial di bisnis dan industri. Weiner, Akabas, dan Sommer mengemukakan pendapatnya, sebagai berikut :

Profesi yang baru ini berdiri berdasarkan pada konsep bahwa pengobatan merupakan sebanyak mungkin kontribusi dari institusi industri sebagai fungsi masukan secara klinisnya. Kesederhanaan adalah ciri dari profesional yang dapat mewakili industri sebagai mitra, bukan seperti “mother’s little helpers”. Profesi yang baru berdiri ini dibutuhkan seperti individu yang dapat memobilisasi sumber-sumber dan menghubungkan orang dengan lembaga yang dibutuhkan dan tetap merasakan kepuasan dalam bekerja; yang dapat mengusahakan pelayanan kongkrit dan tetap menyadari kehormatan akan identitas profesinya; yang dapat berfungsi sebagai konsultan dan tetap menyadari sebagai seorang praktisi.

Suatu teknologi profesi baru pada saat yang sama diperlukan. Sebagai suatu profesi yang baru berdiri membutuhkan orang dengan kesederhanaanya, teknologi profesi baru ini membutuhkan suatu tujuan secara sederhana. Perubahan dalam merias intrapsikis secara individual seharusnya hanya berkaitan dengan dimensi yang berhubungan dengan kemampuan fungsionalnya. Klinikan, oleh karena itu, harus kompeten dan fleksibel sekali dan dapat menangani secara cepat klien yang bermasalah, bagaimana menghubungkannya dengan dunia kerja, dan apakah setiap kolmpok orang dapat memainkan peran penting dalam pemecahan masalah.

            Jorgensen menyatakan (menganjurkan) bahwa para pekerja sosial dalam bisnis dan industri telah mencoba dan terus mencoba dalam berbagai seting yang berbeda. Dia berkesimpulan bahwa sejumlah perusahaan besar telah memiliki pekerja sosial yang memberikan pelayanan langsung atau membantu memberikan saran saran pelatihan dan manajemen, baik sebagai pekerja penuh atau pun konsultan pendamping (dari luar). Dia memberikan beberapa contoh, diilustrasikan dengan deskripsi singkat dari pekerjaan sosial dalam beberapa perusahaan besar berikut ini:

1)             Sebuah perusahaan angkutan kota New York telah menyediakan pelayanan bagi pekerja alkoholik hampir 20 tahun lamanya.

2)             Program U.S Steel di Chicago yang memiliki 11.000 pekerja dan termasuk kegiatan preventif, pelayanan langsung, konsultasi dan pelatihan-pelatihan.

3)             Sebuah bank besar di Tucson, Arizona, dengan 6.000 pekerja dan sebuah pabrik elektronik di Phoenix dengan 5.000 pekerja telah menyediakan pekerja sosial bagi mereka yang masih berada pada stangar minimum.

4)             Polaroid Coorporation di Boston telah mengupayakan pelayanan pekerjaan sosial bagi para pekerjanya selama hampir 20 tahun. Termasuk departemen konseling, yang dimulai pada tahun 1958 dengan sebuah konsultan pekerjaan sosial dengan kerja paruh waktu, saat ini terdapat sejumlah pekerja sosial full time dengan gelar MSW yang melayani hampir 12.000 pekerja, termasuk para manajer dan pegawai tingkat menengah.

5)             Lebih dari 7.300 pekerja dari Utah Copper Division, Kennecott Cooporation, yang dilayani oleh suatu program pekerjaan sosial dengan sebutan INSIGHT. Program ini membantu pekerja dan tanggungannya. Dalam sepuluh taun kegiatan ini telah dinikmati oleh lebih dari 5.500 orang, terdiri dari setengahnya merupakan pekerja dan setengahnya adalah tanggungannya. Permasalahannya terdiri dari permasalahan keluarga, alkoholik, pelanggaran hukum, pernikahan, keuangan, dan masalah obat-obatan terlarang.

Perkembangan Pendidikan

Dewan Pendidikan Pekerjaan Sosial Amerika (CSWE) pada bulan Mei tahun 1976, mensponsori suatu pertemuan antar para praktisi, pendidik, perwakilan organisasi perburuhan dan industri yang seterusnya berhubungan dengan anggota dari staf NASW untuk membicarakan praktek pekerjaan sosial di industri. Para peserta pertemuan tersebut mengakui perlunya sejumlah program pendidikan pekerjaan sosial dengan mempertimbangkan implikasi kurikulum bagi perkembangan masa depan untuk penempatan tenaga pekerjaan sosial di industri. CSWE dan NASW bergabung bersama dengan mengusahakan suatu kerjasama untuk membangun pendidikan dan praktek masa depan pekerjaan sosial dalam industri.

