Universitas Padjadjaran

SELEBRITIS DALAM PANDANGAN KONSTRUKSI SOSIAL

Oleh: maulana irfan
May 4, 2010

Pendahuluan

Suka tidak suka, kehidupan selebritis menjadi keseharian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Keberadaan selebritis dalam kehidupan masyarakat ini bahkan menjadi sebuah menu utama dalam lingkup obrolan antar sesama masyarakat. Ini tidak bisa dihindari, fenomena artis selalu disuguhkan setiap hari terutama melalui media elektronik yang menyiarkannya dalam berbagai macam acara infotainment. Tanpa kenal lelah seolah berburu mendapatkan berita terekslusif, tayangan infotainment disuguhkan dihadapan para pemirsa dimulai dari bangun tidur  hingga malam hari misalnya, Insert, Kiss, Silet,I-Gossip dan lain-lain.

Permasalahan yang sedang dihadapi oleh para artis disuguhkan dengan gamblang, seolah tidak ada batas mana wilayah pribadi dan mana wilayah publik. Saking serunya tayangan infotainment ini, masyarakat seolah merasa kenal secara ‘dekat’ dengan para artis tersebut, masyarakat semakin ‘pintar’ dan ‘tahu’ apa yang sedang dirasakan oleh artis tersebut. Sehingga tidak jarang obrolan (terutama di kalangan ibu-ibu rumah tangga) berkisar mengenai gossip-gosip tentang artis, baik tentang perkawinan, perceraian, perselingkuhan dan lain-lainnya. Semua dibahas tuntas oleh mereka dan saling melengkapi cerita.  Sempat kami membuat survey  sebagai sample  sebelum kami membuat tulisan ini mengenai bahan obrolan mereka ditengah arisan ibu-ibu yang kebetulan kegiatannya berlangsung di rumah saya. Pertanyaan yang diajukannya singkat saja, pertama; Apa gosip yang paling enak diobrolkan?, kedua; Apa alasannya? Hasilnya adalah dari 19 ibu-ibu yang hadir seluruhnya mengatakan yang paling enak untuk diobrolkan adalah gosip tentang artis. Untuk alasannya lebih beragam namun sebagian besar sepakat mengatakan “daripada ngomongin tetangga sendiri mending ngegosipin artis, khan ga dosa!”

Menarik temuan awal yang saya coba lakukan itu untuk mengantarkan tulisan ini. Artinya bahwa fenomena kehidupan artis ini menjadi sebuah obrolan keseharian yang seolah mereka atau para selebrita tersebut adalah anggota keluarga mereka. Bahkan bisa jadi mereka lebih mengenal nama anggota keluarga Maia dan Dhani  yang terdiri dari Al, El, dan Dul dibandingkan dengan nama anak-anak dari tetangga belakang mereka.

Tayangan tentang selebritis ini seolah tidak memberi kesempatan para selebrita untuk memiliki wilayah pribadi. Para pekerja infotainment saling berlomba untuk memburu berita tentang para artis  demi mendapatkan berita terbaik dan terdepan dan demi untuk memuaskan para pemirsanya. Wajar jika seorang presenter Tamara Geraldine pernah berucap bahwa Infotainment mencari berita sampai ke ‘ranjang’. Itu adalah ungkapan kekesalan darinya, meski ia juga adalah seorang presenter gossip, sesungguhnya ia tidak menyukainya. Oleh karenanya dalam membawakan acara Kiss bersama dengan Edwin, ia tidak ingin terjebak membawakan acaranya seolah menggosipi rekan sejawatnya sesama artis. Mereka memandunya dengan gaya yang berbeda dan cenderung jenaka.

Dari sejumlah peristiwa selebritis yang dihadirkan ditengah masyarakat melalui media TV ini terutama dalam bentuk tayangan yang dihadirkan dalam infotainment adalah seutuhnya (kalau boleh menyebut sebenar-benarnya?!) tentang kehidupan mereka sehari-hari , tentang diri mereka sehari-hari dan tentang sekelumit cerita yang mengharubirukan pemirsa atas konflik yang sedang dihadapinya. Seakan semua ditelanjangi demi untuk memuaskan dahaga para pemirsa atas selebritis idolanya. Untuk itu kita belum atau tidak dapat menghindari keberpengaruhan yang terinternalisasi dalam konstruksi pemikiran masyarakat atas segala tingkah polah para selebritis tersebut. Semua berwacana, semua berpro-kontra atas peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi di lingkungan artis tersebut. Fenomena atas realita sosial inilah yang selalu disuguhkan sehari-hari dihadapan para pemirsa televisi.   Pertanyaannya adalah akankah terjadi konstruksi atas realitas secara sosial dalam masyarakat ?