            Melalui suatu studi awal proyek ini, empat sekolah pekerjaan sosial diketahui telah memiliki spesialisasi yang mantap dalam pekerjaan sosial di industri : Boston College, Columbia University, Hunter College, dan Universuty of Utah. Beberapa sekolah pekeraan sosial lainnya juga telah mengupayakan beberapa kelas atau latihan-latihan lain dalam lapangan pekerjaan yang relatif baru ini.

            7 Juni 1978, 100 orang praktisi pekerjaan sosial di industri dari Amerika Serikat hingga Canada bertemu di kota New York untuk berdiskusi, berdebat, menggali, dan mengujicobakan praktek pekerjaan sosial di industri masa depan dan menggantikan seting pekerjaan sosial di industri saat ini. “Koferensi pertama itu telah membuat sejarah — para praktisi dalam bidang profesi yang terus berkembang yang sebelumnya tidak seiring — dan ransangan pengalaman konferensi dan penerimaan upacara terselenggara secara memuaskan.” Hal terpenting dari kesimpulan konferensi merefleksikan perhatian penuh dan potensi fungsional bagi pekerjaan sosial di industri pada tahun-tahun yang akan datang :

Para peserta konferensi berkesimpulan bahwa masa depan begitu menjanjikan bagi pertumbuhan dan penerapan dari praktek pekerjaan sosial di industri. Kemudian, terungkap bahwa pekerjaan sosial merupakan perangkat unik bagi perburuhan dan seting industri, memberikan tanggung jawab profesinya untuk suatu perspektif “keberfungsian sosial”, berlawanan dengan konsep sehat yang berdasarkan pendekatan ‘sakitnya’ selain dari profesi pertolongan lainnya. Lebih dari itu, para pekerja sosial bekerja dalam suatu kerangka kerja psikososial selama meneliti situasi permasalahan ,khususnya dalam seting tersebut nampak merupakan penerapan yang cocok, dengan menghargai terhadap peran sentral dari lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia. Penekanan kuat pada nilai-nilai sebagai bagian pekerjaan sosial seperti suatu kerangka-situasi identitas seseorang dan menentukan ukuran pemberian bantuan secara profesional di dalam asesmen yang menghormati akan kebutuhan klien dan organisasi.

            Semua hal tersebut di atas merupakan suatu catatan bahwa pekerjaan sosial sebagai suatu profesi yang perpegang pada komitmen ganda baik bagi pelayanan sosial maupun perubahan sosial, dengan mempertemukan berbagai kepentingan dari serikat perdagangan atau mendukung para pekerja.

            Konferensi telah menetapkan suatu situasi yang kondusif baik untuk praktek pekerjaan sosial maupun pelayanan kebutuhan-kebutuhan dari penyediaan pekerjaan, seting tempat, dan ruang lingkup. Kemungkinan-kemungkinan  bagi masa depan nampak tak terbatas — dengan hanya dilingkupi oleh tersedianya personil profesional yang benar-benar terlatih dan keterbukaan lapangan pekerjaan untuk menerima pelayanan-pelayanan profesional tersebut.

            Proyek gabungan dari dewan pendidikan pekerjaan sosial (AS) dan assosiasi para pekerja sosial nasional (AS) dengan  pekerjaan sosial dalam seting industri (antara Maret 1977 s/d Oktober 1979) menunjukkan suatu komitmen pokok bagi pengembangan profesi masa depan dari pendidikan dan praktek pekerjaan sosial industri. Laporan akhir, sekitar maret 1980 termasuk beberapa rekomendasi berikut ini :

            Bagi CSWE :

  1. Peryataan kebijakan kurikulum bagi pendidikan Sarjana yang seharusnya memasukan suatu kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan keperluan pekerjaan dan lembaga-lembaga pekerjaan sebagai inti kurikulum sarjana.
  2. Pekerjaan sosial industri seharusnya dapat dipertimbangkan sebagai suatu pokok dari penspesialisasian wilayah — dunia ekonomi atau kerja.
  3. Pelatihan bagi praktek pekerjaan sosial di industri seharusnya diberikan untuk level Sarjana ke atas.
  4. keberlanjutan pendidikan bagi praktek pekerjaan sosial industri seharusnya menjadi suatu komponen utama dari keseluruhan program pendidikan pekerjaan sosial di industri.

 

            To NASW :

  1. Para pimpinan pusat NASW diminta untuk membentuk suatu kekuatan melalui panitia adhoc sebagai suatu langkah awal dari pengembangan suatu spesialisasi kelompok praktek.
  2. NASW seharusnya membangun suatu kelompok kerja nasional dari pekerjaan sosial industri sebagai bagian dari berjalannya peranan staff sepenuhnya.