Konstruksi Realita Sosial di Masyarakat

Konflik adalah fenomena sosial dan ia merupakan kenyataan bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya. Artinya masyarakat menyadari dan merasakan bahwa konflik itu muncul dalam dalam dunia sehari-hari. Konflik juga sebagai suatu proses sosial, proses perubahan dari tatanan sosial yang lama ke tatanan sosial yang berbeda. Konflik antar komunitas dalam masyarakat didefinisikan sebagai suatu kondisi wajar tetapi bila sudah melibatkan kekerasan kewajaran konflik menjadi tidak lagi. Konflik bersifat inheren dalam kesadaran masyarakat sehingga selalu ada gambaran yang nyata tentang fenomena tersebut. Bahkan masyarakat menyimpan pengalaman tentang konflik sebagai pengetahuan dan realitas sosial mereka.

Penjelasan ini adalah sebuah gambaran tatkala masyarakat menanggapi fenomena sosial dari keseharian yang mereka alami. Seperti diangkap dalam kalimat di awal tulisan, bahwa kehidupan para selebritis menjadi keseharian dalama kehidupannya, maka mau tidak mau masyarakat mengalami sebuah pengalaman baru yang terpampang di benaknya tentang peristiwa yang mungkin saja akan terjadi dalam dirinya. Ia akan mencoba menginternalisasikan dalam dirinya dan bahkan berakhir pada sebuah perubahan konstruksi sosial dirinya.

Sebelum lebih lanjut menguraikan konstruksi sosial atas kasus tersebut pemahaman konstruksi sosial terlebih dahulu akan dijelaskan. Bahwa Konsep konstruksi sosial diperkenalkan awal oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman dengan bukunya yang berjudul  ”The Social In Construction of Reality, a Treatise in  the Sociological of Knowledge” (1966).  Mereka menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu menciptkan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif. Realitas sosial berupa pengetahuan yang bersifat keseharian seperti konsep, kesadaran umum dan wacana publik merupakan hasil konstruksi sosial. Kenyataan itu sendiri bersifat plural, dinamis dan dialektis. Singkatnya bahwa realita atas sesuatu dari seseorang mungkin tidak akan sama dengan realita orang lain.

Walaupun Berger berangkat dari pemikiran Schutz, Berger jauh keluar dari fenomenologi Schutz –yang hanya berkutat pada makna dan sosialitas.  Namun demikian, Berger tetap menekuni makna, tapi dalam skala yang lebih luas, dan menggunakan studi sosiologi pengetahuan. Dalam studi ini, Berger juga memperhatikan makna tingkat kedua, yakni legitimasi. Legitimasi adalah pengetahuan yang diobyektivasi secara sosial yang bertindak untuk menjelaskan dan membenarkan tatanan sosial (Berger, 1991: 36). Legitimasi merupakan obyektivasi makna tingkat kedua, dan merupakan pengetahuan yang berdimensi kognitif dan normatif karena tidak hanya menyangkut penjelasan tetapi juga nilai-nilai moral. Legitimasi, dalam pengertian fundamental, memberitakan apa yang seharusnya ada/terjadi dan mengapa terjadi.

Berger lebih memfokuskan pada proses ketika individu menanggapi kejadian di sekitarnya berdasarkan pengalaman mereka, dan itulah yang disebut dengan konstruksi realitas secara sosial.    Dalam pandangan konstruksionisme sosial, realitas lebih berbicara tentang apa yang kita katakan saat itu. Artinya bahwa jika kita mengatakan berbeda maka akan berbeda. Sehingga dalam acuan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1990) penelitian makna melalui sosiologi pengetahuan, mensyaratkan penekunan pada “realitas” dan “pengetahuan”. Dua istilah inilah yang menjadi istilah kunci teori konstruksi sosial Kenyataan” adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomenafenomena yang memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yang kita tidak dapat meniadakannya dengan angan-angan. “Pengetahuan” adalah kepastian bahwa fenomena-fenomena itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik.

Berger menyatakan bahwa  masyarakat adalah produk dari manusia, namun masyarakat ini secara terus menerus mempunyai aksi kembali terhadap manusia (pembuatnya). Sehingga manusia pun adalah produk masyarakat. Dalam hal ini terjadi proses dialektis.  Proses dialektis inilah yang terbagi menjadi 3 tahap, yang dinyatakan oleh Berger adalah momen, yaitu :

Pertama, Eksternalisasi, yakni usaha untuk pencurahan atau ekspresi diri manusia kedalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Ini sudah menjadi sifat dasar dari manusia, Ia akan selalu mencurahkan diri ke tempat dimana Ia berada. Pada tahap ini manusia mengalamai proses penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Kedua, Objektivasi, yakni hasil yang telah dicapai, baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi. Hasil itu menghasilkan realitas objektif yang bisa jadi akan menghadapi si penghasil itu sendiri sebagai suatu aktivitas yang berada diluar dan berlainan dari manusia yang menghasilkannya. Ini adalah tahap interaksi sosial yang terjadidalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Ketiga, Internalisasi. Proses ini lebih merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh stuktur dunia sosial.Berbagai macam unsur dari dunia yang telah terobjektifkan tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas di luar kesadarannya, sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui proses internalisasi, manusia menjadi hasil dari masyarakat. (Eriyanto, 2002 : 14-15)

Berger memandang bahwa realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman ini realitas berwajah ganda/plural. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas. Setiap yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas itu dengan konstruksinya masing-masing.

Dalam Burhan Bungin, Berger menyatakan bahwa hal yang terpenting adalah pembuatan signifikasi, yakni pembuatan tanda-tanda oleh manusia. Berger dan Luckmann mengatakan bahwa  sebuah tanda (sign) dapat dibedakan dari objektivasi-objektivasi lainnya karena tujuannya yang eksplisit untuk digunakan sebagai isyarat atau indeks pemaknaan subjektif, maka objektivasi juga dapat digunakan sebagai tanda meski tidak dibuat untuk maksud itu.  Hal ini dapat didefinisikan sebagai sebuah simbol dengan nama bahasa simbol. Karena itu, bahasa menjadi penting dalam objektivasi terhadap tanda-tanda.  Berkaitan dengan hal itu, Engkus Kuswarno (2008:23)merangkumnya asumsi- asumsi  yang mendasari konstruksi realitas secara sosial adalah :

  1. Realitas tidak hadir dengan sendirinya, tetapi diketahui dan dipahami melalui pengalaman yang dipengaruhi oleh bahasa
  2. Realitas dipahami melalui bahasa yang tumbuh dari interaksi sosial pada saat dan tempat tertentu
  3. Bagaimana realitas dipahami bergantung pada konvensi-konvensi sosial yang ada
  4. Pemahaman terhadap realitas yang tersusun secara sosial membentuk banyak aspek penting dalam kehidupan, seperti aktivitas berpikir, dan berperilaku.

Selebritis dengan Realita Sosialnya

Bagian ini mencoba mengungkap beberapa ingatan pembaca tentang kisah-kisah selebrita kita di Indonesia. Kami ambil beberapa contoh kasus selebritis yang ‘agak fenomenal’ pasca-Inul. Kenapa pasca-Inul? Karena ketika  mengatakan pasca-Inul diharapkan kita memiliki kesepakatan makna komunikasi yang sama atas peristiwa Inul itu sendiri dan kami tidak usah berpanjang lebar lagi tentang pemaknaan tersebut.