 

Kebutuhan Pekerjaan Sosial dalam Bisnis dan Industri

Para pekerja sosial dan perbedaan unik lainnya dihadapkan pada kebutuhan pekerja sosial di industri dan bisnis. Berbagai pihak mendukung bahwa pemunculan bidang ini adalah salah satu profesi yang amat dibutuhkan (penting). Berdasarkan laporan statistik Departemen Perburuhan (AS) lebih dari 64% dari penduduk yang berusia 16 tahun keatas, jumlahnya telah mendekati 140 juta orang, merupakan angkatan kerja sipil dan yang jika para pekerja sosial benar-benar akan memberikan pelayanan kemanusian, hal ini berarti bahwa bidang ini (industri dan perusahaan) yang memberikan kesempatan emas bagi pelayanan pekerjaan sosial. Sejumlah pekerja sosial yang berpandangan sama menyarankan bahwa mulai abad ini mungkin diperlukan lebih banyak lagi para pekerja sosial yang bekerja dalam lapangan Bisnis dan Industri bersama-sama dengan bidang pelayanan lain.

            Di lain pihak, masih terdapat sejumlah pekerja sosial tradisional, baik sebagai pendidik maupun sebagai praktisi, yang mempertanyakan bidang pekerjaan sosialnya bergerak ke bisnis dan industri. Mereka berpendapat bahwa praktek tersebut bukan benar-benar pekerjaan sosial, artinya melupakan kemiskinan dan permasalahan lainnya dan memperkenalkan “ a whole new ball game ”. Mereka berpendapat bahwa keterampilan dan kemampuan pekerjaan sosial seharusnya dapat lebih memfokuskan pada masalah kemiskinan masyarakat bawah, penderitaan masyarakat —-selain masalah rakyat dari penduduk.

Penyediaan Pelayanan-Pelayanan Pokok.

Pekerjaan sosial secara tradisionalnya adalah bekerja bagi orang-orang yang tidak beruntung. Konseling dan terapi secara individual dan keluarga sudah merupakan trade mark dari pelayanan ini. Pelayanan tersebut saat ini banyak dibutuhkan dalam bisnis dan industri. Secara Aktual, banyak dari pelayanan sosial di bisnis dan industri telah diupayakan bagi individu dan keluarganya –dengan menggunakan pendekatan langsung. Sebagai upaya yang telah dilakukan adalah membantu secara individual, para pekerjanya, —-dan seterusnya, keluarga mereka— untuk memahami permasalahan dalam hubungan sosial mereka, menghadapinya, menjabarkan alternatifnya, dan bergerak kedepan dengan mengupayakan solusi terbaik bagi mereka.

            Dalam tahun terakhir ini dua pelayanan tambahan yang telah hadir di industri : pencegahan dan pengayaan. Di tahun 1959, studi kurikulum klasik dari Dewan Pendidikan Pekerjaan Sosial AS menyebutkan bahwa pencegahan merupakan salah satu dari tiga fungsi dasar praktek pekerjaan sosial. Tujuan yang sedang dibuat dalam banyak seting pekerjaan sosial dan badan-badan sosial saat ini adalah dengan mengutamakan kedua pelayanan tersebut. Premis dasarnya adalah jika usaha yang dilakukan dapat mengatasi berbagai kejadian maka akan terdapat penghematan signifikan dalam kehidupan manusia, seperti halnya penghematan finasial. Banyak pekerja sosial dalam bisnis dan industri secara aktif menggunakan keterampilan mereka untuk mencegah atau mengatasi permasalahan alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan, dan permasalahan keluarga atau pernikahan.

            Sepanjang perkembangan yang terjadi saat ini dalam seting industri dan bisnis telah mengenal suatu fokus akan pengayaan (enrichment) kegiatan. Tindakan ini berdasarkan pada suatu premis yang melekat pada seluruh manusia dan keluarganya adalah ingin dapat merasakan kehidupan dan hidup bahagia lebih dari yang dirasakan saat ini, even though most are proceeding at a meaningful pace. Hal tersebut dapat terwujud dengan telah meningkatnya pengetahuan dan kemampuan perorangan dan keluarga untuk memperluas dan mempererat hubungan serta arti hidup mereka. 

            Pengayaan (enrichment) mungkin dapat menyediakan /memberikan bimbingan perorangan, bimbingan keluarga, atau pada level yang lebih luas. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang besar mensponsori suatu rangkaian perkuliahan (penyuluhan) bagi para pekerjanya yang berminat dengan topik-topik yang disediakan secara khusus : seperti konflik perkawinan (keluarga), orangtua, kebutuhan seks manusia (human sexuality), Penanganan Masalah, dan Pengendalian Emosi Anda. Lima puluh dari tujuh puluh pegawai yang berminat pada masing-masing sesi dan mengevaluasi efek positifnya.

Metode-metode Pekerjaan Sosial

            Seluruh metode dasar pekerjaan sosial dipergunakan dalam seting bisnis dan industri termasuk didalamnya bimbingan sosial perorangan, bimbingan sosial kelompok, pengorganisasian masyarakat, penelitian dan administrasi pekerjaan sosial. Sebagian besar parktek pekerjaan sosial sejauh ini lebih pada praktek klinis atau praktek langsung (direct practice), tetapi dengan mempergunakan metode-metode lain dalam perkembangannya.