Dewi Persik

Sosok ia adalah penyanyi dangdut yang berbadan mungil,langsing, dan selalu tampil seksi, seakan mem-positioning-kan bahwa dialah yang menjadi icon wanita seksi dijagat dunia dangdut saat ini dengan goyangannya yang khas disebut  “goyang gergaji”. Penampilan ini semakin menjadi-jadi terutama pasca perceraiannya dengan penyanyi dangdut pula yaitu Saiful Jamil. Berbeda dengan mantan istrinya, Saiful Jamil seolah menjadi tokoh protagonis bagi masyarakat dengan selalu berpenampilan layaknya ahli agama, berpakaian muslim (baju koko) dan selalu berkopiah disetiap kesempatan dalam tayangan infotainment. Sosok kedua insan yang sudah bercerai ini seolah menunjukan sebuah penampilan yang saling berlawanan. Sosok seksi Dewi Persik ini tak pelak menimbulkan keresahan bagi sebagian masyarakat. Sehingga tak ayal banyak  daerah yang menolak penampilan Dewi Persik ketika melakukan pertunjukannya. Bahkan beberapa ‘agenda manggung’ nya terpaksa dibatalkan berkaitan dengan tidak diberi ijin untuk manggung. Peristiwa ini membuat berang Dewi Persik, sehingga di pertengahan tahun 2007 lalu ia sempat mengancam akan membeberkan perilaku para pejabat di Kota Tangerang yang memiliki wanita-wanita simpanan. Ia menganggap para pejabat di Lingkungan Kota Tangerang adalah munafik. Berikutnya peristiwa ‘menarik’ dari seorang Dewi Persik adalah terjadinya peristiwa pelecehan seksual yang dialaminya. Seorang penggemarnya melakukan pelecehan seksual dengan menyentuh bagian payudara Dewi Persik tatkala ia baru turun dari panggung. Peristiwa tersebut tertangkap kamera wartawan Infotainment. Setelahnya, hampir seluruh program infotainment menayangkan peristiwa tersebut dan tentunya disertai pernyataan dari Dewi Persik atas kesedihannya dalam pelecehan tersebut.

Julia Perez

Tidak jauh berbeda dengan Dewi Persik, ia sebenarnya di blantika dunia selebritis terutama dalam genre music dangdut adalah pendatang baru dan di kenal dengan ‘goyang blender’. Ia sebelumnya lama tinggal di Negara Perancis. Ia terlihat lebih mengenal dan membawakan dirinya seolah ia tinggal di negara tersebut yang lebih permisif atas apapun penampilannya. Seorang Julia yang saat ini termasuk  menyandang predikat artis seksi, adalah juga aktivis pergerakan anti HIV/AIDS. Untuk menyatakan sikapnya bahwa ia konsisten dalam aktivitasnya, ia mencoba menyelipkan pesan misi dan visinya melalui peluncuran kaset album perdananya. Pesan tersebut ia wujudkan dalam bentuk pemberian bonus Kondom di Album perdana yang berjudul “Kamasutra” dengan lagu favoritnya “Belah Duren”.  Meski terjadi respon dari  masyarakat ia tetap tidak mempedulikannya, karena ia menganggap itu adalah prinsip atas misi dan visinya untuk memerangi HIV/AIDS. Sehingga tidak salah jika ia dianggap sebagai sosok seksi yang mengusung kebebasan pergaulan dan tidak salah juga untuk beberapa acara diskusi  tentang RUU Pornografi, ia di posisikan sebagai penentang dikeluarkannya RUU tersebut, sedangkan dari pihak pendukung RUU tersebut adalah Astri Ivo ( seperti yang ditayangan dalam acara Kabar Petang TVOne, Kamis, 23 Oktober 2008).

Cinta Laura

Berbeda dengan kedua artis sebelumnya, ia adalah sosok artis yang masih berusia belia dan terlihat cenderung polos dan kekanak-kanakan. Ia saat ini adalah salah satu artis muda yang laris pasca keberhasilannya dalam tayangan sinetron Cinderella. Ia yang memang dilahirkan dari seolah Ayah yang berdarah Jerman dan berIbu Indonesia, termasuk anak yang memiliki kesempatan untuk berkeliling dunia berkaitan dengan penugasan ayahnya sebagai Manager Grand Hyatt Keseharian ia di masa kecil dihabiskan di lingkungan hotel dan banyak bergaul dengan orang dari berbagai negara. Seringnya berpindah tempat atas penugasan dari ayahnya pula yang memaksa ia sulit untuk bisa berlama-lama sekolah di salah satu negara. Ini pula yang memaksa ia untuk berkomunikasi dalam bahasa Internasional yaitu Inggris. Kesempatan tinggal di Indonesia muncul ketika ia berkesempatan menjadi salah satu bintang sinetron dan kebetulan sukses. Kesuksesan ini ternyata tidak hanya terpicu oleh wajahnya yang kebule-bulean saja, tetapi berbicara kebule-bulean ini yang memikat perhatian pemirsa. Alih-alih ia tidak mampu ‘berlanggam’ bahasa Indonesia dengan baik, malah ‘langgam’ seperti itu pula yang mengorbitkan dirinya menjadi pemain sinetron laris. Bahkan kalimat itu pula yang ia jadikan sebagai ladang bisnis sampingan ia dengan dijadikan sebagai Ringtone HP, jadi kita tidak asing lagi dengan kalimat Mana Ujyan…Becuu..ek,…ga ada Ojuu..ek!

Selebritis dalam Konstruksi Realitas Sosial

Berbicara tentang artis tidak terlepas dari kontribusi media massa yang mengangkatnya. Popularitas selebritis tidak bisa dipungkiri melalui kendaraan media massa yang meliputnya. Akhirnya semua tersaji dan terpampang jelas semua perilaku atau tingkah polahnya di media massa dan ditonton bahkan dinikmati oleh masyarakat dalam keseharian mereka. Peristiwa di atas adalah beberapa contoh kasus yang menarik perhatian masyarakat. Dalam kaitannya dengan tulisan ini, mari kita lihat dalam kajian konstruksi sosial.

Dewi Persik dan Julia Perez adalah sebagai sosok realitas yang ada di masyarakat saat ini. Dengan dalih untuk menciptakan kreativitas, mereka mengekspresikannya dalam olah seni vokal yang diikuti oleh olah gerak bagian pinggul yang mereka klaim sebagai hasil ’temuan’ mereka. Masih teringat dalam benak kita tentang goyang ngebor-nya Inul          , mereka pun berlomba untuk memikat perhatian para penggemarnya dengan menciptakan Positioning-Differensiasi-Brand. Dewi Persik dengan Goyang Gergajinya dan Julia Perez dengan Goyang Blender-nya. Temuan inilah yang menjadi nilai jual mereka. Bahkan pengakuan Julia Perez istilah Goyang Blender itu ia dapatkan di kamar kecil tatkala 1 jam sebelum penampilannya di TPI. Itu adalah tahapan eksternalisasi yang sedang mereka bangun.

Persoalannya adalah bahwa dalam Berger pun telah  dinyatakan setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas. Setiap yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas itu dengan konstruksinya masing-masing. Demikian juga dengan peristiwa komunikasi yang dibangun oleh mereka. Impresi realitas sosial ini semakin menguat tatkala tingkah polahnya diliput terutama di media televisi melalui tayangan infotainment. Teori Kultivasi nampak menjadi kurang tepat dalam pemaknaan komunikasi yang dibangun pemirsa karena tayangan infotainment dianggapnya adalah peristiwa sebenar-benarnya dari sosok selebritis seperti layaknya Reality Show. Sehingga tidak salah jika pemaknaan pornografi media massa tidak saja sampai ketika media memaknakan pornoaksi ke dalam pornografi , namun kekuatan media, terutama televisi telah menyebarkan konstruksi sosial media massa kepada seluruh lapisan masyarakat, ini adalah tahapan berikutnya dari konstruksi sosial media dalam rangkaian proses konstruksi sosial media keseluruhannya. Jadi yang tampak saat ini tidak sekedar fenomena   dua artis yang memiliki kekhasan goyang pinggulnya saja , namun sebenarnya fenomena porno itu sendiri sebagai suatu bangunan sosial yang selama ini ada, hidup dan tumbuh di masyarakat. Karena itu  bukan sekedar fenomena akan tetapi sebagai ikon dari pemaknaan konstruksi sosial yang selama ini ada di masyarakat. Mereka adalah sosok penerus Inul,  hanyalah sebuah penanda dari pertanda yang menjadi persoalan besar yang bernama “porno” dimasyarakat pada umumnya. Ini adalah tahapan objektivasi sebagai sebuah pemahaman realitas sosial yang terinstitusionalisasi dalam masyarakat.