Bimbingan Sosial Perorangan.

Banyak pelayanan pekerjaan sosial dalam seting industri dan bisnis berbasis pada praktek klinik atau langsung, bekerja terutama dengan masalah perorangan dan atau keluarga. Permasalahan yang bersifat individual yang cukup beragam dan luas seperti masalah alkohol, penyalahgunaan obat, depresi, kecemasan (anxiety), perasaan inferior, dan kesulitan keluarga dan perkawinan termasuk didalamnya penganiyayaan anak (child abuse). Para pekerja sosial sering bekerja secara langsung dengan para pekerja atau anggota-anggota keluarga mereka. Filasofi dasar bagi praktek klinik industrial adalah bahwa jika seorang pekerja secara perorangan sedang marah atau keluarganya mengalami gangguan, maka dia tidak mungkin dapat bekerja secara efektif. Sejumlah contoh menunjukkan bahwa para pekerja yang telah memperoleh bantuan bimbingan sosial perorangan oleh para pekerja sosial memperlihatkan performa yang lebih baik di tempat kerjanya. Pendekatan yang dipergunakan ini seringkali melibatkan suatu rangkaian wawancara, seringkali berminggu-minggu, untuk wawancara perjam. Seringkali klien dan ahli terapi membuat kesepakatan sementara mengenai beberapa wawancara yang akan mereka lakukan.

Bimbingan Sosial Kelompok.

Bimbingan sosial kelompok adalah metode atau proses bekerja dengan permasalahan dalam hubungan sosial, memakai kelompok sebagai alat terapi. Dalam seting industrial, pertemuan kelompok sebelumnya terlebih dahulu diarahkan oleh para praktisi pekerjaan sosial yang berkualitas. Kelompok yang teridiri dari 8 hingga 12 orang dengan suatu permasalahan yang dibahas dalam suatu pertemuan setiap empat atau dua kali seminggu membahas permasalahannya, membagi perasaan dan pengalaman, merencanakan bersama, dan saling membantu. Kelompok lainnya yang terdiri dari lima atau enam pasang yang mengalami permasalahan perkawinan (keluarga), dengan menggunakan suatu pendekatan yang sama mencoba memahami permasalahan mereka, menghadapkannya, dan mereka berupaya mengatasinya. Interaksi kelompok dapat menjadi suatu kekuatan (alat) dalam membantu orang untuk memahami dirinya sendiri dan meningkatkan hubungan kemanusiaan diantara mereka.

Bimbingan Sosial Masyarakat.

Pengorganisasian masyarakat, suatu proses yang bergerak dan bertalian bersama sumber-sumber masyarakat, yang telah digunakan oleh sejumlah bisnis dan industri. Pekerja sosial dalam dalam seting tersebut dapat dan mampu melakukan pengalihan (referrals) kepada lembaga-lembaga (badan-badan) khusus di dalam masyarakat yang secara khusus dan yang mampu mengatasi permasalahan-permasalahan khusus perorangan atau keluarga. Pekerja sosial juga berguna sebagai konsultan untuk membantu rencana bisnis, mengkoordinasi, dan mengintegrasi keseluruhan pelayanannya di dalam bekerja dengan pegawai, khususnya dalam hubungan untuk pelayanan-pelayanan sosial dan rasa kemanusiaan.

            Sekali lagi, pekerja sosial membantu bisnis dan industri untuk pemahaman keseluruhan masyarakat dimana mereka (industri) berada, menggunakan sumber-sumber yang tersedia, dan memanfaatkan masyarakat sebagaimana organisasi miliknya. Mereka (masyarakat) berguna dalam membantu eksekutif bisnis untuk memahami lebih mendalam permasalahan-permasalahan sosial masyarakat, perundang-undangan sosial, dan aksi-aksi lainnya yang mungkin memperkuat masyarakat. Kesadaran masyarakat dan perkembangan masyarakat akan lebih dikenal dan lebih berarti baik untuk masyarakat maupun untuk pagawai sebagai suatu hasil dari keterampilan dan pelayanan profesional pekerja sosial.

Penelitian Pekerjaan Sosial.

Penelitian, proses mengetahui fakta dan kebenaran, adalah berguna bagi para pekerja sosial dalam seting industri. Fokus pada beragamnya masalah. Tujuannya adalah membantu bisnis atau industri memahami realita dalam hubungan pemilik-pegawai, masalah-masalahnya, dan tindakan-tindakan yang mungkin diambil untuk meredakan permasalahan mereka termasuk mempelajari (memahami) hubungan antara penyelia dan pegawai dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan untuk kebaikan semua.

Administrasi Pekerjaan Sosial.