Kekuatan-kekuatan konstruksi sosial media massa terhadap khalayak tentang tingkah polah para selebritis, sampai pada media mampu menciptakan sebuah realitas sosial yang dinamakan realitas maya, serta mampu menghidupkan khalayak pada sebuah realitas yang dibangun berdasarkan kesadaran palsu (pseudo reality). Jadi kekuatan konstruksi sosial media massa mampu melumpuhkan daya kritis khalayak. Karena ternyata pasca-Inul masih terjadi perilaku sejenis yang dilakukan oleh selebritis lainnya. Jadi, persoalannya adalah ketika kemampuan massa itu digunakan untuk mengkonstruksi erotisme, maka kekuatan konstruksi sosial media akan mampu membangun sebuah kesadaran palsu khalayak bahwa erotisme adalah sebuah kebenaran. Ini adalah tahapan internalisasi, masyarakat mengalami konstruksi realitas sosialnya sehingga terjadi adanya kesepakatan makna bahwa perilaku para selebritis tersebut adalah sebuah hal yang wajar dan menjadi sebuah kebenaran.

Kekuatan kebenaran ini selalu mejadi acuan realitas keseharian masyarakat pada umumnya, sesering mereka dipertontonkan berbagai macam konflik yang terjadi atas peristiwa para artis tersebut. Sehingga menjadi wajar tatkala Dewi Persik yang selalu tampil seksi adalah salah satu artis terseksi di dunia dangdut. Wajar pula sosok ia memunculkan rasa penasaran dan rasa ingin tahu lebih dalam tentang keseksian-nya oleh salah satu penggemar dengan melakukan tindakan memegang payudaranya. Itu bisa jadi adalah sebuah proses konstruksi sosial yang dibangun oleh penggemar tersebut akan arti komunikasi seorang Dewi Persik.

Demikian pula dengan peristiwa komunikasi yang terjadi tatkala pencekalan beberapa artis yang berpakaian seksi termasuk Dewi Persik di beberapa daerah. Dewi boleh bersikap berang atas pencekalan tersebut dengan rencana menggugat Walikota Tangerang Wahidin Halim. Tetapi Dewi tidak dapat mencegah peristiwa komunikasi yang dibangunnya. Seperti yang dinyatakan oleh Carl I Hoveland  bahwa komunikasi adalah : “Communication is the process by which an individual transmit stimuly (usually verbal symbols) to modify the behavior of another individuals”. Dalam definisi ini tampak komunikasi itu sebagai proses menstimulasi dari seseorang individu terhadap individu lain dengan menggunakan lambang-lambang yang berarti, berupa lambang kata untuk mengubah tingkah laku. Dan tahap objektivasi itulah yang dinyatakan oleh seorang Walikota Tangerang dalam mengkonstruksi realitas sosial yang muncul dalam memakna bangunan sosial dari Dewi Persik.

Demikian juga dengan bangunan sosial yang diciptakan oleh Julia Perez, meski ia mencoba untuk menyatakan bahwa tindakan memberi bonus kondom adalah bagian dari kepedulian ia dalam memerangi HIV /AIDS dan tindakan ini sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam bidang KB, ia tidak bisa mengelak bahwa seorang Jupe adalah sosok artis seksi yang seronok. Sosok itulah yang terkonstruksi di benak masyarakat. Ia kurang menyadari tindakan itu berlawanan dengan budaya yang ada saat ini. Pemberian Kondom gratis masih sulit diartikan sebagai pencegahan HIV/AIDS, pemberian kondom semakin sulit ketika dinyatakan sebagai “Save Sex”. Artikulasi ‘seks yang aman’ dalam budaya kita sebagai sebuah pemaknaan bahasa adalah seks bebas. Artinya bahwa kondom dikomunikasikan sebagai alat untuk dapat melakukan pergaulan seks secara bebas namun aman. Itulah Konstruksi sosial yang terbangun di masyarakat yang menguatkan seorang Julia Perez adalah Icon artis terseksi!

Berbeda dengan Kasus Cinta Laura, Berger memandang bahwa realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman ini realitas berwajah ganda/plural. Hal yang harus diakui popularitas Cinta Laura adalah sebuah fenomena bangunan sosial yang ia miliki secara tidak sengaja. Fenomena popularitas seorang artis biasa terbangun oleh wajah Indo atau kebule-bulean, seperti dipelopori oleh artis dekade tahun 80-an Ida Iasha, sementara Cinta Laura populer dengan berbicara kebule-bulean. Berawal dari juara Top Model 2006, akhirnya ditawari untuk menjadi pemain sinetron Cinderella. Dan uniknya empat bulan pertama ia habiskan untuk belajar bahasa Indonesia. Jadilah ia tampil dengan keterbatasan kemampuan bahasa dan keterbatasan intonasi bahasa yang berlanggam Indonesia. Uniknya lagi ucapan dan gaya berbicara keriting itulah yang memikat perhatian pemirsa.