Administrasi pekerjaan sosial adalah sustau proses yang menterjemahkan kebijakan-kebijakan sosial ke dalam pelayanan sosial. Dalam bisnis dan industri hal tersebut dimaksudkan untuk mentranslate-kan kebijakan sosial industri dan tujuan-tujuannya kedalam kegiatan. Sejumlah pekerja sosial yang memperoleh upah secara reguler sesuai posisi administratif dalam bisnis dan industri sebagai hasil dari impresi yang mereka buat dan kemampuan mereka melakukan kegiatan tersebut. Lainnya dipakai sebagai konsultan dan penasehat bagi pihak manajemen, buruh (pekerja), atau keduanya. Beberapa pekerja sosial memusatkan pertolongan dengan permasalahan-permasalahan manajemen/ buruh dan hubungan keduanya serta dukungan efektivitasnya yang dalam hal ini relatif merupakan peran bari pekerja sosial.

            Suatu teknik baru, “shadow colsultation” (konsultasi terselubung), telah digunakan oleh para pekerja sosial dengan bimbingan sosial perorangan (case work), bimbingan sosial kelompok (group work), dan keterampilan administratif untuk membantu para manajer merubah perilaku kepeminpinan dan manajemen mereka, agar menjadi lebih efektif dan manusiawi dalam pekerjaan mereka. Seperti konsultan pekerja sosial yang mengamati tipe kerja manajer melalui pertemuan, konferensi, dan panggilan telepon. Pada akhirnya, mereka membicarakan hubungan timbal balik akan efektivitas “manajer” berkaitan dengan dan pengarahan asosiasinya atau timnya.

Manfaat.

Meskipun banyak bisnis (perusahaan) dan industri tertarik dengan program-program pekerjaan sosial karena sifat kemanusiaannya, selain itu mereka tertarik karena faktor efektivitas biaya yang dikeluarkan. Mereka memperoleh keuntungan finansial. Sejumlah penelitian telah dilakukan dalam rangka mengevaluasi efektivitas kerja dari program pekerjaan sosial dan konseling yang dilakukan dalam dunia bisnis dan industri dengan menunjukkan hasil yang positif.

            Ilustrasi hasil dari konseling dalam industri sebagaimana dilaporkan oleh Kennecott Copper Corporation, Utah Copper Division. Perusahaan ini melakukan peletian terhadap sampel dari 150 orang yang dibantu melalui program pekerjaan sosial yang mereka ikuti, dengan sejumlah permasalahan perkawinan dan keluarga mereka. Mereka diamati sebelum dan sesudah mengikuti program tersebut. Kebiasaan ketidakhadiran mereka, biaya penggantian perminggu, dan rumah sakit, pengobatan, serta biaya pembedahan, telah dikalkulasikan selama lebih enam bulan dalam keterlibatan mereka dengan INSIGHT, pelayanan konseling, dan membandingkannya dengan perhitungan yang sama setelah selama enam bulan turut serta dalam program tersebut. “Menemukan indikasi bahwa setelah mengikuti INSIGHT selama rata-rata 12,7 bulan, dari 150 orang yang terbukti sekitar 52,0 % -nya: telah terjadi penurunan biaya penggantian sekitar 74,6 %; dan menurukan biaya perawatan, pengobatan, serta biaya operasi sekitar 55,4 %.

            Rodney C. Brown, konselor kepala pada R.J. Reynold Tobacco Company, Winston-Salem, Carolina Utara, menunjukkan bahwa selama empat tahun lebih memberikan pelayanan konseling terhadap pegawainya, termasuk pelayanan konseling perkawinan dan keluarga, mengestimasikan sekitar 55 persen dari mereka yang mengalami masalah ‘minuman’ telah nyata-nyata mengalami perbaikan, berdasarkan kehadiran dan kepuasan unjuk kerja mereka, serta menggambarkan suatu kondisi yang kostan selama waktu tersebut.

            Hasil pemberian konseling lainnya diperlihatkan oleh Valley National Bank of Phonix, Arizona, secara terpisah-pisah (belum lengkap), namun begitu tahap awal survai menunjukkan data yang signifikan.

            Suatu studi selama seperiode 12-bulan sejak September 1972 hingga September 1973 terhadap 700 Banker Valley (350 orang pengguna pelayanan CONTACT  — pelayanan konseling dan 350 orang lagi tidak menggunakan pelayanan tersebut) menunjukkan bahwa biaya asuransi untuk biaya operasi–pengobatan berkurang 74 persen daripada sebelum mereka menggukan layanan CONTACT. “This obvious decrease in insurance claims enables CONTACT  to more than justify its benefits to the employees’ mental and physical well being. It also enables CONTACT to finacially justify its existence since that its intervention has reduce the use of the insurance package.” ( Ini nyata-nyata pengurangan klaim asuransi melalui CONTACT menghantarkan lebih dari sekedar memberikan manfaat kehidupan fisik dan mental yang baik bagi pegawai. Juga CONTACT benar-benar menyajikan pengurangan pemakaian paket asuransi).

            Studi lebih lanjut memperlihatkan tentang tingkat kehadiran para pengguna CONTACT dengan resiko biayanya sebagai berikut

                                                Perjam                          Biaya

Sebelum mengikuti CONTACT   71.83                            $ 308.16

Sesudah mengikuti CONTACT   61.04                               261.08

Selisih                         10.79 (15.0%)                     47.(15.3%)

            Gould menggambarkan beberapa program konseling dalam lapangan industri dan termasuk di dalamnya data berikut ini :  General Motor menghitung $3 pengembalian dari setiap dolar yang dikeluarkan untuk program konseling mereka, yang dihitung secara keseluruhan terdapat penghematan sekitar $37 juta di tahun 1980. Dengan 24.000 orang pekerja, Ohio Bell terdapat penghematan sekitar $4 juta dengan 60% tingkat penurunan masalah alkholik melalui program penanganannya.

            Salah satu pionir dalam mengenalkan pekerjaan sosial dalam bisnis dan industri adalah Otto Jones, seorang pekerja sosial yang mendirikan dan persiden dari Human Affairs Internasional, Inc., perusahaan yang ber-home base di Kota Salt Lake City dengan kantor di 50 negara bagian dan 15 negeri lainnya, dengan pengahsilan bersih lebih dari 8.5 million dollar AS.

            Staf Jones terdiri dari pekerja sosial dan psikolog (800 orang membimbing secara full time dan sebagian Part time) memberikan pelayanan seperti yang dilakukan IBM, Exxon, U>S Steel, Procter & Gamble, dan Kodak. Perusahannya mengoperasikan konselingnya keluar negeri seperti Eropa, Jepang, dan Negara Kepulauan Pasifik dengan kantornya di Amerikan dan Luar Negeri. Total operasi kerjanya dengan 3 juta pekerja di sekeliling dunia.

            Jones menyarankan bahwa dia dan kelompoknya adalah dalam kerangka ‘maintenance’ bisnis dan bahwa mereka membantu permasalahan keluarga, kesulitan pekerja, penyalahgunaan obat-obatan dan sejumlah masalah perorangan lainnya.

Wanita di Tempat Kerja.

Baik laki-laki maupun perempuan bekerja dalam bidang bisnis dan industri dengan posisi pekerjaan sosial; keduanya menjalankan secara inovatif dan contribusi substantif, membantu para pekerja secara perorangan dan keluarga-keluarganya dan membantu firmanya dalam upaya meningkatkan produktivitasnya dan kemanusiaannya. Pada saat yang sama, terbukti secara jelas bahwa para pekerja sosial perempuan secara keseluruhan bertentangan dengan diskriminasi. Perbedaan jenis kelamin selalu ada dalam sejumlah tempat kerja.

            Sebagai contoh, informasi penghasilan berdasarkan hasil survai dari tahun 1971-72 terhadap para anggota Asosiasi Nasional Pekerja Sosial (NASW) mengindikasikan bahwa perempuan memperoleh kompensasi lebih sedikit daripada laki-laki atas pelayanan yang diberikannya. Meskipun 39 persen laki-laki dilaporkan dengan pendapatan 16.000 dollar US atau lebih, hanya 20 persen perempuan (belum menikah) yang memperoleh pendapatan dengan rentang gaji yang sama. Lebih dari 50 persen perempuan yang telah menikah memperoleh penghasilan kurang dari 12.000 dolar US pertahun, bandingkan dengan 36 persen perempuan (belum menikah) dan 18 persen dari laki-laki.

            Perlakuan diskriminasi terhadap perempuan terjadi pula dalam beberapa bentuk lain. Mereka tidak memperoleh kesempatan yang sama secara dalam administratif dalam bisnis dan industri atau pada banyak seting pekerjaan sosial lainnya. Adanya kejadian perlakuan yang berbeda dalam kaitan pelecehan seksual di tempat kerja. Maypole melaporkan bahwa dalam survai cross-sectional terhadap 50 persen dari anggota Asosiasi Pekerja Sosial Nasional (NASW) negara bagian Iowa, 27 persen dari perempuan dan laki-laki yang telah disurvai dilaporkan mereka mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Suatu perbedaan perlakuan jender dilaporkan menunjukkan hasil survai bahwa satu dari tiga perempuan dan satu dari tujuh laki-laki mengalami perlakuan tersebut sebagai korban.

            Melihat kepemimpinan administratif, Jayaratne dan  Chess melaporkan pengumpulan data dari beberapa anggota Asosiasi Pekerja Sosial Nasional (NASW) sebagai bagian dari survai nasional mengenai tekanan dan ketegangan di tempat kerja. Para pekerja yang bekerja secara full time, dengan tingkat MSW, dan mengidentifikasikan diri mereka sebagai administrator atau sebagai caseworker. Meskipun jumlah laki-laki hanya terdiri dari 35.6 persen dari keseluruhan sampel, 52.8 persen administratornya adalah laki-laki. Sebaliknya, 74.1 persen dari pekerja sosial (caseworkers) adalah perempuan.