Berawal dari ketidaksengajaan itulah yang akhirnya disadari oleh pihak Cinta Laura sebagai sebuah nilai jual. Mengulang pernyataan Berger bahwa konstruksi sosial itu dapat dibentuk atau dikonstruksikan, peristiwa itulah yang menginspirasinya menjadi sebuah trademark Cinta Laura. Trademark itulah yang menjadi sebuah aset yang dianggap layak jual sehingga merasa perlu untuk dijual dalam bentuk Ringtone HP dengan kalimat Mana Ujyan…Becuu..ek,…ga ada Ojuu..ek!

Peristiwa komunikasi yang terjadi dalam ketiga kasus ini menunjukan sebuah pola pembedaan realita dari masing masing benak dirinya dengan masyarakat.  Tatkala Dewi Persik dan Julia Perez berujar bahwa penampilan adalah satu paket yang harus ia hadirkan demi mumuaskan para penggemarnya, tentu tidak akan bisa ’dipaksa’ sama bagi publik lainnya. Demikian juga dengan yang dialami Cinta Laura tatkala ia mengalami kesulitan berbicara yang terlihat ’keriting’ dalam berlanggam Indonesia, realita yang terjadi dibenak publik adalah sebuah kelucuan.

Persoalan adanya keberpengaruhan yang memunculkan reaksi konstruksi sosial adalah sebuah konsekuensi logis yang terjadi dimasyarakat, mengingat bahwa selebritis adalah Public Figure. Keberadaan mereka sebagai public figure yang terus menerus menjadi sorotan masyarakat, akan semakin tersorot jika mereka memiliki ’keunikan’ kasus. Semakin menarik kasus yang sedang menimpa mereka semakin gencar pemberitaan mereka di berbagai media. Semakin gencar pemberitaan di media semakin mudah pula akses yang dimiliki masyarakat untuk mengetahui sosok selebritis. Dan semakin mudah mereka mengakses berita selebritis semakin besar pula persoalan konflik realitas sosial yang mengkonstruksi dalam diri masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur. 2006. Analisis Teks Media; Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Burhan Bungin. 2007. Sosiologi Komunikasi; Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana  Perdana Media Group

Doyle Paul Johnson. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Engkus Kuswarno. 2008. Etnografi Komunikasi; Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung:Widya Padjadjaran

Eriyanto. 2005. Analisis Framing; Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media.  Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara

Marianne W.J & Louise J.P. 2007. Analisis Wacana ; Teori dan Metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sumber Lain :

www. Kapanlagi.com

Category: Artikel | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

Tidak ada Komentar

Leave a Reply

  • DEPT. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

    ===============================

    Keberadaan departemen ditujukan untuk:

    1). Menjamin kompetensi dan profesionalisme Dosen dalam melaksanakan tugas sesuai jabatan akademiknya;

    2). Mengembangkan, mengevaluasi dan monitoring kemajuan karier akademik Dosen untuk mendukung pengembangan pendidikan;

    3).Mengoordinasikan kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan dosen sesuai bidang kompetensinya dalam rangka merealisasikan target kinerja lembaga;

    4). Mengoordinasikan pelaksanaan kerja sama pemanfaatan kepakaran Dosen oleh pihak lain seperti Pemerintah, pemerintahan daerah, swasta atau masyarakat;

    5). Merintis dan mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian pada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional;

    6). Memfasilitasi publikasi karya-karya ilmiah Dosen;

    7). Menyelenggarakan diseminasi hasil riset, pengabdian pada masyarakat, dan inovasi melalui kegiatan ilmiah di tingkat nasional dan internasional;

    Pemimpin Departemen:

    Ketua : Dr. dra. R. Nunung Nurwati, M.Si

    Sekretaris : Dr. Nurliana C. Apsari, S.Sos., MSW