            Ozawa menjelaskan dilema budaya yang ada berkaitan dengan perempuan dan kariernya:

…nampaknya terjadi suatu schizoprenia budaya di Amerika Serikat yang menempatkan perempuan berada dalam situasi yang tidak menguntungkan (no-win situation). Dalam suatu masyarakat berorientasi-prestasi seperti kita, perempuan dianjurkan berhasil ditempat kerjanya tetapi mereka tidak benar-benar menghilangkan feminimitas mereka. Jika mereka bekerja, mereka tidak menemui standar diri penampilan mereka; jika mereka berhasil, mereka mungkin tidak akan hidup lama (diterima) dengan masyarakat yang melihat harapan peranan wanita.

            Hanlan mengamati bahwa “administrasi pekerjaan sosial secara umum diterima sebagai sebuah peranan laki-laki dalam sebuah profesi keperempuan”. Dia berpendapat bahwa kebiasaan-kebiasaan dan pemikiran stereotif perlu diubah, dan mengikuti saran-saran sebagai berikut: (1) dengan sungguh-sungguh dan tegas menolak gerakan bahwa sifat administratif kelaki-lakian yang tertutup; (2) perlu diadakan pelatihan secara khusus tentang perempuan untuk posisi manajerial; (3) perlu dipikirkan pemberian yang memungkinkan pola-pola karier yang berbeda dan dapat menempatkan mereka pada posisi manajerial dan administratif, berdasarkan latar belakang dan persiapan yang berbeda dari perempuan.

Pelatihan untuk Mahasiswa Pekerjaan Sosial.

Sejumlah sekolah pekerjaan sosial mengupayakan penekanan spesialisasi dan pelatihannya dalam seting industri. Mahasiswa pada program ini mengikuti satu atau dua tahun praktek lapangan dalam  suatu seting industri.

            Mahasiswa dalam seting industri menyediakan sebuah kesempatan yang sangat baik untuk para eksekutif, pemimpin kelompok pekerja, dan lainnya untuk mempelajari dari tangan pertama tentang apa itu pelayanan pekerjaan sosial. Pemberian pengalaman diperoleh dalam bekerja dengan perorangan, keluarga-keluarga, aktivitas masyarakat, penelitian, dan administrasi. Beberapa mahasiswa memberikan pelayanan langsung kepada para pekerja dan keluarganya, baik secara peseorangan atau kelompok. Mahasiswa lainnya, di bawah supervisi para pendidik pekerja sosial yang kompeten, membantu sebagai konsultan dalam program pengembangan untuk pencegahan masalah sosial dan pengayaan kegiatan kehidupan keluarga. Hari ini pekerjaan sosial profesional optimistik mengenai perkembangan praktek pekerjaan sosial dalam seting industri meskipun sejumlah pekerja sosial tradisional mempertanyakan kebaikan perkembangan ini.

            Jorgensen mengirimkan kuesioner kepada 150 praktisi pekerja sosial dalam seting bisnis dan industri, kepada 221 pemimpin perusahaan, dan kepada 87 sekolah pekerjaan sosial. Penilitian itu menyatakan bahwa 85 persen perusahaan yang dihubungi tidak mempekerjakan pekerja sosial dan 70 persen menunjukkan mereka tidak merencakan hal tersebut. Para pimpinan perusahaan kelihatannya tidak memiliki sikap negatif terhadap pekerja sosial, “just little knowledge of their professionals qualifications or experience with the potential impact on worker’s needs and ultimately company productivity,” Dia menyimpulkan bahwa “Nyata jelas untuk mengkomunikasikan potensi-potensi dan kelangsungan hidup praktek pekerjaan sosial dalam bisnis (perusahaan ) dan industri, tidak hanya menempatkan orang dalam dunia kerja, tetapi terhadap sekolah pekerjaan sosial dan profesionalisasinya sendiri.”

Memantapkan Pelayanan Pekerjaan Sosial Dalam Seting Industrial.

Pengalaman-pengalaman dalam mengadakan pelayanan pekerjaan sosial di perusahaan dan industri telah dilalui. Walau begitu, beberapa langkah dan saran-saran yang telah ditemuai kiranya dapat membantu termasuk hal-hal berikut :

  1. Suatu hubungan profesional adalah esensial. Para pekerja sosial membawakan bahwa dirinya adalah seseorang yang merawat manusia —para pekerja—- dan yang akan membantu memperkuat perusahaan.
  2. Sebuah sikap persahabatan yang terbuka adalah penting. Tidak ada kekuatan dan tekanan yang mendesakkan.
  3. Jelaskan manfaat potensial ekonomi jangka panjang dengan kontribusi kemanusiaan sebagai sebuah pendekatan yang menguntungkan.
  4. Fokus secara khusus pada permasalahan perorangan dan sosial mungkin efektif, seperti bolos kerja, alkoholik, penyalahgunaan obat, penganiayaan anak, dan penyakit-penyakit psikosomatis.
  5. Membagi hasil-hasil dari program pemantapan pekerjaan sosial adalah bermanfaat.
  6. Meneruskan adalah penting. Melanjutnya contact dan perhatian dapat memperoleh hasil yang diharapkan.
  7. Kepentingan memelihara kerahasiaan catatan dan wawancara seharusnya ditekankan.
  8. Kontak (Contact) perlu dibuat dengan top level eksekutif yang mempunyai kekuasaan untuk membuat keputusan dan mendorong pelayanan sosial.

 

Kesimpulan.

Praktek pekerjaan sosial dalam tempat kerja adalah menggunting sisi perubahan profesi. Kelihatannya menjadi suatu perkembangan yang menjanjikan, membuka canel baru bagi pertolongan perorangan, keluarga, dan masyarakat. Memberikan suatu cara yang membantu berjuta orang dengan mamanfaatkan keterampilan dari pekerja sosial.

            Para pekerja sosial dilatih secara profesional menyediakan pelayanan sosial bagi klien kelompok, pekerja, yang sampai sekarang ini belum dapat dijangkau dalam lingkup yang luas. Ketenagakerjaan dan dukungan dari pekerjaan sosial oleh perusahaan dan industri menciptakan suatu kesempatan yang menjanjikan bagi pekerjaan dan bantuan pelayanan sosial. Pemimpin perusahaan mengakui nilai-nilai pelayanan pekerjaan sosial, baik nilai kemanusiaan dan dari sudut biaya kemanfaatannya. Kerjasama perusahaan dan pemimpin pekerja, para pekerja sosial, dan badan-badan sosial masyarakat menunjukkan akan terdapatnya peningkatan koordinasi dalam hal penyediaan dan efektivitas penggunaan pelayanan. Pendidikan pekerjaan sosial harus mengadaptasi kepercayaan baru ini dengan menyediakan secara inovatif kelas kerja dan praktek lapangan kerja.

———————————–
Referensi Terpilih.

AKABAS, SHEILA H., PAUL A. KURZMAN, and NANCY S. KOLBEN., eds., Labor and Industrial Settings, Sites for Social Work Practice. New York: Columbia University School of Social Work, Hunter College School of Social Work, Council on Education, National Association of Social Workers, 1979.

FEINSTEIN, BARBARA BAROFF, and EDWIND GARTH BROWN, The New Partnership: Human Services, Business, and Industry. Cambridge, Mass.: Schenkman Publishing Company, Inc., 1982.

GOOGINS, BRADLEY, and JOLINE GODFREY, “Evolution of Occupational Social Work,” Social Work, 30 (September–Oktober 1985), 396-402.

GOULD, GARY M., “Developing Industrial Social Work Field Placements,” Journal of Education for Social Work, 20 (Spring 1984), 35-42.

JORGENSEN, LOU ANN BIRKBECK, “Social Work in Business and Industry,” unpublished DSW dissertation, University of Utah, Graduate School of Social Work, 1979.

OZAWA, MARTHA N. “Economics of Occupational Social Work,” Social Work, 30 (September-Oktober 1985), 442-445.

WALDEN, THEODORE, “Industrial Social Work: A Conflict in Definitions,” NASW News, 23 (September 1978),9.

WEISSMAN, ANDREW, “A Social Service Strategy in Industry,” Social Work, 20 (September 1975), 401-3.

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • DEPT. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ===============================

    Keberadaan departemen ditujukan untuk:

    1). Menjamin kompetensi dan profesionalisme Dosen dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan akademiknya;

    2). Mengembangkan, mengevaluasi dan monitoring kemajuan karier akademik Dosen untuk mendukung pengembangan pendidikan;

    3).Mengoordinasikan kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan dosen sesuai bidang kompetensinya dalam rangka merealisasikan target kinerja lembaga;

    4). Mengoordinasikan pelaksanaan kerja sama pemanfaatan kepakaran Dosen oleh pihak lain seperti Pemerintah, pemerintahan daerah, swasta atau masyarakat;

    5). Merintis dan mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional;

    6). Memfasilitasi publikasi karya-karya ilmiah Dosen;

    7). Menyelenggarakan diseminasi hasil riset, pengabdian pada masyarakat, dan inovasi melalui kegiatan ilmiah di tingkat nasional dan internasional;

    Pemimpin Departemen:

    Ketua : Dr. dra. R. Nunung Nurwati, M.Si

    Sekretaris : Dr. Nurliana C. Apsari, S.Sos., MSW